Jessica Iskandar Ungkap Titik Terendah dan Mental Breakdown

Lifestyle Clara Monica 24 Mei 2026 10:46 WIB 6
Jessica Iskandar Ungkap Titik Terendah dan Mental Breakdown

Jessica Iskandar akhirnya membuka kisah tentang fase paling kelam dalam hidupnya, ketika ia kehilangan arah dan mengalami mental breakdown. Pengakuan itu disampaikan dalam acara SOS: Strength of Sensitivity bersama AVEENO di Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Jumat, 17 April 2026.

Artis berusia 38 tahun itu mengungkapkan, tekanan dari luar membuat kondisi mentalnya semakin berat. Di tengah sorotan publik, ia mengaku sempat merasa kehilangan diri sendiri dan sulit memaafkan keadaan yang ia alami.

Kisah jujur Jessica Iskandar

Jessica mengatakan, masa itu menjadi titik terendah yang sulit dilupakan. Ia merasa berada di fase paling gelap dalam hidupnya, ketika arah hidup seolah hilang. Menurutnya, pengalaman tersebut tidak mudah untuk diucapkan, apalagi dihadapi sendirian. Karena itu, ia kini memilih lebih terbuka agar beban emosional tidak terus dipendam.

Dalam pengakuannya, Jessica menyebut bisikan dan ucapan orang di sekelilingnya ikut memperberat keadaan. Ia merasa dihakimi bahkan sebelum sempat memberi ruang untuk memaafkan dirinya sendiri. Situasi itu membuatnya makin tertekan, meski dari luar kehidupannya terlihat ceria. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa penilaian publik dapat memberi dampak besar pada kesehatan mental seseorang.

Selama ini, publik kerap melihat Jessica sebagai sosok yang penuh warna dan selalu tampak bahagia. Namun di balik penampilan itu, ia ternyata menyimpan luka yang tidak terlihat. Jessica pernah melalui perceraian, kegagalan dalam pernikahan, hingga menjadi korban penipuan dengan nilai besar. Pengalaman-pengalaman itu membentuk perjalanan emosional yang panjang dan berat.

Ibu tiga anak itu kini memilih jujur tentang perasaannya, sebagai bagian dari proses penyembuhan. Ia menilai keterbukaan dapat membantu seseorang keluar dari tekanan batin. Dalam pandangannya, mengakui luka bukan tanda lemah, melainkan langkah awal untuk pulih. Sikap ini juga menjadi pesan bahwa kesehatan mental perlu dibicarakan tanpa rasa malu.

Langkah pulih yang dipilih

Jessica menegaskan, ada dua hal yang menurutnya penting saat menghadapi masa sulit. Pertama, mendekatkan diri kepada Tuhan dan pencipta. Ia menilai kekuatan spiritual dapat memberi ketenangan di tengah situasi yang kacau. Kedua, ia memilih mencari tempat aman untuk bercerita agar beban tidak terus menumpuk.

Menurut Jessica, berbagi masalah dengan orang yang tepat dapat membuat hati lebih ringan. Ia percaya, beban emosional yang dibicarakan akan lebih mudah diproses. Cara itu, kata dia, membantunya perlahan keluar dari rasa sesak yang selama ini menekan. Dengan begitu, proses pemulihan menjadi lebih realistis dan tidak dipaksakan.

Ia juga menekankan pentingnya keberanian untuk mengakui bahwa diri sedang tidak baik-baik saja. Bagi Jessica, menutup diri justru dapat memperpanjang rasa sakit batin. Karena itu, ia mendorong siapa pun yang mengalami tekanan serupa untuk mencari dukungan. Dukungan yang tepat dapat menjadi jembatan menuju kondisi mental yang lebih stabil.

Pengalaman Jessica menunjukkan bahwa pemulihan tidak selalu berlangsung cepat. Ada proses panjang yang perlu dijalani dengan kesabaran, kesadaran, dan pendampingan yang sehat. Dalam tahap itu, kejujuran pada diri sendiri menjadi modal awal yang penting. Langkah kecil seperti berbicara dan berdoa dapat membantu seseorang kembali menemukan pegangan hidup.

Pesan tentang sensitivitas

Psikolog Indah Sundari Jayanti, M.Psi, menilai cara Jessica menghadapi sisi sensitifnya sudah tepat. Menurutnya, perempuan tidak perlu merasa malu saat memiliki sensitivitas yang tinggi. Justru dari situ, seseorang dapat lebih memahami perasaan dan kebutuhan dirinya sendiri. Pemahaman itu bisa menjadi fondasi untuk tumbuh lebih kuat.

Indah menjelaskan, ketika perempuan mampu mengakui emosinya, mereka lebih mudah mencari dukungan yang sesuai. Ruang aman untuk berekspresi juga membantu mengurangi tekanan batin. Dengan dukungan tersebut, sensitivitas tidak lagi dipandang sebagai kelemahan. Sebaliknya, sensitivitas dapat berubah menjadi kekuatan yang sehat dan produktif.

Ia menambahkan, kemampuan untuk jujur pada perasaan dapat mempercepat proses penyembuhan psikologis. Seseorang tidak harus selalu tampil kuat di hadapan semua orang. Mengakui kerentanan justru bisa membuka jalan bagi pemulihan yang lebih tulus. Karena itu, penting bagi perempuan untuk memberi ruang pada emosi tanpa takut dihakimi.

Pandangan tersebut sejalan dengan pesan yang dibawa Jessica dalam kisahnya. Keterbukaan, dukungan, dan keberanian mencari bantuan menjadi unsur penting dalam menjaga kesehatan mental. Dalam konteks ini, sensitivitas bukan hambatan, melainkan bagian dari kekuatan manusiawi. Pesan itu relevan bagi banyak orang yang tengah berjuang diam-diam.

Relevansi bagi publik

Kisah Jessica menjadi pengingat bahwa figur publik juga bisa mengalami tekanan mental yang berat. Di balik sorotan kamera, mereka tetap menghadapi luka, kegagalan, dan penilaian yang tidak selalu adil. Karena itu, kesehatan mental tidak seharusnya dipandang sebelah mata. Setiap orang, tanpa memandang status, berhak mendapat ruang aman untuk pulih.

Perbincangan tentang mental breakdown juga penting karena masih banyak orang enggan mencari bantuan. Rasa malu, takut dihakimi, atau khawatir dianggap lemah sering menjadi penghalang utama. Padahal, bantuan dari orang terdekat atau tenaga profesional dapat mencegah kondisi memburuk. Kesadaran semacam ini perlu terus diperkuat di ruang publik.

Dalam kehidupan sehari-hari, dukungan emosional dapat dimulai dari hal sederhana. Mendengarkan tanpa menghakimi, memberi waktu, dan menghormati perasaan orang lain adalah langkah yang berarti. Tindakan kecil seperti itu dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian. Dari sana, proses pemulihan bisa berlangsung lebih baik dan lebih manusiawi.

Pengakuan Jessica menambah pentingnya edukasi soal kesehatan mental di tengah masyarakat. Cerita personal yang disampaikan dengan jujur mampu membuka percakapan yang lebih luas. Pada akhirnya, keberanian untuk berbicara dapat menjadi titik awal bagi banyak orang untuk mencari pertolongan. Itulah yang membuat kisah ini tidak hanya menyentuh, tetapi juga relevan bagi publik luas.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!