Jeroan Idul Adha Picu Kolesterol dan Asam Urat

Lifestyle Anindya Kirana Putri 29 Mei 2026 19:59 WIB 6
Jeroan Idul Adha Picu Kolesterol dan Asam Urat

Olahan jeroan seperti sate hati, gulai babat, dan paru goreng kerap menjadi sajian favorit saat Idul Adha. Di balik cita rasanya yang khas, konsumsi berlebihan dapat memicu lonjakan kolesterol dan asam urat, terutama pada orang yang memiliki risiko kesehatan tertentu.

Dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa bagian hewan yang paling berisiko memang berasal dari jeroan. Meski begitu, daging biasa tetap dapat dikonsumsi secara wajar, selama tidak berlebihan dan diolah dengan tepat.

Jeroan dan risiko kesehatan

Jeroan dikenal sebagai salah satu sumber makanan tinggi purin yang dapat memengaruhi kadar asam urat. Pada sebagian orang, konsumsi berlebihan juga dapat berdampak pada peningkatan kolesterol. Karena itu, jeroan tidak disarankan disantap terlalu sering, terutama oleh mereka yang sudah memiliki riwayat gout atau dislipidemia.

dr Aru Ariadno menjelaskan bahwa dari seluruh bagian hewan, jeroan adalah yang paling berpotensi meningkatkan kolesterol dan asam urat. Penjelasan tersebut sejalan dengan karakteristik jeroan yang kaya purin dan lemak. Risiko akan semakin besar bila porsinya tidak dikontrol.

Sebuah riset yang dipublikasikan dalam jurnal Annals of the Rheumatic Diseases juga menunjukkan hasil serupa. Penelitian itu menemukan makanan tinggi purin dari sumber hewani dapat meningkatkan risiko serangan gout berulang hingga hampir lima kali lipat. Dalam analisis tersebut, organ meats atau jeroan dimasukkan ke dalam kelompok makanan tinggi purin.

Daging biasa tetap perlu batas

Berbeda dengan jeroan, daging biasa tidak otomatis menjadi pemicu utama kolesterol dan asam urat. Namun, konsumsi daging tetap dapat berdampak bila jumlahnya berlebihan atau diolah dengan cara yang kurang sehat. Karena itu, porsi makan tetap menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan.

Menurut dr Aru, daging biasa memang bisa meningkatkan kolesterol dan asam urat, tetapi pengaruhnya tidak sebesar jeroan. Hal yang lebih sering menjadi masalah adalah kebiasaan makan yang tidak terkontrol. Saat Idul Adha, pola ini kerap terjadi karena orang cenderung menyantap hidangan daging lebih banyak dari biasanya.

Ia menekankan bahwa masyarakat sebaiknya tetap makan seperti biasa dan tidak berlebihan saat Lebaran Haji. Prinsip sederhana tersebut dinilai cukup untuk membantu menekan risiko gangguan kesehatan. Dengan begitu, menikmati daging kurban tetap bisa dilakukan tanpa harus mengabaikan kebugaran tubuh.

Atur porsi saat Idul Adha

Menjaga porsi makan menjadi langkah paling praktis untuk mencegah dampak buruk dari konsumsi daging dan jeroan. Keseimbangan asupan akan membantu tubuh tetap nyaman meski di tengah sajian khas Idul Adha. Kebiasaan ini juga penting bagi orang yang memiliki riwayat kolesterol tinggi atau asam urat.

Pilihan olahan juga berpengaruh pada risiko kesehatan. Daging sebaiknya diolah dengan metode yang lebih ringan, seperti direbus, dipanggang, atau ditumis dengan sedikit minyak. Sebaliknya, makanan yang digoreng berulang kali dan terlalu berlemak sebaiknya dibatasi.

Selain itu, konsumsi sayur dan air putih perlu tetap diperhatikan agar pola makan lebih seimbang. Serat membantu tubuh mengontrol asupan lemak, sementara hidrasi yang cukup mendukung metabolisme. Dengan cara itu, hidangan kurban tetap dapat dinikmati tanpa mengabaikan kesehatan.

Tips aman menikmati kurban

Masyarakat disarankan mengenali kondisi tubuh sebelum menyantap hidangan kurban dalam jumlah besar. Mereka yang memiliki riwayat gout, kolesterol tinggi, atau gangguan metabolik perlu lebih berhati-hati. Pemeriksaan dan konsultasi medis bisa menjadi langkah bijak bila keluhan sering muncul.

Pada dasarnya, tidak ada makanan yang langsung berbahaya jika dikonsumsi dengan porsi yang sesuai. Yang menjadi masalah adalah kebiasaan berlebihan dan pola makan yang tidak terkendali. Karena itu, kesadaran untuk membatasi diri menjadi kunci utama saat Idul Adha.

Momentum berbagi daging kurban seharusnya tetap dimaknai sebagai ajang kebersamaan yang sehat. Dengan memilih porsi secukupnya, mengurangi jeroan, dan mengolah daging secara tepat, masyarakat tetap bisa menikmati hidangan khas tanpa menambah beban kesehatan. Cara sederhana ini dapat membantu menjaga tubuh tetap bugar setelah perayaan berakhir.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!