Jastip Jajanan Puncak Jadi Cuan Baru

Lifestyle Nadia Safira Putri 28 Mei 2026 07:18 WIB 2
Jastip Jajanan Puncak Jadi Cuan Baru

Jasa titip atau jastip masih menjadi peluang usaha yang menjanjikan di tengah perubahan tren belanja, termasuk untuk produk kuliner daerah. Fristo Linanggeng bersama istrinya membuktikan hal itu dengan membuka jastip jajanan Puncak, Bogor, yang kini diminati pelanggan dari berbagai daerah.

Usaha tersebut berawal dari komentar iseng di media sosial, lalu berkembang menjadi layanan yang dijalankan secara serius sejak enam bulan lalu. Meski tidak menjual makanan dari luar negeri, jastip jajanan khas Puncak tetap menarik karena banyak produk yang dinilai otentik dan sulit ditemukan di luar kawasan tersebut.

Jastip Jajanan Puncak

Fristo mengaku awalnya tidak menargetkan usaha jastip jajanan Puncak sebagai sumber cuan utama. Ide itu muncul setelah ia menerima permintaan dari warganet yang ingin menitip sate maranggi saat dirinya berada di kawasan Puncak.

Pada saat itu, hanya tiga orang yang menuliskan komentar untuk menitipkan pesanan. Semua permintaan tersebut langsung ia iyakan karena dianggap sebagai kesempatan mencoba peluang baru.

Respons yang muncul di media sosial justru melebihi dugaan. Konten jastip yang ia unggah di TikTok dan Instagram mendapatkan banyak perhatian dan menarik minat calon pembeli.

Dari situ, Fristo mulai melihat potensi yang lebih besar dalam usaha tersebut. Ia kemudian memutuskan untuk menjalankannya secara lebih serius agar jastip jajanan Puncak bisa berlanjut secara konsisten.

Berawal Dari Komentar Iseng

Fristo menuturkan bahwa kebiasaannya membaca komentar satu per satu di media sosial menjadi pintu awal usaha ini. Saat ia mengunggah konten di Puncak, salah satu komentar menyebut keinginan untuk menitip sate maranggi.

Permintaan itu datang dari tiga orang sekaligus, dan semuanya langsung diterima. Dari pengalaman sederhana itu, ia melihat bahwa minat terhadap makanan khas daerah ternyata cukup tinggi.

Ia kemudian membuat konten lanjutan untuk menjangkau lebih banyak orang. Hasilnya, video jastip yang diunggah justru ramai ditonton dan memunculkan permintaan tambahan.

Menurut Fristo, momen tersebut menjadi titik balik bagi usahanya. Ia menyadari bahwa jastip bukan hanya soal barang, tetapi juga bisa berkembang menjadi layanan kuliner yang bernilai.

Jelajah Puncak Setiap Hari

Fristo menjelaskan bahwa dirinya tinggal di Depok, sementara orang tuanya berada di Puncak, Bogor. Karena harus menemani orang tua, ia kini sementara menetap di kawasan tersebut.

Meski begitu, ia tidak meninggalkan pekerjaan tetapnya di Jakarta. Kondisi itu membuatnya harus menjalani mobilitas tinggi setiap hari untuk bekerja sekaligus mengurus pesanan pelanggan.

Perjalanan yang ditempuh pun tidak singkat, karena ia harus naik motor dari Puncak ke Bogor sebelum melanjutkan perjalanan dengan kereta. Dalam kondisi normal, waktu yang dihabiskan di perjalanan bisa mencapai sekitar tiga jam.

Rutinitas tersebut menjadi bagian dari komitmennya menjaga layanan tetap berjalan. Bagi Fristo, tantangan jarak tidak menjadi alasan untuk menghentikan peluang usaha yang sudah terbentuk.

Jastip Kuliner Masih Diminati

Kisah Fristo menunjukkan bahwa jastip kuliner daerah masih memiliki pasar yang kuat. Produk yang dianggap khas dan otentik sering kali justru dicari karena tidak mudah ditemui di tempat lain.

Puncak, Bogor, menjadi salah satu contoh kawasan yang memiliki daya tarik kuliner tersendiri. Banyak makanan daerah tersebut dinilai cocok untuk dijadikan titipan karena memiliki identitas rasa yang khas.

Tren jastip juga terus berkembang, tidak hanya pada produk luar negeri, tetapi juga pada makanan lokal. Situasi ini membuka peluang bagi pelaku usaha kecil untuk memanfaatkan media sosial sebagai etalase promosi.

Dengan strategi yang tepat, jastip dapat menjadi usaha sampingan yang menghasilkan. Pengalaman Fristo memperlihatkan bahwa peluang bisnis bisa datang dari hal sederhana yang dikelola dengan konsisten.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!