Mantan PMI Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 28 Mei 2026 08:30 WIB 2
Mantan PMI Sukses Bangun Bisnis Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia kembali membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air bukan akhir dari perjuangan ekonomi. Siti Fatimah, perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, berhasil membangun usaha jajanan tradisional berbahan singkong setelah kembali dari Hongkong pada Mei 2017.

Setelah lima tahun bekerja sebagai pekerja rumah tangga migran, Fatimah merasa penghasilannya tidak lagi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Dari tekad untuk bertahan di rumah dan menghidupi anak-anaknya sebagai orang tua tunggal, ia memulai usaha dengan modal awal Rp700 ribu.

Bisnis Singkong dari Rumah

Fatimah mulai merintis usaha pada akhir 2017 dengan membuat aneka jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Produk itu kemudian diberi nama Qtello Ayu, gabungan kata ketela dan ayu yang berarti cantik.

Pada tahap awal, ia hanya memproduksi tiga varian, yaitu ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Meski sederhana, pilihan itu menjadi pintu masuk bagi usahanya untuk dikenal lebih luas di lingkungan sekitar.

Keputusan untuk berbisnis dari rumah lahir dari keinginan kuat agar tidak kembali merantau ke luar negeri. Ia menegaskan bahwa modal Rp700 ribu harus dimanfaatkan sebaik mungkin agar bisa menghasilkan usaha yang berkelanjutan.

Dari rumah kecil di Trenggalek, Fatimah membangun pola kerja yang disiplin dan konsisten. Langkah ini menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan bisnisnya hingga bertahan selama bertahun-tahun.

Inovasi Produk Jadi Kunci

Seiring waktu, varian produk Qtello Ayu berkembang dari tiga menjadi sembilan jenis. Ragam itu mencakup sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, hingga singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu.

Fatimah tidak hanya mengandalkan cita rasa, tetapi juga tampilan yang menarik secara visual. Bahan baku yang sederhana diolah menjadi produk yang lebih inovatif dan layak dipasarkan sebagai oleh-oleh.

Inovasi tersebut membuat jajanan tradisional tampil lebih segar di tengah persaingan kuliner rumahan. Perpaduan antara resep lama dan kemasan baru menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.

Dengan pendekatan itu, produk yang semula hanya dipasarkan di sekitar rumah kini memiliki identitas merek yang lebih kuat. Qtello Ayu pun semakin mudah dikenali oleh pelanggan dari berbagai daerah.

Pemasaran Mengandalkan Relasi

Untuk menjangkau lebih banyak pembeli, Fatimah memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan promosi dari mulut ke mulut yang terbukti efektif membangun kepercayaan pelanggan.

Strategi pemasaran berbasis jaringan relasi membuat usahanya tumbuh secara organik. Cara itu membantu Qtello Ayu dikenal tanpa perlu biaya promosi yang besar.

Produk buatannya kini dipasarkan ke wilayah Tulungagung, Trenggalek, hingga luar kota seperti Surabaya, Probolinggo, dan Jakarta. Permintaan datang baik untuk konsumsi harian maupun sebagai hidangan acara.

Harga yang relatif terjangkau juga menjadi salah satu alasan produk ini diminati. Dengan banderol mulai dari Rp8 ribuan per box, jajanan singkong itu dianggap cocok untuk berbagai kebutuhan snack.

Omzet Naik, Utang Lunas

Berkat kerja keras dan konsistensi produksi, usaha Qtello Ayu kini mampu menghasilkan hingga 400 kotak per hari. Omzet hariannya rata-rata mencapai sekitar Rp1 juta, meski pada hari tertentu bisa lebih tinggi.

Fatimah mengatakan pendapatan harian usahanya kadang berada di kisaran Rp2 juta hingga Rp3 juta. Fluktuasi tersebut tetap menunjukkan bahwa bisnis rumahan bisa berkembang stabil jika dikelola dengan tekun.

Untuk memenuhi pesanan, ia tidak bekerja sendirian dan dibantu keluarga serta dua karyawan harian. Seluruh proses produksi tetap dilakukan dari rumah agar kualitas dan kesegaran produk terjaga.

Hasil usaha itu bukan hanya memperbaiki ekonomi keluarga, tetapi juga membantunya melunasi utang dan membeli mobil operasional. Salah satu anaknya bahkan telah membuka cabang Qtello Ayu di Bandung, sementara Fatimah berharap usahanya bisa hadir di lebih banyak kota.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!