Rosan Respons IHSG Anjlok usai Danantara Dibentuk

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 28 Mei 2026 09:52 WIB 2
Rosan Respons IHSG Anjlok usai Danantara Dibentuk

Chief Executive Officer Danantara, Rosan Roeslani, menanggapi pelemahan tajam Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG yang terjadi setelah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Menurut Rosan, tekanan di pasar saham tidak hanya berkaitan dengan kebijakan baru, tetapi juga dipengaruhi sentimen global dan faktor teknikal.

IHSG tercatat melemah 0,82 persen ke level 6.318,50 pada penutupan perdagangan Rabu, 20 Mei. Pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026, indeks kembali terkoreksi dan ditutup di level 6.094, atau turun 233 poin setara 3,54 persen.

Rosan Soroti Tekanan IHSG

Rosan menilai pelemahan IHSG perlu dibaca secara statistik dan tidak semata-mata dikaitkan dengan pembentukan Danantara. Ia menyebut pasar saham sedang menghadapi tekanan dari berbagai arah, termasuk pergerakan investor asing. Menurut dia, reaksi pasar juga dipengaruhi oleh penyesuaian portofolio menjelang rebalancing indeks MSCI. Karena itu, ia meminta pelaku pasar melihat kondisi secara lebih menyeluruh.

Dalam pernyataannya usai rapat di Kantor Kementerian Koordinator Perekonomian, Rosan menyebut ada saham-saham yang berpotensi terkena tekanan karena keluar dari indeks MSCI. Ia menyampaikan hal itu dapat memicu aksi jual dari investor global. Ia menegaskan dinamika tersebut lazim terjadi di pasar modal. Dengan demikian, koreksi indeks tidak bisa langsung dibaca sebagai respons tunggal atas kebijakan pemerintah.

Rosan juga mengaitkan tekanan pasar dengan sentimen eksternal yang sedang membebani banyak bursa di kawasan. Menurutnya, investor kerap merespons perubahan indeks acuan dengan cepat. Kondisi itu membuat volatilitas pasar meningkat dalam jangka pendek. Meski demikian, ia menilai hal tersebut masih wajar dalam mekanisme perdagangan saham.

Ia menambahkan, pasar saat ini juga dipengaruhi persepsi yang belum sepenuhnya stabil. Faktor tersebut membuat sebagian investor memilih bersikap hati-hati. Rosan menganggap tekanan yang terjadi lebih bersifat sementara. Oleh karena itu, ia menilai penting untuk tidak mengambil kesimpulan secara tergesa-gesa.

MSCI Picu Aksi Jual

Rosan menyebut rebalancing Morgan Stanley Capital International atau MSCI menjadi salah satu pemicu tekanan pada saham-saham tertentu. Ia menjelaskan, perubahan komposisi indeks dapat memengaruhi aliran dana asing ke pasar domestik. Saat ada emiten yang keluar dari indeks, tekanan jual biasanya meningkat. Situasi ini kemudian berdampak pada pergerakan IHSG secara keseluruhan.

MSCI sendiri telah mengumumkan hasil penyesuaian indeks yang berlaku efektif setelah penutupan pasar pada 29 Mei 2026. Dalam penyesuaian tersebut, sebanyak 18 saham Indonesia dikeluarkan dari indeks MSCI. Keputusan itu berpotensi memicu penurunan minat sebagian investor institusi global. Karena itulah, pasar merespons dengan lebih defensif.

Menurut Rosan, investor asing kerap memperhitungkan perubahan indeks acuan sebelum melakukan transaksi besar. Ketika suatu saham dikeluarkan dari indeks, permintaan bisa menurun dalam waktu singkat. Kondisi ini berdampak langsung pada harga saham dan sentimen pasar. Efek berantai dari keputusan tersebut kemudian terasa pada indeks utama seperti IHSG.

Meski begitu, Rosan menilai koreksi yang terjadi tidak mencerminkan perubahan fundamental ekonomi Indonesia. Ia menekankan bahwa pasar modal sering kali bereaksi lebih cepat dibandingkan kondisi riil di lapangan. Karena itu, penurunan jangka pendek perlu dibedakan dari tren jangka panjang. Dalam pandangannya, pasar masih memiliki ruang untuk pulih.

Fundamental BUMN Tetap Kuat

Rosan meminta investor fokus pada kinerja fundamental perusahaan, terutama emiten milik negara yang dinilainya masih solid. Ia mencontohkan bank-bank Himbara yang disebut tetap mencatat performa positif. Menurut dia, imbal hasil atau yield sejumlah bank BUMN masih berada di level tinggi. Hal itu menunjukkan daya tahan bisnis yang masih kuat.

Ia mengatakan, evaluasi terhadap saham sebaiknya dilakukan dengan melihat kinerja keuangan secara berkelanjutan. Kinerja yang baik, menurut Rosan, akan lebih penting dibanding gejolak harian di bursa. Karena itu, investor diminta tidak hanya terpaku pada pergerakan indeks. Pendekatan jangka panjang dinilai lebih relevan dalam membaca peluang investasi.

Rosan juga menegaskan bahwa fundamental ekonomi nasional masih berada pada jalur yang baik. Ia menyebut perusahaan pelat merah tetap memiliki posisi yang kuat di tengah tekanan pasar. Optimisme itu, menurut dia, perlu dijaga agar pasar tidak terlalu terpengaruh oleh sentimen sesaat. Ia menilai keyakinan terhadap emiten berkualitas akan membantu pemulihan pasar.

Dalam penjelasannya, Rosan menggarisbawahi bahwa kekuatan fundamental akan terlihat lebih jelas dalam jangka menengah dan panjang. Ia percaya investor pada akhirnya akan kembali pada data dan kinerja perusahaan. Dengan basis ekonomi yang masih kuat, ia melihat peluang pemulihan tetap terbuka. Pandangan itu menjadi landasan optimisme terhadap pasar modal Indonesia.

Prospek Pasar Jangka Panjang

Rosan menilai pasar saham akan bergerak lebih sehat setelah tekanan teknikal dan sentimen mereda. Ia memperkirakan pemulihan dapat terjadi secara bertahap seiring stabilnya persepsi investor. Menurut dia, pasar modal memang kerap mengalami fase koreksi sebelum kembali menguat. Karena itu, kondisi saat ini tidak perlu dibaca secara berlebihan.

Ia menyebut faktor persepsi di pasar sering kali lebih cepat berubah dibanding fundamental perusahaan. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung menunggu kepastian sebelum kembali masuk. Namun, Rosan percaya arus modal akan membaik jika kinerja emiten tetap terjaga. Hal ini berlaku terutama pada saham-saham dengan basis bisnis yang kuat.

Menurut Rosan, kinerja BUMN dapat menjadi penyangga penting bagi kepercayaan investor. Ia menilai perusahaan pelat merah masih memiliki ruang pertumbuhan yang baik. Dengan dukungan fundamental yang kuat, pasar dinilai lebih siap menghadapi guncangan eksternal. Prospek tersebut menjadi modal penting bagi pemulihan IHSG.

Rosan menegaskan bahwa optimisme jangka panjang perlu dijaga meski pasar sedang tertekan. Ia percaya data fundamental akan kembali menjadi acuan utama investor. Dalam pandangannya, koreksi saat ini hanyalah bagian dari siklus pasar. Jika faktor eksternal mereda, IHSG berpeluang bergerak lebih stabil ke depan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!