Investasi Digital China di Indonesia Bawa Peluang dan Risiko

Teknologi BRH 30 Mei 2026 05:23 WIB 5
Investasi Digital China di Indonesia Bawa Peluang dan Risiko

Meningkatnya investasi China di sektor teknologi digital Indonesia dinilai membuka peluang besar bagi percepatan transformasi ekonomi nasional. Namun, para pakar mengingatkan bahwa arus investasi tersebut juga dapat memunculkan tantangan serius terhadap kedaulatan digital, keamanan data, dan kemandirian infrastruktur teknologi.

Sejumlah narasumber menilai pemerintah perlu memperkuat regulasi, memperluas kerja sama dengan mitra dari negara lain, serta memastikan vendor asing tunduk pada aturan Indonesia. Fokus utama yang disorot mencakup perlindungan data pribadi, diversifikasi rantai pasok, dan penguatan kapasitas siber agar Indonesia tidak bergantung pada satu negara dalam pembangunan digital.

Investasi Digital China

Perwakilan Forum Sinologi Indonesia, Johanes Herlijanto, menilai dominasi investasi digital China dapat mempercepat transformasi digital Indonesia. Ia menyebut percepatan itu penting bagi pembangunan ekonomi berbasis teknologi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa ketergantungan berlebihan pada satu sumber investasi berisiko menggerus kedaulatan digital nasional.

Johanes menekankan perlunya diversifikasi rantai pasok untuk infrastruktur digital strategis. Menurut dia, pemerintah harus menghindari kondisi ketika satu vendor atau satu negara menguasai sistem vital. Langkah itu dinilai penting agar Indonesia tetap memiliki ruang kendali atas aset digitalnya sendiri.

Ia juga mendorong pemerintah memperluas kemitraan teknologi dengan Jepang, Korea Selatan, dan negara-negara Eropa. Kerja sama yang lebih beragam diyakini dapat memperkecil risiko ketergantungan geopolitik. Di saat yang sama, Indonesia dapat memperoleh transfer pengetahuan yang lebih luas.

Selain itu, Johanes meminta agar seluruh vendor asing mematuhi ketentuan yang berlaku di Indonesia. Aturan yang dimaksud mencakup Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, kewajiban lokalisasi data untuk sektor strategis, dan audit keamanan yang transparan. Menurut dia, kepatuhan regulasi merupakan syarat utama untuk menjaga kepentingan nasional.

Pasar Digital Indonesia

Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Nusa Putra, Prof Teddy Mantoro, menilai Indonesia berada pada posisi strategis dalam ekspansi digital China di Asia Tenggara. Ia menyebut pasar digital Indonesia sangat besar dan terus berkembang. Sektor seperti e-commerce dan teknologi finansial menjadi daya tarik utama bagi investor global.

Teddy menjelaskan kebutuhan infrastruktur digital Indonesia masih tinggi. Jaringan 5G, fiber optik, pusat data, cloud, dan smart city menjadi komponen yang semakin dibutuhkan. Kondisi ini membuat Indonesia tampil sebagai pasar penting dalam peta investasi digital dunia.

Menurut Teddy, peluang ekonomi hanya akan menjadi aset strategis jika Indonesia mampu mengubah investasi asing menjadi kapasitas domestik. Ia menegaskan bahwa pembangunan digital tidak boleh berhenti pada ketergantungan infrastruktur. Indonesia perlu memastikan adanya alih teknologi dan penguatan industri lokal.

Teddy juga menilai persaingan geopolitik kini telah bergeser ke sektor teknologi digital. Persaingan itu meliputi cloud, data, kecerdasan buatan, dan keamanan digital. Karena itu, kebijakan nasional harus mampu menjawab tantangan ekonomi sekaligus ancaman strategis.

Risiko Keamanan Siber

Sejumlah risiko disebut perlu diwaspadai Indonesia dalam menghadapi ekspansi digital China. Ketergantungan pada satu vendor untuk infrastruktur kritis dapat menjadi titik lemah yang berbahaya. Selain itu, perpindahan data strategis ke yurisdiksi asing juga menimbulkan kekhawatiran serius.

Teddy menyebut fragmentasi standar ekonomi digital di kawasan ASEAN sebagai ancaman lain yang harus diperhatikan. Tanpa standar yang jelas, integrasi ekonomi digital dapat berjalan tidak seimbang. Kondisi itu berpotensi menghambat posisi tawar Indonesia di kawasan.

Ia menilai diplomasi digital menjadi instrumen penting untuk menjaga manfaat teknologi tanpa kehilangan otonomi nasional. Diplomasi yang kuat memungkinkan Indonesia tetap bekerja sama dengan banyak pihak. Pada saat yang sama, negara tetap dapat mempertahankan ketahanan digitalnya.

Peneliti Australian Strategic Policy Institute, Gatra Priyandita, turut menyoroti proyek Digital Silk Road yang dikembangkan China. Menurut dia, proyek tersebut bertujuan memperkuat posisi China sebagai kekuatan teknologi global. Ekspor infrastruktur digital dan standar teknologi menjadi bagian penting dari strategi itu.

Kedaulatan Teknologi Nasional

Gatra menjelaskan Asia Tenggara menjadi target utama investasi digital China. Infrastruktur yang disasar mencakup 5G, cloud, pusat data, kabel bawah laut, hingga smart city. Menurut dia, pola tersebut menunjukkan besarnya ambisi China dalam membangun pengaruh teknologi di kawasan.

Ia menilai investasi itu dapat mempercepat transformasi digital di negara-negara berkembang. Namun, manfaat ekonomi tersebut harus diimbangi dengan kewaspadaan terhadap keamanan siber. Pengaruh strategis China di Asia Tenggara juga dinilai tidak boleh diabaikan.

Gatra menegaskan Indonesia perlu memperkuat regulasi perlindungan data pribadi dan meningkatkan kapasitas keamanan siber nasional. Diversifikasi vendor infrastruktur digital juga menjadi langkah yang perlu ditempuh. Dengan cara itu, Indonesia dapat mengurangi risiko ketergantungan teknologi.

Briogjen TNI Purnawirawan Victor P Tobing menambahkan bahwa penguasaan teknologi sangat penting bagi kepentingan nasional. Negara yang menguasai teknologi dinilai lebih mampu mengendalikan situasi dan mempertahankan kepentingan strategis. Ia menilai kesiapan adaptasi teknologi harus menjadi bagian dari agenda nasional di tengah rivalitas global yang semakin tajam.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!