Pemerintah terus masuk ke pasar obligasi untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah penguatan dolar Amerika Serikat. Namun, dari target pembelian obligasi negara sebesar Rp2 triliun per hari, realisasi serapan baru mencapai Rp600 miliar. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai kondisi itu menunjukkan tekanan jual di pasar obligasi belum terlalu besar. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menjaga harga surat utang tetap terkendali.
Purbaya menyampaikan intervensi tersebut dilakukan melalui cash management, bukan lewat skema stabilisasi yang lebih luas. Ia juga menyebut pemerintah masih memantau perkembangan pasar sebelum mengambil langkah lanjutan. Sementara itu, dolar AS masih menguat dan sempat menembus level Rp17.705 pada perdagangan Selasa sore. Situasi ini membuat perhatian pelaku pasar tertuju pada efektivitas intervensi pemerintah.
Intervensi Masih Bertahap
Purbaya mengatakan pemerintah mulai masuk ke pasar obligasi sejak Kamis pekan lalu. Pada tahap awal ini, langkah yang ditempuh masih bersifat bertahap dan terukur. Ia menegaskan tujuan utama kebijakan tersebut adalah memastikan harga bond tetap stabil. Menurutnya, volume penjualan yang terserap relatif kecil sehingga tekanan pasar belum berat.
Dalam keterangannya di Jakarta Pusat, Kamis (19/5/2026), Purbaya menyebut target harian Rp2 triliun belum sepenuhnya terpenuhi. Ia menjelaskan bahwa dari angka tersebut, yang berhasil dibeli pemerintah baru sekitar Rp600 miliar. Kondisi itu, kata dia, mengindikasikan minat jual di pasar belum tinggi. Pemerintah pun belum melihat kebutuhan mendesak untuk melakukan intervensi yang lebih agresif.
Purbaya juga mengisyaratkan bahwa perkembangan pasar dalam beberapa hari ke depan akan menjadi penentu arah kebijakan. Ia ingin memastikan harga obligasi negara tetap berada pada level yang terkendali. Pemerintah, menurut dia, akan terus memantau respons pasar terhadap langkah pembelian yang dilakukan. Jika situasi berubah, kebijakan lanjutan dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan.
Rupiah Masih Tertekan
Di sisi lain, penguatan dolar AS masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Pada perdagangan Selasa sore, mata uang Negeri Paman Sam itu bergerak di kisaran Rp17.700 per dolar AS. Kondisi tersebut membuat pasar valuta asing tetap waspada terhadap risiko pelemahan lanjutan. Sentimen global masih menjadi penentu penting arah pergerakan rupiah.
Purbaya sebelumnya menyatakan intervensi di pasar obligasi sebesar Rp2 triliun per hari diharapkan dapat membantu penguatan rupiah. Ia menilai langkah tersebut akan memberi dukungan kepada stabilitas nilai tukar dalam beberapa waktu dekat. Pemerintah juga berharap kehadiran investor asing dapat memperbaiki sentimen pasar. Dengan begitu, tekanan terhadap rupiah dapat mereda secara bertahap.
Meski demikian, Purbaya menilai kondisi saat ini belum masuk kategori darurat. Ia mengatakan pasar masih relatif terkendali dan belum menunjukkan gejolak yang terlalu besar. Karena itu, pemerintah memilih bergerak hati-hati agar kebijakan yang diambil tetap efektif. Pendekatan ini dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas pasar dan likuiditas.
Cash Management Dulu
Purbaya menegaskan langkah yang sedang ditempuh masih masuk dalam pengelolaan kas pemerintah. Skema ini berbeda dengan bond stabilization framework yang melibatkan pihak lain seperti PT Sarana Multi Infrastruktur atau SMI. Menurutnya, pemerintah belum perlu mengaktifkan mekanisme tersebut. Kondisi pasar saat ini masih dinilai belum separah yang dikhawatirkan.
Ia menjelaskan bahwa pemerintah memiliki dua jalur pengamanan pasar, yakni melalui framework stabilisasi dan melalui cash management sendiri. Saat ini, yang digunakan baru jalur pengelolaan kas internal. Purbaya menyebut skema yang lebih besar baru akan dipakai bila keadaan benar-benar memburuk. Untuk sementara, pemerintah memilih memanfaatkan instrumen yang sudah tersedia.
Dengan pendekatan itu, pemerintah berharap bisa menjaga harga obligasi tanpa memicu gangguan di pasar. Purbaya menilai kehati-hatian tetap diperlukan agar intervensi tidak menimbulkan efek samping. Ia juga menegaskan bahwa keputusan lanjutan akan disesuaikan dengan perkembangan pasar. Pemerintah ingin memastikan setiap langkah tetap selaras dengan kondisi aktual di lapangan.
Pasar Menunggu Arah
Pelaku pasar kini menanti apakah intervensi harian pemerintah akan meningkatkan stabilitas rupiah. Jika pembelian obligasi terus berlanjut, sentimen positif berpotensi terbentuk secara bertahap. Namun, penguatan dolar AS masih dapat menjadi penghambat utama. Pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan akan menjadi indikator penting efektivitas kebijakan.
Purbaya sebelumnya menyampaikan optimisme bahwa rupiah akan kembali menguat dalam waktu dekat. Ia menilai partisipasi asing yang mulai masuk ke bond market dapat membantu memperbaiki kondisi pasar. Pemerintah pun berkomitmen melakukan pembelian setiap hari sesuai target yang ditetapkan. Langkah itu diharapkan memberi sinyal bahwa otoritas fiskal aktif menjaga stabilitas.
Meski realisasi awal belum besar, pemerintah menilai sinyal pasar masih cukup positif. Tekanan jual yang rendah menunjukkan investor belum melakukan aksi keluar secara masif. Dalam situasi seperti ini, arah kebijakan pemerintah akan sangat bergantung pada data harian dan respons investor. Stabilitas rupiah pun masih menjadi agenda utama yang terus dipantau.
