Industri Satelit Indonesia Masuki Babak Baru Digital

Teknologi Moh. Royhan Nahado 31 Mei 2026 17:32 WIB 6
Industri Satelit Indonesia Masuki Babak Baru Digital

Industri satelit nasional dinilai memasuki babak baru seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas digital, integrasi kecerdasan buatan, dan isu kedaulatan digital di tengah dinamika geopolitik global. Indonesia disebut memiliki peluang besar untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pemain penting di kawasan Asia Pasifik.

Ketua Umum Asosiasi Satelit Indonesia periode 2026-2029, Risdianto Yuli Hermansyah, menilai peran satelit kini tidak lagi sekadar pelengkap jaringan terestrial. Menurut dia, satelit telah menjadi bagian penting dari ketahanan infrastruktur digital nasional.

Satelit dan Kedaulatan Digital

Industri satelit terus berkembang seiring kebutuhan konektivitas yang semakin beragam. Saat ini, satelit tidak hanya melengkapi infrastruktur terestrial, tetapi juga mendukung ketahanan jaringan dan keberlanjutan layanan digital nasional. Risdianto menyampaikan pandangan itu di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Ia menilai posisi geografis Indonesia sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 17.000 pulau merupakan modal strategis. Kondisi itu membuat teknologi dan layanan berbasis satelit memiliki relevansi yang sangat tinggi. Dengan populasi besar, pasar domestik juga dinilai cukup kuat untuk menopang pertumbuhan industri.

Di tengah perubahan global, isu kedaulatan digital menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia. Karena itu, penguatan kapasitas nasional dipandang penting agar industri satelit domestik tumbuh sehat. Penguatan ini mencakup teknologi, regulasi, dan sumber daya manusia.

Risdianto menegaskan bahwa pengembangan industri satelit perlu didukung integrasi antara industri, riset, talenta digital, dan kebijakan pemerintah. Menurut dia, seluruh unsur tersebut harus berjalan dalam satu strategi berkelanjutan. Tanpa sinergi, potensi besar yang dimiliki Indonesia sulit dimaksimalkan.

Peluang Satelit Asia Pasifik

Peran satelit dipandang semakin strategis untuk mendukung visi Indonesia Emas 2045. Teknologi ini dinilai penting dalam memperluas konektivitas di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal. Satelit juga dibutuhkan untuk memperkuat konektivitas maritim dan mitigasi bencana.

Indonesia memiliki modal yang cukup baik, mulai dari kebutuhan pasar, sumber daya manusia, hingga pengalaman pelaku industri. Hal itu membuka peluang bagi Indonesia untuk naik kelas di ekosistem satelit kawasan. Di Asia Pasifik, kompetisi antarnegara pun kian terbuka seiring pertumbuhan layanan digital.

Risdianto menilai industri satelit nasional tidak boleh berjalan sendiri. Kolaborasi lintas sektor diperlukan agar pengembangan teknologi dapat menjawab kebutuhan pasar yang terus berubah. Dengan arah yang tepat, Indonesia dapat memperkuat peran sebagai pusat pertumbuhan baru.

Penguatan sektor ini juga diyakini mampu mendorong pemerataan akses digital. Wilayah yang sulit dijangkau jaringan darat dapat memperoleh layanan yang lebih stabil melalui satelit. Dalam jangka panjang, hal ini dapat mendukung pemerataan ekonomi digital di seluruh daerah.

Tantangan Satelit Global

Industri satelit global saat ini menghadapi sejumlah tantangan baru. Perkembangan konstelasi satelit, integrasi jaringan satelit dan seluler, hingga ancaman keamanan siber menjadi perhatian utama. Selain itu, isu keberlanjutan pemanfaatan ruang angkasa juga semakin mengemuka.

Risdianto menilai tantangan tersebut menuntut kesiapan yang lebih besar dari Indonesia. Tanpa kesiapan yang memadai, industri nasional berisiko tertinggal dari percepatan inovasi global. Karena itu, kapasitas teknologi dan tata kelola harus dibangun secara serius.

Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan regulasi yang adaptif. Menurut dia, aturan yang tertinggal dari perkembangan teknologi akan menghambat pertumbuhan industri. Regulasi perlu memberi kepastian sekaligus ruang inovasi bagi pelaku usaha.

Di sisi lain, kebutuhan talenta digital semakin mendesak. Industri satelit membutuhkan tenaga ahli yang mampu memahami teknologi, keamanan siber, dan integrasi sistem. Tanpa dukungan sumber daya manusia yang kuat, transformasi digital akan berjalan lambat.

APSAT 2026 Jadi Sorotan

Isu-isu tersebut menjadi pembahasan utama dalam Asia Pacific Satellite Conference 2026 atau APSAT 2026. Konferensi yang diselenggarakan ASSI itu berlangsung di Fairmont Jakarta pada 12-13 Mei 2026. Forum ini mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dari dalam dan luar negeri.

Konferensi internasional edisi ke-22 itu mengangkat tema tentang masa depan ekosistem satelit. Fokus utamanya adalah kedaulatan, AI, inovasi, dan integrasi teknologi. Tema tersebut mencerminkan arah baru industri satelit yang semakin terhubung dengan ekosistem digital yang lebih luas.

Acara itu dihadiri oleh pemerintah, regulator, operator satelit, akademisi, dan mitra internasional dari kawasan Asia Pasifik. Hadir pula Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Sekretaris Jenderal Kementerian Komunikasi dan Digital, serta Kepala Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Kehadiran mereka menunjukkan besarnya perhatian terhadap masa depan industri ini.

Melalui forum tersebut, ASSI berharap ada dorongan nyata bagi penguatan industri satelit nasional. Pembahasan di APSAT 2026 diharapkan menghasilkan langkah konkret untuk memperkuat kedaulatan digital Indonesia. Dengan dukungan kebijakan, investasi, dan inovasi, sektor satelit dinilai siap memainkan peran yang lebih besar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!