Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 18:33 WIB 2
Makaila Haifa dan UNHCR Gelar Trunk Show Perempuan Pengungsi

Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional 2026, brand hijab dan busana muslim Makaila Haifa berkolaborasi dengan UNHCR untuk menggelar acara bertajuk Women's Resilience: From Surviving to Thriving. Panggung ini menghadirkan perempuan pengungsi dari Irak, Palestina, Somalia, Sri Lanka, dan Afghanistan sebagai model sekaligus seniman.

Melalui trunk show Mishka Project, acara tersebut menampilkan lima perempuan pengungsi dan satu peraga busana asal India, Revathi Prabaharan. Kegiatan ini menjadi ajang apresiasi atas ketangguhan, bakat, dan peran perempuan pengungsi yang selama ini kerap luput dari sorotan.

Kolaborasi Makaila Haifa

Makaila Haifa menggandeng UNHCR untuk menghadirkan panggung yang memberi ruang lebih luas bagi perempuan pengungsi. Kolaborasi ini dirancang untuk menegaskan bahwa mode dapat menjadi medium perubahan sosial.

Acara tersebut diselenggarakan dalam momentum Hari Perempuan Internasional 2026, sehingga membawa pesan penghormatan bagi perjuangan perempuan di berbagai situasi. Tema yang diangkat menekankan perjalanan dari bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna.

Lewat pendekatan itu, Makaila Haifa ingin menunjukkan bahwa busana muslim tidak hanya berbicara soal gaya. Brand lokal ini juga menempatkan nilai empati dan pemberdayaan sebagai bagian dari identitasnya.

UNHCR hadir sebagai mitra yang memperkuat misi kemanusiaan dalam acara ini. Kehadiran lembaga tersebut memberi legitimasi pada upaya mendukung integrasi dan visibilitas pengungsi di ruang publik.

Panggung untuk perempuan pengungsi

Mishka Project menjadi sorotan utama melalui trunk show yang melibatkan perempuan pengungsi dari Palestina, Somalia, dan Afghanistan. Para peserta tampil sebagai model yang memperagakan koleksi dengan percaya diri.

Selain menjadi model, para pengungsi juga diperlihatkan sebagai individu dengan kemampuan dan cerita hidup yang kuat. Pendekatan ini mengubah narasi yang selama ini sering melekat pada pengungsi sebagai kelompok yang hanya identik dengan kesulitan.

Revathi Prabaharan dari India turut ambil bagian sebagai peraga busana dalam pertunjukan tersebut. Kehadirannya menambah variasi representasi dan memperlihatkan semangat kolaborasi lintas latar belakang.

Penampilan para peserta mendapat perhatian karena memadukan unsur mode dengan pesan kemanusiaan. Panggung yang biasanya berfokus pada estetika, kali ini juga membawa makna sosial yang lebih dalam.

Karya fashion painting ditampilkan

Selain pertunjukan busana, acara ini juga memamerkan karya fashion painting dari para pengungsi berbakat. Karya tersebut berasal dari peserta asal Sri Lanka dan Afghanistan.

Pameran ini memperlihatkan bahwa kreativitas para pengungsi tidak terbatas pada satu bidang saja. Seni lukis mode menjadi ruang ekspresi lain yang memperkaya keseluruhan acara.

Melalui karya visual tersebut, pengunjung dapat melihat sisi personal dari para seniman. Setiap karya menghadirkan cerita, pengalaman, dan sudut pandang yang berbeda.

Penggabungan antara peragaan busana dan pameran seni memberi pengalaman yang lebih lengkap bagi audiens. Format ini membantu memperkuat pesan bahwa perempuan pengungsi memiliki potensi yang layak dihargai.

Makna di balik Mishka Project

Pendiri Makaila Haifa, Ling Hida, menjadi sosok penting di balik pengembangan Mishka Project. Melalui arahannya, proyek ini dirancang untuk membangun persepsi baru tentang pengungsi perempuan.

Ling Hida berupaya mengubah narasi yang sering menggambarkan pengungsi sebagai pihak yang serba terbatas. Sebaliknya, mereka diposisikan sebagai pribadi yang berdaya, kreatif, dan memiliki kontribusi.

Inisiatif ini juga menunjukkan bagaimana industri mode dapat berperan dalam isu kemanusiaan. Ketika panggung fashion dibuka untuk kelompok rentan, pesan inklusivitas menjadi lebih terasa.

Dengan menggabungkan busana, seni, dan advokasi, acara ini menghadirkan bentuk perayaan yang relevan dengan semangat Hari Perempuan Internasional. Peringatan tersebut tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga ruang nyata untuk memberdayakan perempuan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!