Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 18:32 WIB 2
Lima Makanan yang Dapat Meningkatkan Risiko Kanker

Kanker merupakan penyakit yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, termasuk pola makan, gaya hidup, serta paparan lingkungan. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pilihan makanan tertentu dapat berkaitan dengan meningkatnya risiko kanker pada jenis tertentu.

Ketua Umum Yayasan Kanker Indonesia, Prof. Dr. dr. Aru W Sudoyo, SpPD-KHOM, menegaskan bahwa sebagian besar faktor risiko kanker pada orang dewasa berasal dari lingkungan dan kebiasaan sehari-hari. Karena itu, memahami makanan yang berpotensi memicu kanker menjadi langkah penting untuk pencegahan sejak dini.

Makanan Pemicu Kanker

Dikutip dari berbagai sumber kesehatan, beberapa makanan dapat meningkatkan risiko obesitas dan diabetes tipe 2, dua kondisi yang kerap berkaitan dengan kanker. Ada pula makanan yang mengandung karsinogen, yaitu zat berbahaya yang berpotensi memicu pertumbuhan sel kanker.

Risiko tersebut tidak muncul secara instan, melainkan melalui proses panjang yang dipengaruhi frekuensi konsumsi dan cara pengolahan makanan. Oleh karena itu, pola makan sehari-hari perlu diperhatikan dengan lebih cermat.

Pengendalian risiko kanker tidak hanya soal menghindari makanan tertentu, tetapi juga mengatur keseimbangan gizi secara menyeluruh. Pilihan menu yang lebih alami dan minim proses menjadi salah satu cara untuk menekan paparan zat berbahaya.

Masyarakat juga perlu memahami bahwa makanan yang terlihat biasa saja dapat berubah menjadi berisiko ketika diolah dengan teknik tertentu. Kondisi ini membuat edukasi gizi menjadi bagian penting dalam pencegahan kanker.

Daging Olahan Berisiko

Daging olahan mencakup sosis, kornet, ham, dan hot dog yang telah diawetkan melalui proses pengasapan, penggaraman, atau pengalengan. Proses tersebut dapat menghasilkan senyawa karsinogenik, terutama bila menggunakan nitrit sebagai bahan pengawet.

Senyawa nitrit dapat membentuk N-nitroso, sementara proses pengasapan dapat menghasilkan Polycyclic Aromatic Hydrocarbon atau PAH. Kedua zat itu dikenal memiliki sifat karsinogenik yang patut diwaspadai.

Sejumlah ulasan ilmiah juga menunjukkan bahwa konsumsi daging merah atau daging olahan dapat meningkatkan risiko kanker lambung. Meski begitu, para peneliti masih memerlukan studi lanjutan untuk memperjelas hubungan sebab-akibat secara menyeluruh.

Konsumsi daging olahan sebaiknya dibatasi dan tidak dijadikan menu harian. Penggantian dengan sumber protein yang lebih segar, seperti ikan, telur, atau kacang-kacangan, dapat menjadi pilihan yang lebih aman.

Gorengan dan Makanan Matang

Makanan yang digoreng, terutama berbahan tepung, dapat menghasilkan akrilamida ketika dimasak pada suhu tinggi. Zat ini banyak ditemukan pada kentang goreng dan keripik kentang yang digoreng terlalu lama.

Penelitian pada hewan menunjukkan bahwa akrilamida bersifat karsinogenik dan dapat merusak DNA. Studi lain juga mengaitkannya dengan kematian sel serta peningkatan stres oksidatif di dalam tubuh.

Risiko serupa dapat muncul ketika makanan dimasak terlalu matang, khususnya daging yang dipanggang atau dibakar pada suhu tinggi. Proses ini dapat menghasilkan PAH dan heterocyclic amines atau HCA, yang sama-sama berbahaya bagi sel tubuh.

Untuk mengurangi paparan karsinogen, masyarakat dapat memilih metode memasak yang lebih aman, seperti merebus perlahan, menggunakan panci presto, atau memasak dengan suhu lebih rendah. Slow cooker juga bisa menjadi alternatif untuk menjaga kualitas makanan tanpa berlebihan memanaskan bahan pangan.

Gula, Karbohidrat, Alkohol

Makanan manis dan karbohidrat olahan, seperti roti putih, nasi putih, dan sereal manis, dapat meningkatkan risiko diabetes tipe 2 serta obesitas. Dua kondisi tersebut kemudian dapat memicu peradangan dan stres oksidatif yang berkaitan dengan kanker.

Tinjauan ilmiah pada 2019 menyebut diabetes tipe 2 dapat meningkatkan risiko kanker ovarium, payudara, dan endometrium. Temuan ini menunjukkan bahwa asupan gula berlebih tidak hanya berdampak pada metabolisme, tetapi juga pada kesehatan jangka panjang.

Alternatif yang lebih baik adalah memilih roti gandum utuh, pasta gandum utuh, dan beras merah. Bahan pangan tersebut memiliki serat lebih tinggi dan cenderung membantu menjaga kestabilan gula darah.

Alkohol juga termasuk faktor yang perlu diwaspadai karena dipecah hati menjadi asetaldehida, senyawa yang bersifat karsinogenik. Tinjauan tahun 2017 menyebut asetaldehida dapat merusak DNA, memicu stres oksidatif, dan mengganggu sistem kekebalan tubuh.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!