Indosat Soroti Lonjakan Ancaman Siber di Era AI

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 31 Mei 2026 13:51 WIB 2
Indosat Soroti Lonjakan Ancaman Siber di Era AI

Transformasi digital yang berlangsung cepat di Indonesia ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan. Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business menilai ancaman kini semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Temuan itu disampaikan dalam whitepaper berjudul A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience. Indosat Business menilai masih banyak perusahaan di Indonesia yang menghadapi resilience gap, yaitu kondisi ketika laju digitalisasi melampaui kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.

Ketahanan Siber Perusahaan

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan bisnis. Ia menyampaikan hal itu di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026.

Menurut dia, cyber resilience bukan lagi sekadar isu teknologi, melainkan bagian dari kepercayaan dan daya tahan bisnis. Perusahaan, kata dia, membutuhkan sistem yang mampu menjaga operasi tetap berjalan di tengah ancaman yang terus berkembang.

Ia menjelaskan bahwa kebutuhan enterprise saat ini tidak berhenti pada konektivitas dan perangkat digital. Dunia usaha juga memerlukan kemampuan membangun keamanan siber yang adaptif, terintegrasi, dan siap menghadapi pola serangan modern.

Indosat Business menilai pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika perusahaan bergantung pada data, layanan digital, dan jaringan yang saling terhubung. Tanpa fondasi keamanan yang kuat, transformasi digital justru dapat membuka celah baru bagi serangan siber.

Ancaman Siber Makin Kompleks

Whitepaper tersebut disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim. Ia menyebut ancaman siber berkembang jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi seiring munculnya AI-enabled fraud serta teknologi deepfake.

Menurut Charles, organisasi perlu beralih dari pendekatan reaktif menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Pendekatan ini dinilai lebih relevan untuk menghadapi serangan yang kian canggih dan berlapis.

Dalam laporan itu, Indosat Business mencatat peningkatan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Ancaman ransomware juga disebut terus meningkat, termasuk serangan terhadap pusat data nasional pada 2024 yang sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik. Kondisi ini menunjukkan bahwa serangan digital tidak hanya merugikan perusahaan, tetapi juga berpotensi mengganggu layanan masyarakat.

Risiko Kerugian Bisnis

Indeks Kesiapan Keamanan Siber Cisco 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman keamanan siber modern. Angka tersebut menggambarkan masih lebarnya jarak antara kebutuhan perlindungan dan kesiapan nyata di lapangan.

Di sisi lain, rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia diperkirakan mencapai Rp15 miliar. Beban itu tidak hanya muncul dalam bentuk kerugian finansial, tetapi juga reputasi dan kepercayaan pelanggan yang sulit dipulihkan.

Indosat Business menilai perusahaan perlu memandang keamanan siber sebagai investasi strategis, bukan biaya tambahan. Pandangan ini penting agar pengelolaan risiko dapat berjalan seiring dengan ekspansi digital yang terus dilakukan banyak organisasi.

Tekanan risiko tersebut juga membuat manajemen perusahaan perlu meningkatkan pengawasan pada aset digital yang paling kritis. Dengan demikian, gangguan pada satu titik tidak langsung menjalar ke seluruh sistem operasional.

Dorongan Penerapan UU PDP

Indosat Business menyoroti implementasi Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang mendorong perusahaan memperkuat pemantauan dan respons keamanan siber secara real-time. Aturan itu juga menuntut perusahaan melaporkan insiden keamanan dalam waktu 72 jam.

Kewajiban tersebut membuat kesiapan prosedur internal menjadi semakin penting. Perusahaan perlu memiliki mekanisme yang jelas agar penanganan insiden dapat dilakukan cepat, akurat, dan terdokumentasi dengan baik.

Whitepaper itu juga membahas strategi penguatan keamanan siber seperti Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Keduanya dinilai relevan untuk memperkuat perlindungan dari sisi teknologi sekaligus perilaku pengguna di dalam organisasi.

Indosat Business menyebut pendekatan itu penting bagi sektor strategis, mulai dari finansial, manufaktur, pemerintahan, hingga pendidikan. Melalui inisiatif ini, perusahaan didorong menjadikan ketahanan siber sebagai bagian inti dari transformasi digital dan daya saing jangka panjang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!