Indosat Soroti Kesenjangan Ketahanan Siber Perusahaan

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 08:16 WIB 7
Indosat Soroti Kesenjangan Ketahanan Siber Perusahaan

Transformasi digital yang kian masif di Indonesia ikut memperbesar risiko keamanan siber bagi perusahaan, menurut Indosat Ooredoo Hutchison melalui Indosat Business. Ancaman kini berkembang semakin kompleks, mulai dari AI fraud, deepfake, hingga ransomware yang menyasar sektor strategis nasional.

Temuan itu disampaikan dalam whitepaper bertajuk A Business-Centric Framework for Enterprise Cyber-Resilience, yang menyoroti masih adanya resilience gap di banyak perusahaan. Kondisi ini terjadi ketika laju digitalisasi bergerak lebih cepat dibanding kesiapan organisasi membangun ketahanan siber.

Ketahanan Siber Bisnis

Director & Chief Business Officer Indosat Ooredoo Hutchison, Muhammad Danny Buldansyah, menegaskan bahwa ketahanan siber kini menjadi fondasi penting bagi keberlangsungan usaha. Ia menyebut, cyber resilience bukan lagi isu teknologi semata, melainkan bagian dari kepercayaan bisnis.

Pernyataan itu disampaikan di kantor Indosat Ooredoo Hutchison, Jakarta, pada Senin, 11 Mei 2026. Menurut dia, kebutuhan perusahaan saat ini tidak cukup hanya pada konektivitas dan teknologi, tetapi juga sistem keamanan yang adaptif.

Ia menilai, perusahaan perlu membangun perlindungan yang terintegrasi agar mampu merespons ancaman modern secara cepat. Dengan begitu, operasional bisnis dapat tetap berjalan di tengah risiko digital yang terus berubah.

Ancaman Siber Kian Kompleks

Whitepaper tersebut disusun bersama pakar keamanan siber Charles Lim, yang menyoroti perubahan pola serangan dalam beberapa tahun terakhir. Menurut dia, ancaman siber bergerak jauh lebih cepat dan semakin sulit dideteksi.

Munculnya AI-enabled fraud dan teknologi deepfake membuat penipuan digital menjadi lebih meyakinkan. Kondisi ini mendorong organisasi untuk meninggalkan pendekatan reaktif yang selama ini banyak digunakan.

Charles menilai perusahaan harus beralih menuju cyber resilience yang lebih adaptif dan berkelanjutan. Strategi tersebut dinilai lebih relevan untuk menghadapi serangan yang memanfaatkan kecerdasan buatan.

Risiko Data dan Layanan Publik

Dalam laporan itu, Indosat Business mencatat lonjakan AI-related fraud hingga 1.550 persen di sektor fintech Indonesia. Modus yang digunakan antara lain deepfake dan AI voice impersonation untuk penipuan berbasis identitas.

Ancaman ransomware juga disebut terus meningkat, termasuk serangan terhadap pusat data nasional pada 2024. Insiden tersebut sempat mengganggu lebih dari 200 layanan publik dan menegaskan besarnya dampak serangan digital.

Selain itu, Cisco Cybersecurity Readiness Index 2025 menunjukkan hanya 11 persen organisasi di Indonesia yang dinilai siap menghadapi ancaman siber modern. Rata-rata kerugian akibat kebocoran data di Indonesia pun diperkirakan mencapai Rp15 miliar.

Strategi Perlindungan Perusahaan

Indosat Business juga menyoroti penerapan Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi yang mendorong perusahaan memperkuat sistem pemantauan dan respons keamanan siber secara real-time. Aturan itu turut menuntut pelaporan insiden dalam waktu 72 jam.

Whitepaper tersebut membahas sejumlah strategi penguatan, termasuk Zero Trust Architecture dan Human Firewall. Pendekatan ini dinilai penting untuk menutup celah keamanan dari sisi teknologi maupun perilaku pengguna.

Indosat Business menilai ketahanan siber harus menjadi bagian integral dari strategi transformasi digital dan daya saing jangka panjang. Di tengah berkembangnya AI dan ekonomi digital, perusahaan dinilai perlu mempercepat kesiapan agar tidak tertinggal dari ancaman yang terus berevolusi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!