Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah 3,46 persen ke level 6.370,68 pada perdagangan Selasa, 19 Mei, di tengah tekanan pada mayoritas sektor dan sentimen global yang kurang mendukung.
Meski pasar terkoreksi, investor asing masih mencatat beli bersih di pasar reguler dan seluruh pasar, sementara sejumlah emiten mengumumkan rencana buyback saham yang berpotensi menjadi penopang sentimen berikutnya.
IHSG Tertekan Sentimen Global
Pergerakan IHSG pada Selasa menunjukkan tekanan yang cukup dalam setelah hampir seluruh sektor bergerak melemah. Hanya sektor kesehatan yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan 0,55 persen.
Sektor basic industry menjadi penekan terbesar karena terkoreksi 7,30 persen. Kondisi ini menandakan pasar masih sensitif terhadap aksi ambil untung dan kekhawatiran eksternal.
Di pasar saham, beberapa emiten tetap mencatat kenaikan di tengah pelemahan indeks. Saham SRAJ naik 9,06 persen, AMRT menguat 2,12 persen, dan BRIS bertambah 4,12 persen.
Namun, tekanan terbesar datang dari DSSA yang turun 14,77 persen, disusul MORA yang melemah 9,51 persen. Saham BBCA juga terkoreksi 2,86 persen dan ikut menahan laju indeks.
Arus Asing Masih Masuk
Walau IHSG turun dalam, investor asing masih membukukan beli bersih sekitar Rp306,34 miliar di pasar reguler. Pada seluruh pasar, nilai beli bersih asing tercatat mencapai Rp260,12 miliar.
Data tersebut menunjukkan minat investor global belum sepenuhnya hilang dari pasar domestik. Arus dana asing kerap menjadi indikator penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah jangka pendek IHSG.
Di sisi lain, pasar juga menyoroti pelemahan bursa Amerika Serikat yang menambah tekanan sentimen. Dow Jones turun 0,65 persen, S&P 500 terkoreksi 0,67 persen, dan Nasdaq melemah 0,84 persen.
Pergerakan negatif di Wall Street biasanya menjadi acuan tambahan bagi investor Asia, termasuk Indonesia. Dalam situasi seperti ini, pelaku pasar cenderung lebih berhati-hati dalam melakukan transaksi harian.
Emiten Ramai Rencana Buyback
Delta Dunia Makmur Tbk atau DOID mengumumkan rencana buyback saham dengan nilai maksimal US$6 juta atau sekitar Rp104,25 miliar. Dana pembelian kembali saham tersebut akan berasal dari kas internal perseroan.
Perseroan menargetkan pembelian hingga 320,77 juta saham atau setara 4,36 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh. Pelaksanaannya akan dilakukan bertahap setelah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 24 Juni 2026.
Sementara itu, Estika Tata Tiara Tbk atau BEEF menyiapkan buyback senilai maksimal Rp100 miliar. Perseroan menargetkan pembelian kembali sekitar 333,33 juta saham melalui BCA Sekuritas secara bertahap mulai 19 Mei 2026 hingga 18 Mei 2027.
Aksi korporasi seperti buyback umumnya dipandang sebagai sinyal kepercayaan manajemen terhadap fundamental perusahaan. Di pasar yang bergejolak, langkah tersebut juga dapat membantu menstabilkan pergerakan saham tertentu.
Fokus Pasar Menanti BI
Pelaku pasar kini menunggu keputusan suku bunga Bank Indonesia untuk Mei 2026. Konsensus memperkirakan BI Rate naik menjadi 5,00 persen dari sebelumnya 4,75 persen.
Ekspektasi kenaikan suku bunga muncul di tengah tekanan terhadap rupiah yang berada di kisaran Rp17.705 per dolar AS. Situasi ini membuat investor mencermati arah kebijakan moneter dengan lebih seksama.
Dari sisi emiten, ABM Investama Tbk melaporkan laba bersih kuartal I-2026 sebesar US$14,88 juta, turun 30,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pendapatan perseroan juga turun menjadi US$222,65 juta dari sebelumnya US$250,02 juta.
Manajemen ABMM menyebut kenaikan harga bahan bakar minyak akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang menekan kinerja. Di tengah kondisi itu, perseroan tetap melanjutkan pengembangan proyek dan tambang yang diharapkan menopang pendapatan ke depan.
Rekomendasi saham hari ini: TLKM pada area beli 3020-3050, ASPR di 452-456, MYOR di 1800-1815, SMIL di 292-296, dan AMRT di 1425-1435. Seluruh keputusan investasi tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
