Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 1,10 persen ke level 6.162,04 pada perdagangan Jumat, 22 Mei. Kenaikan indeks ditopang oleh saham-saham berbasis komoditas dan tambang, terutama Merdeka Copper Gold yang melonjak 24,77 persen. Di sisi lain, tekanan datang dari saham berkapitalisasi besar yang terkoreksi dan aksi jual investor asing yang masih berlanjut.
Sentimen global relatif membantu penguatan pasar, seiring penguatan indeks utama Wall Street dan optimisme terhadap pergerakan bursa regional. Namun, pelaku pasar tetap mencermati kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis, rebalancing indeks MSCI, serta perubahan komposisi indeks FTSE Russell yang berpotensi memengaruhi arus dana asing.
IHSG Menguat Di Tengah Tekanan
Penguatan IHSG terutama ditopang oleh saham-saham komoditas dan tambang yang mencatat kenaikan signifikan. Merdeka Copper Gold menjadi penopang utama setelah melesat 24,77 persen, disusul Emas Antam Indonesia yang naik 19,67 persen. Bumi Resources Minerals juga ikut menguat 11,50 persen dan memperkuat arah positif indeks.
Meski demikian, pergerakan indeks tidak sepenuhnya ditentukan oleh saham penggerak sektor tambang. Sejumlah saham berkapitalisasi besar justru menjadi penahan laju indeks, di antaranya Telkom Indonesia yang turun 2,67 persen. Astra International terkoreksi 3,57 persen dan Bayan Resources melemah 4,53 persen.
Secara sektoral, mayoritas indeks sektoral bergerak di zona hijau sepanjang perdagangan. Sektor basic industry memimpin kenaikan dengan lonjakan 6,85 persen, menunjukkan minat beli yang kuat pada saham-saham tertentu. Sebaliknya, sektor keuangan menjadi penekan terdalam setelah melemah 0,28 persen.
Aksi jual asing masih membayangi perdagangan domestik dan menahan euforia penguatan indeks. Investor asing membukukan jual bersih Rp1,07 triliun di pasar reguler dan Rp309,45 miliar di seluruh pasar. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar global masih selektif dalam menyikapi prospek pasar saham Indonesia.
Sentimen Global Menopang Pasar
Penguatan pasar saham Indonesia turut mendapat dukungan dari bursa Amerika Serikat. Dow Jones naik 0,58 persen ke level 50.579, S&P 500 bertambah 0,37 persen menjadi 7.473, dan Nasdaq menguat 0,19 persen ke posisi 26.343. Pergerakan tersebut memberi sinyal risk appetite yang relatif membaik di pasar global.
Meski begitu, pelaku pasar masih berhati-hati karena sejumlah agenda penting akan memengaruhi arah perdagangan. Investor menanti perkembangan kebijakan sentralisasi ekspor komoditas strategis melalui PT DSI. Kebijakan ini dipandang dapat berdampak pada emiten terkait dan arus perdagangan komoditas ke depan.
Pasar juga menunggu dampak rebalancing indeks MSCI yang akan efektif mulai 1 Juni. Menjelang periode tersebut, ETF EIDO bergerak relatif mendatar di level 0,08 persen. Sementara itu, MSCI Indonesia justru turun 0,95 persen dan mencerminkan sikap hati-hati investor terhadap komposisi baru indeks.
Dari sisi global lainnya, perubahan pada indeks FTSE Russell juga menjadi perhatian utama. FTSE Russell resmi mengeluarkan Dian Swastatika Sentosa dari indeks Large Cap, serta mencoret DAAZ, HILL, dan MLIA dari indeks Micro Cap. Perubahan ini menambah sorotan terhadap saham-saham yang masuk radar indeks internasional.
FTSE Russell Ubah Komposisi
FTSE menilai struktur kepemilikan saham Dian Swastatika Sentosa terlalu terkonsentrasi. Porsi kepemilikan HSC disebut mencapai 95,76 persen sehingga tidak lagi memenuhi kriteria indeks Large Cap. Kondisi tersebut membuat saham tersebut harus keluar dari komposisi indeks yang dipantau investor global.
Untuk DAAZ, FTSE menilai perseroan belum memenuhi ketentuan minimum saham publik. Sementara HILL dan MLIA dikeluarkan karena aktivitas perdagangan yang tidak biasa. Evaluasi tersebut menunjukkan pentingnya likuiditas dan struktur kepemilikan dalam penilaian indeks internasional.
Perubahan komposisi FTSE Russell berpotensi memicu arus dana asing keluar yang cukup besar. Nilainya diperkirakan lebih dari US$2,86 miliar jika penyesuaian dilakukan sesuai bobot indeks. Kapitalisasi pasar Indonesia di FTSE juga diproyeksikan turun di bawah US$88,15 miliar.
Jumlah emiten Indonesia dalam indeks FTSE juga diperkirakan menyusut dari 39 menjadi 35 perusahaan. FTSE masih membuka kemungkinan revisi hingga penutupan perdagangan 5 Juni sebelum komposisi final berlaku efektif pada 22 Juni 2026. Pasar pun akan terus memantau apakah ada perubahan tambahan menjelang tenggat tersebut.
Aksi Korporasi Emiten
Singaraja Putra Tbk berencana menerbitkan 721,50 juta saham baru melalui rights issue. Rencana tersebut akan dibawa ke persetujuan rapat umum pemegang saham pada 26 Mei mendatang. Jika terlaksana, aksi korporasi ini akan menjadi langkah penting dalam ekspansi bisnis perseroan.
Dengan asumsi harga pelaksanaan Rp5.000 per saham, dana yang dihimpun berpotensi digunakan untuk mendukung akuisisi PT Kemilau Mulia Sakti. Nilai transaksi akuisisi tersebut diperkirakan sekitar Rp1,73 triliun. PT Kemilau Mulia Sakti merupakan anak usaha Petrosea yang menjadi objek strategis dalam skema pembelian ini.
Dalam transaksi itu, SINI akan membayar Rp1,51 triliun secara tunai pada saat penyelesaian akuisisi. Sisa kewajiban sebesar Rp218,40 miliar ditambah bunga 7,5 persen per tahun akan dibayar bertahap hingga akhir 2028. Posisi kas dan setara kas perseroan per 2025 tercatat hanya Rp33,56 miliar.
Di sisi lain, aksi korporasi yang lebih defensif datang dari Indocement Tunggal Prakarsa melalui pembagian dividen tunai. Perseroan menetapkan dividen tahun buku 2025 sebesar Rp468 per saham atau total Rp1,54 triliun. Nilai tersebut setara 68,35 persen dari laba bersih perusahaan.
Dividen dan Rekomendasi
Meski pendapatan Indocement turun 4,40 persen secara tahunan menjadi Rp17,73 triliun, laba bersih justru meningkat 12,04 persen menjadi Rp2,25 triliun. Laba per saham juga naik menjadi Rp674,50 dari sebelumnya Rp591,49. Kinerja ini memberi ruang bagi perseroan untuk tetap menjaga pembagian dividen yang besar.
Pada penutupan perdagangan terakhir, saham INTP berada di level Rp4.900 per saham. Dengan posisi tersebut, dividend yield tercatat sekitar 9,55 persen, sehingga menarik bagi investor yang mengejar pendapatan dividen. Dari sisi valuasi, saham ini diperdagangkan pada PBV 0,74 kali dan PER 7,64 kali trailing twelve months.
Jadwal cum dividen ditetapkan pada 3 Juni, sedangkan pembayaran dividen akan dilakukan pada 19 Juni 2026. Informasi ini menjadi salah satu katalis yang berpotensi menopang minat pelaku pasar terhadap saham INTP. Bagi investor jangka menengah, kombinasi laba yang tumbuh dan dividen besar menjadi perhatian utama.
Sejumlah saham juga masuk radar rekomendasi harian, termasuk TINS, ADMR, INDY, WIFI, dan DEWA. Rekomendasi tersebut mencantumkan area beli, target harga, dan batas risiko yang perlu dicermati investor. Meski demikian, keputusan investasi tetap harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing pelaku pasar.
