Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei. Penguatan ini ditopang oleh saham perbankan dan otomotif, meski tekanan jual asing masih membayangi pergerakan pasar.
Di tengah liburnya bursa Amerika Serikat karena Memorial Day, pelaku pasar juga mencermati sentimen geopolitik dan perkembangan kebijakan ekspor. Sejumlah emiten besar, termasuk BRI, BCA, Astra, hingga SMAR, turut menjadi perhatian investor.
IHSG dan Sentimen Pasar
IHSG bergerak positif setelah saham-saham berkapitalisasi besar kembali menjadi penopang utama. PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk naik 3,93 persen, PT Bank Central Asia Tbk menguat 3,39 persen, dan PT Astra International Tbk bertambah 3,70 persen.
Meski demikian, tekanan pada beberapa saham masih cukup dalam. PT Barito Pacific Tbk melemah 7,79 persen, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk turun 11,93 persen, dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk terkoreksi 9,12 persen.
Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Kondisi ini menunjukkan bahwa minat beli domestik belum sepenuhnya mampu meredam arus keluar dana asing.
Dari sisi sektoral, enam sektor berhasil bertahan di zona hijau. Sektor transportasi menjadi penopang terbesar dengan kenaikan 3,83 persen, sedangkan sektor energi terkoreksi paling dalam sebesar 2,04 persen.
Arah Pergerakan IHSG
Untuk perdagangan berikutnya, IHSG diperkirakan bergerak terbatas karena pasar masih menimbang sejumlah sentimen eksternal. Pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik, sehingga memberi ruang bagi sentimen positif.
Di sisi lain, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 juga menjadi perhatian investor. Kebijakan tersebut dinilai akan memengaruhi arah ekspektasi pelaku pasar terhadap sektor terkait.
Meski ada peluang penguatan, aksi ambil untung menjelang libur panjang bursa masih berpotensi menekan indeks. Tekanan ini biasanya muncul saat investor memilih mengamankan keuntungan jangka pendek sebelum pasar kembali aktif.
Sentimen tambahan datang dari MSCI Indonesia offshore yang tercatat menguat 1,70 persen. Pergerakan ini memberi dukungan psikologis bagi pasar domestik yang tengah menjaga momentum pemulihan.
Kinerja Emiten Pilihan
Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming. Melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia, konsorsium ini akan menggarap proyek PSEL Danantara di Denpasar Raya dan Bogor Raya.
Zhejiang Weiming dikenal sebagai salah satu operator pengolahan sampah menjadi energi listrik terbesar di dunia. Pada 2025, perusahaan tersebut memproduksi listrik berbasis sampah sebesar 4,62 miliar kWh.
Kerja sama itu membuka peluang pendapatan berulang bagi SOFA. Skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun dengan PT PLN (Persero) menggunakan tarif tetap US$0,20 per kWh menjadi salah satu daya tarik utama.
Sementara itu, Millennium Pharmacon International Tbk atau SDPC menargetkan pendapatan Rp5 triliun pada 2026. Perseroan juga memperkirakan laba bersih naik menjadi Rp60 miliar dari proyeksi sebelumnya Rp38,46 miliar.
Dividen dan Rekomendasi
Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR menetapkan dividen tunai tahun buku 2025 sebesar Rp270 per saham. Total dividen yang dibagikan mencapai Rp775,49 miliar atau setara 30 persen laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.
Sepanjang 2025, SMAR membukukan pendapatan Rp86,95 triliun, naik 10,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan juga melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2,58 triliun, sementara laba per saham meningkat menjadi Rp900.
Pada penutupan perdagangan 25 Mei 2026, saham SMAR berada di level Rp5.225 per saham. Dengan harga tersebut, indikasi dividend yield berada di kisaran 5,17 persen, sedangkan cum date dijadwalkan pada 4 Juni.
Sejumlah saham juga masuk daftar rekomendasi harian, yakni BRIS, INDF, PGAS, SSIA, dan ISAT. Rekomendasi tersebut bersifat informatif dan perlu disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor.
