IHSG Menguat ke 6.206,35, Saham Bank dan Otomotif Menguat

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 30 Mei 2026 21:59 WIB 2
IHSG Menguat ke 6.206,35, Saham Bank dan Otomotif Menguat

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup menguat 0,72 persen ke level 6.206,35 pada perdagangan Senin, 25 Mei, ditopang saham perbankan dan otomotif. Penguatan ini terjadi di tengah aksi jual bersih investor asing yang masih membebani pasar, serta perhatian pelaku pasar terhadap libur bursa Amerika Serikat karena Memorial Day.

Di tengah pergerakan indeks yang terbatas, pasar juga mencermati kabar perkembangan negosiasi Iran dan Amerika Serikat yang berpotensi meredakan ketegangan geopolitik. Selain itu, penundaan implementasi penuh kebijakan ekspor DSI hingga awal 2027 ikut menjadi sentimen yang diawasi investor untuk perdagangan berikutnya.

IHSG dan Sentimen Pasar

Penguatan IHSG didorong oleh kinerja saham perbankan besar, seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk yang naik 3,93 persen dan PT Bank Central Asia Tbk yang menguat 3,39 persen. Saham PT Astra International Tbk juga bertambah 3,70 persen, sehingga menopang pergerakan indeks secara keseluruhan.

Meski demikian, tekanan pada sejumlah saham unggulan masih terasa, terutama PT Barito Pacific Tbk yang melemah 7,79 persen dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk yang turun 11,93 persen. PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk juga terkoreksi 9,12 persen, menandakan seleksi saham tetap berlangsung ketat.

Investor asing tercatat melakukan jual bersih Rp2,09 triliun di pasar reguler dan Rp2,22 triliun di seluruh pasar. Kondisi ini menunjukkan kehati-hatian pelaku pasar masih tinggi, meskipun enam dari sebelas sektor berhasil ditutup di zona hijau.

Sektor transportasi menjadi penopang utama dengan kenaikan 3,83 persen, sementara sektor energi terkoreksi paling dalam sebesar 2,04 persen. MSCI Indonesia offshore yang naik 1,70 persen turut memberikan tambahan sentimen positif bagi pasar domestik.

Kinerja Emiten Pilihan

Solusi Environment Asia Tbk atau SOFA resmi bergabung dalam konsorsium proyek Waste to Energy bersama Zhejiang Weiming melalui anak usaha PT Ananta Energi Asia. Konsorsium ini akan menggarap dua proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik Danantara di wilayah Denpasar Raya dan Bogor Raya.

Zhejiang Weiming dikenal sebagai salah satu operator PSEL terbesar di dunia, dengan produksi listrik berbasis sampah mencapai 4,62 miliar kWh pada 2025. Kolaborasi tersebut membuka peluang pertumbuhan bisnis baru bagi SOFA melalui pengelolaan proyek energi berbasis limbah.

Skema Power Purchase Agreement selama 30 tahun dengan PT PLN (Persero) menjadi daya tarik utama kerja sama ini. Tarif tetap sebesar US$0,20 per kWh berpotensi menciptakan pendapatan berulang bagi perseroan dalam jangka panjang.

Dari sisi fundamental, pasar menilai proyek ini dapat memperkuat posisi SOFA di sektor energi terbarukan yang mulai berkembang. Sentimen tersebut menjadi penting karena investor kini semakin memperhatikan emiten yang memiliki prospek arus kas berkelanjutan.

Dividen dan Prospek Bisnis

Millennium Pharmacon International Tbk atau SDPC menargetkan pendapatan Rp5 triliun pada 2026, naik 21,68 persen dari target 2025 sebesar Rp4,1 triliun. Perseroan juga memperkirakan laba bersih meningkat menjadi Rp60 miliar dari proyeksi sebelumnya Rp38,46 miliar.

Untuk mencapai target tersebut, SDPC tengah merampungkan gudang pusat di Bekasi yang akan meningkatkan kapasitas hingga tiga kali lipat. Progres pembangunan telah mencapai 95 persen dan kini memasuki tahap akhir penyelesaian.

Perseroan juga menyiapkan ekspansi cabang di Kupang dan Kendari untuk memperluas jangkauan distribusi. Masing-masing cabang diperkirakan dapat menyumbang pendapatan sekitar Rp5 miliar per bulan, sehingga menopang pertumbuhan bisnis ke depan.

Sementara itu, Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk atau SMAR menetapkan dividen tunai Rp270 per saham dengan total nilai Rp775,49 miliar. Jumlah itu setara dengan 30 persen laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Rekomendasi Saham Hari Ini

SMAR juga mencatat kinerja solid sepanjang 2025 dengan pendapatan Rp86,95 triliun atau tumbuh 10,29 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih perseroan naik lebih dari dua kali lipat menjadi Rp2,58 triliun, sedangkan laba per saham meningkat menjadi Rp900.

Pada perdagangan 25 Mei 2026, saham SMAR ditutup di level Rp5.225 per saham dengan indikasi dividend yield sekitar 5,17 persen. Cum date dividen dijadwalkan pada 4 Juni, sementara pembayaran dividen akan dilakukan pada 18 Juni 2026.

Untuk perdagangan hari ini, sejumlah saham masuk daftar pantauan dengan strategi beli pada area tertentu dan target harga yang telah ditetapkan. Rekomendasi tersebut mencakup BRIS, INDF, PGAS, SSIA, dan ISAT, dengan batas risiko yang disesuaikan untuk investor jangka pendek.

Investor tetap perlu mencermati volatilitas pasar, aksi ambil untung menjelang libur panjang, serta perkembangan sentimen global yang masih dinamis. Setiap keputusan investasi sebaiknya disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!