Bawang Bombay Disebut Bantu Turunkan Gula Darah

Lifestyle Clara Monica 30 Mei 2026 23:14 WIB 2
Bawang Bombay Disebut Bantu Turunkan Gula Darah

Diabetes tipe 2 ditandai oleh fluktuasi kadar gula darah yang dapat memicu kerusakan serius pada tubuh bila tidak dikendalikan. Di tengah upaya mencari penanganan pendukung, sebuah penelitian mengungkap bahwa ekstrak bawang bombay berpotensi membantu menurunkan kadar gula darah secara signifikan.

Temuan itu berasal dari riset yang dipresentasikan di San Diego dan dikutip dari Surrey Live, dengan objek uji tikus diabetes yang diberi metformin bersama ekstrak umbi bawang bombay. Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti menegaskan masih dibutuhkan kajian lanjutan sebelum temuan ini diterapkan pada manusia.

Bawang Bombay dan Gula Darah

Penelitian menunjukkan ekstrak bawang bombay, atau Allium cepa, mampu menurunkan kadar gula darah tinggi pada tikus diabetes. Efek itu terlihat ketika ekstrak diberikan bersamaan dengan obat antidiabetes metformin. Hasil tersebut dipresentasikan dalam sebuah forum ilmiah di San Diego.

Peneliti utama, Anthony Ojieh dari Delta State University di Abraka, Nigeria, menyebut bawang bombay murah dan mudah didapat. Ia menilai bahan pangan itu selama ini juga telah dimanfaatkan sebagai suplemen nutrisi. Karena itu, bawang bombay dinilai berpotensi menjadi bagian dari terapi pendukung pasien diabetes.

Namun, para peneliti tidak langsung menyimpulkan bahwa bawang bombay dapat menjadi obat untuk manusia. Pengujian masih dilakukan pada hewan laboratorium dengan kondisi yang terkontrol. Dengan demikian, hasilnya perlu dibaca sebagai indikasi awal, bukan rekomendasi klinis final.

Rincian Uji pada Tikus

Dalam penelitian tersebut, tim memberikan metformin dan ekstrak bawang bombay dalam beberapa dosis, yakni 200 mg, 400 mg, dan 600 mg per kilogram berat badan tikus per hari. Tiga kelompok tikus diabetes diinduksi secara medis untuk melihat apakah bawang bombay dapat memperkuat efek obat. Selain itu, tiga kelompok tikus non-diabetes juga ikut dibandingkan sebagai pembanding.

Setiap kelompok berisi lima tikus, sehingga peneliti dapat mengamati perubahan yang terjadi secara lebih terukur. Dua kelompok kontrol, masing-masing satu diabetes dan satu non-diabetes, tidak menerima metformin maupun ekstrak bawang. Dua kelompok lainnya hanya mendapatkan metformin, tanpa tambahan ekstrak bawang bombay.

Hasilnya menunjukkan dosis 400 mg dan 600 mg mampu menurunkan kadar gula darah puasa pada tikus diabetes secara signifikan. Penurunan yang tercatat masing-masing mencapai 50 persen dan 35 persen dibandingkan kadar awal. Meski demikian, efek yang sama belum tentu terjadi pada manusia karena respons biologis dapat berbeda.

Peluang dan Batasan Studi

Selain menurunkan gula darah pada tikus diabetes, ekstrak bawang bombay juga dikaitkan dengan peningkatan berat badan rata-rata pada tikus non-diabetes. Efek itu tidak ditemukan pada tikus diabetes. Menurut Ojieh, bawang bombay tidak tinggi kalori, tetapi diduga dapat meningkatkan laju metabolisme dan nafsu makan.

Ia menambahkan, mekanisme penurunan glukosa darah oleh bawang bombay masih perlu diteliti lebih jauh. Ilmuwan harus memastikan senyawa aktif apa yang bekerja, dan bagaimana proses biologisnya berlangsung. Tanpa penjelasan mekanistik yang jelas, pemanfaatannya pada manusia belum dapat dirumuskan secara tepat.

Ekstrak yang digunakan dalam studi tersebut dibuat dari umbi bawang yang dibeli di supermarket lokal. Jika hendak diterapkan pada manusia, bahan itu biasanya harus melalui proses pemurnian lebih dulu. Proses tersebut diperlukan agar kandungan aktifnya dapat dihitung untuk menentukan dosis yang aman dan tepat.

Cara Mengontrol Gula Darah

Kementerian Kesehatan RI mengimbau masyarakat untuk membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak sesuai anjuran harian. Batas yang disarankan adalah 50 gram per hari, atau setara dengan empat sendok makan. Pengendalian asupan ini menjadi langkah penting untuk mencegah lonjakan gula darah.

Aktivitas fisik juga perlu dilakukan secara rutin agar metabolisme tubuh tetap terjaga. Kemenkes menyarankan olahraga tiga hingga lima kali seminggu dengan durasi 30 menit hingga 45 menit. Jika memungkinkan, total aktivitas fisik dapat mencapai 150 menit per minggu tanpa jeda terlalu panjang.

Spesialis penyakit dalam dr. Erpryta Nurdia Tetrasiwi, SpPD, menekankan pentingnya evaluasi berkala agar perubahan pola hidup tidak sia-sia. Ia juga menyarankan skrining kesehatan untuk mengetahui kadar gula darah secara objektif. Pemeriksaan seperti gula darah puasa dan HbA1c dibutuhkan untuk menilai risiko prediabetes maupun diabetes melitus.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!