Sarden kalengan kembali menjadi sorotan setelah sebagian orang menilai produk tersebut bukan termasuk ultra processed food atau UPF. Praktisi kesehatan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, menegaskan bahwa pilihan paling sehat tetap real food karena proses pembuatan makanan olahan tidak selalu diketahui secara utuh.
Dalam perbincangan dengan detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026, dr Aru menjelaskan bahwa makanan olahan umumnya memakai campuran bahan tambahan yang tidak selalu bisa dikontrol keamanannya. Ia menilai, meski ada regulasi, risiko penyimpangan tetap dapat berdampak pada kesehatan masyarakat.
sarden kalengan dan kesehatan
Menurut dr Aru, makanan yang diproses secara berlebihan perlu dicermati karena bahan tambahannya dapat memengaruhi kualitas gizi. Ia menilai, semakin jauh sebuah produk dari bentuk alaminya, semakin besar pula kemungkinan munculnya masalah kesehatan.
Ia menyebut, real food tetap menjadi pilihan utama bila seseorang ingin menjaga pola makan yang lebih aman. Namun, ia juga mengakui bahwa tidak semua orang mampu mengandalkan makanan segar setiap hari.
Kesibukan membuat banyak orang tidak sempat berbelanja dan memasak sendiri. Akibatnya, makanan olahan seperti sarden kalengan kerap menjadi solusi praktis di tengah rutinitas yang padat.
Kondisi itu membuat masyarakat perlu lebih bijak memilih produk kemasan yang dikonsumsi. Informasi kandungan gizi, kadar garam, dan bahan tambahan sebaiknya selalu diperhatikan sebelum membeli.
pandangan soal real food
dr Aru menegaskan bahwa real food adalah pilihan paling ideal untuk menjaga kesehatan jangka panjang. Menurutnya, makanan dalam bentuk alami umumnya lebih mudah dipahami komposisinya oleh tubuh.
Ia menjelaskan bahwa proses pengolahan yang panjang sering kali membuat kandungan asli bahan pangan berubah. Pada titik tertentu, perubahan tersebut dapat menurunkan manfaat gizi yang semestinya diperoleh.
Karena itu, ia menyarankan masyarakat untuk lebih sering mengutamakan bahan pangan segar. Pilihan seperti sayur, buah, ikan segar, dan sumber protein alami dinilai lebih baik bila memungkinkan.
Meski begitu, ia menilai konsumsi makanan olahan tidak bisa sepenuhnya dihindari. Yang terpenting adalah membatasi frekuensi, menjaga porsi, dan memilih produk dengan komposisi yang lebih aman.
makanan olahan dan risiko
Menurut dr Aru, makanan olahan menggunakan campuran bahan yang tidak selalu dapat dikendalikan secara penuh. Ia menilai kondisi ini membuat konsumen tidak selalu mengetahui kualitas proses pembuatannya.
Ia menambahkan bahwa regulasi memang ada, tetapi peluang terjadinya penyimpangan tetap terbuka. Karena itu, masyarakat perlu bersikap kritis terhadap produk yang dikonsumsi setiap hari.
Dr Aru juga menyoroti meningkatnya kasus penyakit metabolik pada usia muda. Ia menyebut hipertensi dan diabetes kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut.
Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi peringatan agar masyarakat lebih disiplin dalam menjaga pola makan. Pilihan makanan yang tampak praktis belum tentu aman jika dikonsumsi terlalu sering.
pola makan di era sibuk
Kehidupan modern membuat banyak orang sulit mempertahankan kebiasaan memasak sendiri. Jadwal kerja yang padat sering mendorong masyarakat memilih makanan siap saji atau produk kalengan.
dr Aru memahami bahwa kondisi itu merupakan kenyataan yang dihadapi banyak keluarga. Namun, ia menilai tetap ada ruang untuk memperbaiki kebiasaan makan secara bertahap.
Langkah sederhana seperti mengurangi makanan kemasan dan menambah porsi bahan segar dinilai cukup membantu. Kebiasaan ini dapat menjadi awal untuk menekan risiko penyakit metabolik di kemudian hari.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama bukan sekadar menghindari satu jenis produk, melainkan membangun pola makan yang lebih seimbang. Dengan demikian, tubuh tetap mendapat asupan yang lebih aman meski aktivitas sehari-hari sangat padat.
