Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah tipis pada perdagangan Jumat, 29 Mei 2026, setelah sempat bergerak lebih tinggi di awal sesi. Berdasarkan data RTI, IHSG berakhir di level 6.127, turun 2 poin atau 0,05 persen.
Sepanjang perdagangan, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.230, sebelum terkoreksi dan menutup sesi di level terendah 6.111. Pergerakan ini terjadi di tengah nilai transaksi yang mencapai Rp49,94 triliun dengan volume 46,96 miliar lembar saham, dalam 2,37 juta kali transaksi.
IHSG Terkoreksi Tipis
Pelemahan IHSG terjadi meski penurunan masih tergolong terbatas. Pada pembukaan, indeks juga sudah bergerak di zona merah dan bertahan di level 6.127.
Data perdagangan menunjukkan 271 saham menguat, 409 saham melemah, dan 137 saham stagnan. Kondisi ini menegaskan tekanan jual masih lebih dominan sepanjang sesi.
Meski sempat mencatatkan level intraday yang lebih tinggi, indeks gagal menjaga momentum hingga penutupan. Aksi ambil untung menjadi salah satu faktor yang menahan laju penguatan.
Dengan penutupan tersebut, pasar saham domestik bergerak cenderung hati-hati. Pelaku pasar tampak selektif dalam merespons pergerakan emiten-emiten besar.
Bank Besar Tertekan
Tekanan pada IHSG juga tercermin dari pelemahan saham-saham perbankan di indeks LQ45. Sejumlah bank besar tercatat turun cukup dalam pada akhir perdagangan.
BBTN melemah 5,22 persen, BMRI turun 1,21 persen, BBNI terkoreksi 3,65 persen, BBRI turun 3,91 persen, dan BBCA melemah 4,60 persen. Koreksi serentak pada saham bank berkapitalisasi besar ini memberi beban tambahan bagi indeks.
Sektor perbankan kerap menjadi penopang utama IHSG, sehingga pelemahan di kelompok ini cepat terasa pada indeks acuan. Ketika saham-saham unggulan bergerak negatif, ruang penguatan IHSG menjadi semakin terbatas.
Sentimen pasar terhadap saham bank pada hari itu tampak lebih berhati-hati. Kondisi tersebut menunjukkan investor tengah mencermati katalis baru sebelum kembali melakukan akumulasi.
Sektor Energi Ikut Melemah
Selain perbankan, tekanan juga datang dari saham-saham sektor energi dan tambang. Medco Energi Internasional Tbk atau MEDC turun 3,98 persen, sementara Merdeka Copper Gold Tbk atau MDKA melemah 4,78 persen.
Pelemahan di kedua saham tersebut menambah daftar emiten yang membebani indeks. Pergerakan ini menandakan sektor komoditas belum cukup kuat menopang pasar pada perdagangan kali ini.
Dalam situasi seperti ini, investor biasanya mencermati arah harga komoditas dan prospek kinerja emiten. Ketidakpastian tersebut membuat sebagian pelaku pasar memilih menahan posisi.
Walau tekanan tersebar di beberapa sektor, pasar masih mencatat transaksi yang besar. Artinya, minat bertransaksi tetap tinggi meski arah pergerakan indeks sedang tertekan.
Transaksi Masih Ramai
Nilai transaksi yang menembus Rp49,94 triliun menunjukkan aktivitas perdagangan masih sangat aktif. Volume yang mencapai 46,96 miliar lembar saham juga mencerminkan likuiditas pasar yang terjaga.
Frekuensi transaksi sebanyak 2,37 juta kali menandakan minat pelaku pasar belum surut. Namun, tingginya aktivitas belum cukup mengangkat IHSG karena tekanan jual tetap lebih besar.
Data ini memperlihatkan pasar sedang berada dalam fase seleksi yang ketat. Investor cenderung memburu saham tertentu, sambil mengurangi eksposur pada emiten yang rentan koreksi.
Ke depan, arah IHSG akan sangat dipengaruhi oleh pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar. Jika tekanan di sektor perbankan dan energi mereda, peluang pemulihan indeks akan terbuka lebih lebar.
