IHSG Melemah ke 6.300-an, Tekanan Asing Berlanjut

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 23 Mei 2026 18:46 WIB 5
IHSG Melemah ke 6.300-an, Tekanan Asing Berlanjut

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali tertekan dan melanjutkan tren pelemahan pada perdagangan Selasa, 19 Mei 2026. Berdasarkan data RTI Business, IHSG turun 3,46 persen ke level 6.370,67, setelah dalam lima hari terakhir terkoreksi 8,59 persen.

Secara year to date, IHSG sudah merosot 26,32 persen, seiring derasnya aksi jual bersih investor asing yang mencapai Rp41,28 triliun per Senin, 18 Mei 2026. Tekanan juga datang dari saham-saham konglomerat yang banyak terkoreksi hingga menyentuh auto reject bawah pada penutupan perdagangan.

Tekanan IHSG Kian Dalam

Pelemahan IHSG terjadi setelah pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, indeks juga terkoreksi 2,86 persen ke level 6.969,39. Tren negatif itu berlanjut tanpa jeda berarti, sehingga level psikologis 6.300-an kembali menjadi perhatian pelaku pasar.

Investor cenderung berhati-hati karena aksi jual masih mendominasi transaksi. Kondisi ini membuat penguatan teknikal yang sempat muncul sebelumnya tidak mampu bertahan lama.

Dalam sepekan terakhir, pasar saham domestik bergerak dalam tekanan yang cukup kuat. Koreksi yang beruntun memperlihatkan bahwa sentimen negatif belum mereda dan masih membayangi arah IHSG.

Saham Konglomerat Tertekan

Sejumlah saham milik konglomerat ikut membebani pergerakan indeks pada perdagangan terakhir. PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) turun 14,75 persen ke Rp3.120 per saham, sementara PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) melemah 13,33 persen ke Rp650 per saham.

PT Petrosea Tbk (PTRO) juga terkoreksi 10,93 persen ke Rp4.320 per saham. Dari grup lain, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) anjlok 14,77 persen ke Rp750 per saham, sedangkan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) turun 14,97 persen ke Rp1.590 per saham.

Tekanan pada saham-saham tersebut memperbesar beban IHSG di tengah lemahnya minat beli. Aksi jual di saham berkapitalisasi besar turut mempercepat pelemahan indeks secara keseluruhan.

Asing Masih Net Jual

Data pasar menunjukkan investor asing masih melanjutkan aksi jual bersih dalam jumlah besar. Hingga Senin, 18 Mei 2026, nilai net foreign sell tercatat Rp41,28 triliun secara year to date.

Arus keluar dana asing menjadi sinyal bahwa pelaku pasar global masih mengambil posisi defensif. Situasi ini biasanya menekan likuiditas serta mengurangi kekuatan permintaan pada saham-saham unggulan.

Dalam kondisi seperti ini, pasar domestik membutuhkan katalis yang cukup kuat untuk memulihkan sentimen. Tanpa dukungan pembelian asing, IHSG berisiko bergerak dalam tekanan lebih lama.

Pasar Menanti Kebijakan

Phintraco Sekuritas menilai investor kini mencermati dua agenda besar yang berpotensi memengaruhi arah pasar. Agenda tersebut adalah pidato Presiden Prabowo Subianto dan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mengenai suku bunga.

Presiden Prabowo dijadwalkan menyampaikan pidato dalam Rapat Paripurna DPR pada Rabu, 20 Mei 2026, terkait Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal RAPBN Tahun Anggaran 2027. Di sisi lain, pasar juga menunggu keputusan BI Rate yang menurut konsensus berpotensi naik 25 basis poin menjadi 5 persen.

Selain dua sentimen itu, pasar juga merespons wacana pengaturan ekspor komoditas dalam satu badan khusus negara. Kekhawatiran investor muncul karena kebijakan tersebut dinilai dapat menekan harga jual dan berdampak pada marjin laba emiten terkait.

Di tengah kombinasi sentimen eksternal dan domestik tersebut, pelaku pasar memilih bersikap lebih selektif. Arah IHSG dalam waktu dekat akan sangat ditentukan oleh kejelasan kebijakan dan respons investor terhadap agenda ekonomi pekan ini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!