IHSG Melemah, Dekati Level Masa Pandemi

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 22 Mei 2026 11:03 WIB 6
IHSG Melemah, Dekati Level Masa Pandemi

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali tertekan pada perdagangan Jumat, 22 Mei 2026, dan sempat bergerak mendekati level yang terakhir kali sering dikaitkan dengan masa awal pandemi COVID-19. Berdasarkan data RTI pada pukul 09.05 WIB, IHSG berada di level 6.047, turun 47 poin atau 0,78 persen dari posisi pembukaan 6.065.

Sepanjang sesi pagi, IHSG bergerak dalam rentang 5.966 hingga 6.074, dengan nilai transaksi mencapai Rp1,67 triliun. Aktivitas perdagangan melibatkan 3,60 miliar lembar saham dalam 178.693 kali transaksi, sementara 129 saham menguat, 418 saham melemah, dan 155 saham stagnan.

IHSG Dekati Level Pandemi

Tekanan pada IHSG pagi ini memunculkan kembali ingatan pasar terhadap fase paling berat pada awal pandemi COVID-19. Saat itu, pelemahan tajam terjadi ketika investor merespons ketidakpastian global dan domestik secara bersamaan.

Dalam pergerakan terbarunya, IHSG bahkan sempat turun ke area 5.966, yang menandakan sentimen pasar masih rapuh. Kondisi ini menunjukkan pelaku pasar cenderung berhati-hati menghadapi volatilitas yang meningkat.

Meski masih berada di atas level psikologis 6.000, arah perdagangan IHSG belum sepenuhnya stabil. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa pasar masih mencari titik keseimbangan di tengah tekanan jual.

Tekanan Jual Masih Mendominasi

Data perdagangan menunjukkan jumlah saham yang melemah jauh lebih banyak dibandingkan saham yang menguat. Hal itu menjadi sinyal bahwa tekanan jual masih dominan di mayoritas sektor.

Secara harian, IHSG tercatat melemah 0,78 persen, namun tekanan yang lebih besar terlihat dalam tren yang lebih panjang. Dalam sebulan terakhir, indeks sudah terkoreksi 20,01 persen.

Jika ditarik lebih jauh, pelemahan IHSG mencapai 25,38 persen dalam tiga bulan terakhir dan 30,07 persen sepanjang 2026. Kinerja tersebut menegaskan bahwa tekanan tidak hanya bersifat sesaat, melainkan telah berlangsung berkelanjutan.

Bayangan Krisis Pandemi

Perbandingan dengan masa pandemi muncul karena IHSG pernah mengalami tekanan ekstrem pada awal 2020. Ketika kasus COVID-19 pertama diumumkan di Indonesia pada 2 Maret 2020, indeks langsung ditutup turun 91 poin atau 1,67 persen ke level 5.361.

Tekanan berlanjut seiring meningkatnya jumlah kasus dan kekhawatiran terhadap dampak ekonomi yang lebih luas. Pada perdagangan 9 Maret 2020, IHSG bahkan terkoreksi 6,5 persen dan ditutup di level 5.136.

Penurunan sedalam itu jarang terjadi dan biasanya hanya muncul dalam situasi krisis besar. Saat itu, pasar merespons kombinasi ketidakpastian, kepanikan, dan perlambatan ekonomi yang meluas.

Respons Regulator Pasar

Dalam menghadapi gejolak tersebut, regulator dan pengawas pasar modal sempat mengambil sejumlah langkah untuk meredam kepanikan. Salah satu kebijakan yang ditempuh Bursa Efek Indonesia adalah penghentian perdagangan atau trading halt pada 10 Maret 2020.

Kebijakan itu ditempuh untuk memberi waktu kepada pelaku pasar agar dapat menilai ulang kondisi dan mengurangi tekanan jual ekstrem. Langkah serupa biasanya dipertimbangkan ketika volatilitas bergerak terlalu tajam dalam waktu singkat.

Meski demikian, efek kebijakan tidak selalu langsung mengangkat pasar ke zona aman. IHSG tetap sangat dipengaruhi sentimen investor, kondisi makroekonomi, dan arah pasar global.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!