IHSG Anjlok 3,54%, Saham Emiten Jadi Sorotan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 29 Mei 2026 06:21 WIB 4
IHSG Anjlok 3,54%, Saham Emiten Jadi Sorotan

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG ditutup melemah tajam 3,54 persen ke level 6.094,94 pada perdagangan Kamis, 21 Mei. Tekanan datang dari aksi jual investor asing yang membukukan jual bersih Rp508,11 miliar di pasar reguler dan Rp544,89 miliar di seluruh pasar. Pelemahan ini terjadi di tengah sentimen domestik yang masih dibayangi kekhawatiran atas risiko fiskal dan kebijakan pengendalian ekspor. Meski begitu, sejumlah saham emiten masih mampu menjadi penopang di tengah tekanan pasar.

Di sisi global, bursa saham Amerika Serikat justru bergerak positif dan memberi kontras terhadap pelemahan pasar domestik. Dow Jones naik 0,55 persen, S&P 500 menguat 0,17 persen, dan Nasdaq bertambah tipis 0,09 persen. Namun, penguatan tersebut belum cukup membantu sentimen di Bursa Efek Indonesia. Seluruh sektor tercatat masuk zona merah, dengan sektor energi menjadi yang paling tertekan.

IHSG dan Saham Emiten

Tekanan pada IHSG terutama dipicu oleh keluarnya dana asing dari pasar saham domestik. Selain itu, pasar juga merespons pandangan S&P Global Ratings terkait risiko fiskal dan kebijakan pengendalian ekspor Indonesia. Kekhawatiran itu dinilai dapat memengaruhi neraca pembayaran serta stabilitas makroekonomi nasional. Kondisi tersebut membuat indeks ETF EIDO dan MSCI Indonesia ikut terkoreksi.

Dari sisi pergerakan saham, Amman Mineral Internasional, Indofood Sukses Makmur, dan Sumber Alfaria Trijaya menjadi penopang indeks. Sebaliknya, Astra International, Bumi Resources Minerals, dan Bayan Resources memberi tekanan terbesar pada pergerakan IHSG. Pelemahan yang merata membuat investor cenderung mengambil sikap wait and see. Aktivitas transaksi pun lebih didominasi oleh tekanan jual dibanding pembelian.

Sektor energi mencatat penurunan paling dalam sebesar 6,91 persen dan menjadi sorotan utama pelaku pasar. Kondisi ini sejalan dengan pelemahan harga sejumlah saham berbasis komoditas dan energi. Di tengah situasi tersebut, arah pasar masih sangat bergantung pada arus dana asing dan perkembangan sentimen global. Jika tekanan eksternal mereda, indeks berpeluang bergerak lebih stabil dalam perdagangan berikutnya.

Rencana Ekspansi WMPP

Widodo Makmur Perkasa Tbk atau WMPP menargetkan pendapatan kuartal I-2026 mencapai Rp2,10 triliun. Target itu mencerminkan pertumbuhan 108,20 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp1,01 triliun. Untuk mencapainya, perseroan memperkuat kapasitas rumah potong ayam hingga 12 ribu ekor per jam. Langkah ini menjadi bagian dari strategi ekspansi bisnis peternakan yang lebih agresif.

WMPP juga memperluas bisnis ayam petelur dengan target populasi mencapai 1 juta ekor pada 2028. Saat ini, jumlah populasi ayam petelur perseroan berada di level 350 ribu ekor. Selain itu, perusahaan menargetkan peningkatan bobot harian sapi minimal 1,60 kilogram per hari. Fokus tersebut menunjukkan upaya perseroan menjaga efisiensi produksi sekaligus meningkatkan kualitas hasil ternak.

Ekspansi feedlot WMPP turut diarahkan ke sejumlah wilayah baru, termasuk Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Ibu Kota Nusantara. Perusahaan juga berupaya meningkatkan kualitas sapi gama agar dapat memenuhi kebutuhan bibit sapi premium domestik. Strategi ini diharapkan memperkuat kontribusi bisnis sapi dalam jangka menengah. Dengan ekspansi yang terukur, WMPP berupaya memperluas kapasitas dan daya saing di sektor pangan.

Target Pertumbuhan CRSN

Carsurin Tbk atau CRSN membidik pendapatan Rp618,16 miliar pada 2026. Angka itu naik 22,41 persen dibanding target 2025 yang sebesar Rp504,96 miliar. Segmen inspeksi diperkirakan menjadi kontributor utama dengan target pendapatan Rp491,11 miliar. Perseroan menilai lini tersebut masih memiliki ruang pertumbuhan yang kuat.

CRSN juga menargetkan laba bersih Rp17,52 miliar dengan margin laba bersih naik ke level 2,83 persen. Untuk mendukung ekspansi, perseroan mendirikan enam anak usaha baru. Dua di antaranya adalah PT CARSURIN Nickel Integrity dan PT CARSURIN EcoTrust International. Pembentukan entitas baru ini memperluas cakupan layanan perusahaan di berbagai sektor.

Langkah ekspansi tersebut menunjukkan strategi diversifikasi bisnis yang lebih luas. CRSN berupaya menangkap peluang dari kebutuhan jasa inspeksi, sertifikasi, dan pengujian di sektor industri. Perseroan juga menempatkan layanan berbasis keberlanjutan sebagai bagian dari pertumbuhan jangka panjang. Dengan struktur bisnis yang semakin beragam, CRSN menargetkan kinerja yang lebih solid pada tahun depan.

Dividen dan Rekomendasi Saham

Charoen Pokphand Indonesia Tbk atau CPIN menetapkan dividen tunai Rp180 per saham untuk tahun buku 2025. Total nilai dividen yang dibagikan mencapai Rp2,95 triliun, jauh lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya Rp30 per saham. Rasio pembayaran dividen berada di level 52,29 persen dari laba yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk. Kebijakan ini mencerminkan kuatnya kinerja keuangan perseroan.

Sepanjang 2025, CPIN mencatat penjualan Rp70,70 triliun, naik 4,78 persen dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih perusahaan juga meningkat 52,07 persen menjadi Rp5,64 triliun. Kenaikan itu turut mendorong laba per saham menjadi Rp344. Pada penutupan perdagangan Kamis, saham CPIN berada di level Rp4.270 per saham.

Untuk perdagangan berikutnya, sejumlah saham masuk daftar pantauan dengan skenario teknikal yang sudah disusun. INDF direkomendasikan beli di area 6.600-6.650 dengan target 6.800-6.900 dan stop loss 6.375, sementara CPIN berada di area 4.180-4.200 dengan target 4.300-4.390 dan stop loss 4.010. Saham KJEN, WIIM, dan HMSP juga mendapat rekomendasi beli dengan batas risiko masing-masing. Investor tetap perlu menyesuaikan keputusan dengan profil risiko dan tujuan keuangan pribadi.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!