Nilai tukar rupiah ditutup melemah di level Rp17.700 per dolar Amerika Serikat, dan kondisi ini langsung menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah. Kenaikan kurs memicu lonjakan harga bahan baku, baik lokal maupun impor, sehingga biaya produksi ikut terkerek. Di tengah tekanan itu, pemerintah menyiapkan arah kebijakan ekonomi jangka panjang untuk menjaga stabilitas. Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan ekonomi 5,8 persen hingga 6,5 persen pada 2027.
Selain pertumbuhan, pemerintah juga mematok rupiah berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS pada 2027. Target tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga daya saing nasional di tengah gejolak pasar global. Pelaku usaha pun mulai menata ulang strategi agar tetap bertahan. Salah satunya datang dari industri fesyen muslim yang merasakan langsung dampak kenaikan kurs.
Tekanan rupiah pada UMKM
Kenaikan nilai tukar dolar AS memberi dampak berantai pada struktur biaya usaha di dalam negeri. UMKM yang bergantung pada bahan baku impor menjadi paling rentan menghadapi perubahan harga yang cepat. Kondisi itu membuat margin keuntungan menipis dan ruang gerak bisnis semakin sempit. Dalam situasi seperti ini, efisiensi menjadi pilihan yang tidak bisa ditunda.
Tekanan juga dirasakan oleh pelaku usaha yang mengandalkan bahan baku lokal, karena rantai pasok tetap terhubung dengan pasar global. Saat harga bahan penolong naik, biaya produksi domestik ikut terdorong. Akibatnya, kenaikan kurs tidak hanya memukul importir, tetapi juga produsen yang beroperasi sepenuhnya di dalam negeri. UMKM pun harus menyesuaikan model bisnis agar tetap kompetitif.
Di sisi lain, pelemahan rupiah membuat konsumen lebih sensitif terhadap harga jual produk. Perusahaan dituntut menjaga keseimbangan antara mempertahankan kualitas dan mengendalikan harga. Jika penyesuaian dilakukan terlalu cepat, daya beli berisiko turun. Namun jika terlalu lambat, arus kas usaha dapat terganggu.
Strategi Vanilla Hijab
Vanilla Hijab menjadi salah satu contoh pelaku usaha yang merasakan langsung tekanan tersebut. Atina, perwakilan perusahaan, menjelaskan bahwa pihaknya memilih menyesuaikan harga secara bertahap. Langkah itu diambil untuk menjaga keberlangsungan bisnis tanpa mengejutkan konsumen. Menurutnya, penyesuaian harga harus dilakukan pelan-pelan.
Ia menilai kenaikan harga yang terlalu drastis akan membuat pasar sulit menerima produk baru. Karena itu, perusahaan memilih menimbang ulang struktur harga secara hati-hati. Sebagai ilustrasi, harga hijab yang sebelumnya Rp80.000 dapat naik menjadi Rp95.000 secara bertahap. Strategi tersebut diharapkan memberi ruang napas bagi operasional perusahaan.
Namun, penyesuaian harga bukan satu-satunya tantangan yang dihadapi merek lokal. Vanilla Hijab juga harus bersaing dengan produk impor siap jual yang biayanya lebih rendah. Perusahaan yang memproduksi dari bahan baku hingga pengemasan di dalam negeri memiliki struktur ongkos yang berbeda. Perbedaan itu membuat kompetisi di pasar menjadi semakin ketat.
Persaingan produk impor
Atina menegaskan bahwa merek lokal menghadapi kondisi yang lebih berat dibandingkan produsen white label. Produk jadi dari luar negeri kerap masuk dengan harga lebih murah karena proses produksinya lebih sederhana. Sementara itu, brand lokal harus menanggung biaya bahan baku, jahit, hingga pengemasan di Indonesia. Selisih biaya ini menjadi tantangan utama dalam persaingan harga.
Ia juga menuturkan bahwa sumber daya yang digunakan memang berasal dari pemasok Indonesia, tetapi sebagian bahan tetap terhubung dengan impor. Hal itu membuat fluktuasi kurs dolar tetap berpengaruh pada biaya akhir. Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha lokal tidak bisa hanya mengandalkan kekuatan merek. Mereka perlu terus mencari efisiensi tanpa mengorbankan kualitas.
Persaingan dengan barang impor mendorong UMKM untuk semakin disiplin dalam mengatur produksi. Setiap keputusan pembelian bahan, jadwal produksi, dan distribusi harus dihitung dengan cermat. Kesalahan kecil dapat berdampak pada harga jual dan kepercayaan konsumen. Karena itu, daya tahan usaha sangat bergantung pada ketepatan pengelolaan biaya.
Inovasi jadi nilai tambah
Selain menahan produksi dan menyesuaikan harga, Vanilla Hijab memperkuat strategi dengan inovasi produk. Perusahaan berupaya menambah nilai tambah agar konsumen merasa tetap diuntungkan meski harga naik. Pendekatan ini dinilai lebih efektif dibanding sekadar menaikkan harga tanpa pembaruan. Dengan cara itu, produk tetap relevan di pasar yang kompetitif.
Salah satu pengembangan yang tengah dicoba adalah hijab tanpa peniti. Inovasi tersebut dirancang untuk memberi kemudahan penggunaan sekaligus menghadirkan pengalaman baru bagi konsumen. Nilai tambah seperti ini dianggap mampu menjaga minat pembeli. Pada saat yang sama, perusahaan tetap memiliki alasan kuat untuk menyesuaikan harga.
Strategi kombinasi antara efisiensi, penyesuaian harga, dan inovasi menjadi kunci bertahan di tengah gejolak rupiah. Pelaku UMKM dituntut lebih lincah membaca perubahan pasar dan perilaku konsumen. Pemerintah pun diharapkan menjaga stabilitas makroekonomi agar tekanan biaya tidak semakin berat. Dalam jangka panjang, kepastian kurs dan kebijakan fiskal yang hati-hati akan sangat menentukan ketahanan usaha nasional.
