IHSG Anjlok 3,46 Persen, Saham Konglomerat Tertekan

Forex & Saham Fajar Nugraha Utama 22 Mei 2026 17:49 WIB 6
IHSG Anjlok 3,46 Persen, Saham Konglomerat Tertekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik melemah tajam pada penutupan perdagangan Selasa, 19 Mei. Indeks turun 3,46 persen ke level 6.370,67 setelah sempat menguat tipis di awal sesi. Tekanan jual yang menguat sepanjang hari membuat pasar saham berakhir di zona merah.

Berdasarkan data RTI Business, IHSG sempat menyentuh level 6.635,12 pada pembukaan perdagangan. Namun, sentimen negatif membuat pergerakan indeks berbalik arah hingga penutupan. Sepanjang perdagangan hari ini, aktivitas pasar tetap tinggi dengan nilai transaksi mencapai Rp25,59 triliun.

IHSG Tertekan Jual

Penurunan IHSG terjadi di tengah dominasi saham yang melemah di lantai bursa. Tercatat 612 saham terkoreksi, 112 saham menguat, dan 94 saham stagnan. Kondisi tersebut menandakan tekanan jual meluas pada hampir seluruh sektor.

Volume perdagangan hari ini mencapai 45,97 miliar saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 2.804.524 kali. Angka itu menunjukkan pasar tetap aktif meski indeks utama bergerak turun tajam.

Secara tahunan, IHSG tercatat melemah hingga 26,32 persen sepanjang 2026. Pelemahan yang berlanjut ini memperlihatkan kehati-hatian investor masih tinggi. Pelaku pasar cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian arah sentimen domestik dan global.

Saham Konglomerat Merosot

Sejumlah saham konglomerat menjadi pemberat utama pelemahan indeks pada perdagangan hari ini. Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk milik Prajogo Pangestu, TPIA, turun 14,75 persen ke Rp3.120 per saham. Koreksi itu membawa saham tersebut masuk ke area auto reject bawah.

PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk, CUAN, juga turun 13,33 persen ke Rp650 per saham. PT Petrosea Tbk, PTRO, melemah 10,93 persen dan ditutup di Rp4.320 per saham. Tekanan pada tiga saham tersebut ikut menekan sentimen di kelompok saham berbobot besar.

Dari Grup Sinar Mas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk, DSSA, merosot 14,77 persen ke Rp750 per saham. Sementara itu, PT Triputra Agro Persada Tbk, TAPG, milik Theodore Permadi Rachmat terkoreksi 14,97 persen ke Rp1.590 per saham. Pelemahan serempak pada saham-saham konglomerat memperkuat sentimen negatif di pasar.

Tekanan Jual Meluas

Pergerakan saham yang melemah menunjukkan investor tengah melakukan aksi ambil untung. Di saat yang sama, minimnya katalis positif membuat tekanan jual sulit diredam. Kondisi ini menyebabkan indeks kehilangan pijakan sejak awal perdagangan.

Meski sempat dibuka menguat, IHSG tidak mampu mempertahankan momentum. Perubahan arah indeks terjadi seiring meningkatnya kehati-hatian pelaku pasar terhadap saham berkapitalisasi besar. Saham-saham tersebut umumnya menjadi penentu utama gerak indeks harian.

Dalam situasi seperti ini, volatilitas pasar cenderung meningkat. Investor biasanya mencermati saham-saham dengan fundamental kuat dan valuasi yang lebih wajar. Langkah selektif menjadi penting agar portofolio tetap terjaga di tengah tekanan pasar.

Prospek Pasar Berikutnya

Arah IHSG pada perdagangan berikutnya akan sangat bergantung pada respons investor terhadap tekanan yang terjadi hari ini. Jika sentimen negatif masih berlanjut, indeks berpotensi bergerak terbatas. Namun, peluang teknikal rebound tetap terbuka bila muncul aksi beli di saham unggulan.

Pelaku pasar juga akan mencermati stabilitas saham-saham konglomerat yang sebelumnya menjadi penekan utama. Pergerakan saham berbobot besar dapat memberi pengaruh signifikan terhadap indeks secara keseluruhan. Karena itu, perubahan kecil pada kelompok saham tersebut bisa berdampak besar pada IHSG.

Dengan kondisi pasar yang masih bergejolak, strategi berhati-hati dinilai lebih relevan bagi investor. Fokus pada emiten berkualitas dan disiplin pada manajemen risiko menjadi langkah yang disarankan. Pasar saham domestik pun akan menunggu pemicu baru untuk kembali menemukan arah penguatan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!