IHSG Anjlok 3,46 Persen ke 6.370,67

Forex & Saham Stanislaus Firstyan Gratia 22 Mei 2026 01:55 WIB 8
IHSG Anjlok 3,46 Persen ke 6.370,67

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah tajam pada perdagangan Selasa, 19 Mei, setelah sempat dibuka menguat tipis pada pagi hari. Berdasarkan data RTI Business, indeks anjlok 3,46 persen ke level 6.370,67 dari posisi awal perdagangan di 6.635,12.

Tekanan jual yang kuat membuat mayoritas saham berakhir di zona merah, sementara aktivitas transaksi tetap tinggi hingga penutupan. Sepanjang sesi perdagangan, pasar mencatat volume 45,97 miliar saham dengan nilai transaksi Rp25,59 triliun, serta frekuensi 2.804.524 kali.

Tekanan Pasar Menguat

Pergerakan IHSG pada hari itu menunjukkan pembalikan arah yang cukup tajam dari pembukaan. Penguatan tipis di awal perdagangan tidak bertahan lama, karena tekanan jual meningkat sepanjang sesi.

Data perdagangan memperlihatkan sebanyak 612 saham melemah, sedangkan hanya 112 saham yang menguat. Adapun 94 saham lainnya bergerak stagnan, menandakan dominasi sentimen negatif di pasar.

Jika ditarik sepanjang 2026, IHSG tercatat masih melemah hingga 26,32 persen. Kondisi ini menggambarkan tekanan yang masih berat bagi pasar saham domestik.

Saham Konglomerat Tertekan

Sejumlah saham milik konglomerat turut menjadi pemberat utama pergerakan indeks. Beberapa di antaranya bahkan ditutup pada level Auto Reject Bawah atau ARB.

PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) milik Prajogo Pangestu turun 14,75 persen ke Rp3.120 per saham. PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) juga melemah 13,33 persen ke Rp650 per saham.

PT Petrosea Tbk (PTRO) terkoreksi 10,93 persen ke Rp4.320 per saham. Sementara itu, tekanan juga menimpa saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG).

Emiten Grup Besar Terkoreksi

Saham DSSA milik Grup Sinar Mas turun 14,77 persen ke Rp750 per saham. Penurunan itu menambah beban pada kelompok saham berkapitalisasi besar yang menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, TAPG milik Theodore Permadi Rachmat juga tertekan hingga 14,97 persen ke Rp1.590 per saham. Koreksi tersebut menunjukkan tekanan jual tidak hanya terjadi pada saham energi, tetapi juga pada emiten berbasis komoditas.

Pergerakan serentak pada saham-saham konglomerat menandakan sentimen negatif yang meluas. Dalam kondisi seperti ini, investor cenderung bersikap hati-hati menunggu arah pasar berikutnya.

Transaksi Tetap Ramai

Meskipun indeks terkoreksi tajam, aktivitas perdagangan tetap ramai sepanjang hari. Nilai transaksi yang mencapai Rp25,59 triliun menunjukkan minat pasar masih tinggi di tengah volatilitas.

Volume perdagangan yang menembus 45,97 miliar saham juga menegaskan tingginya perputaran dana di Bursa Efek Indonesia. Frekuensi transaksi yang mencapai jutaan kali mencerminkan pasar yang aktif, meski dalam tekanan.

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan mencermati perkembangan sentimen eksternal dan kinerja emiten. Arah IHSG pada perdagangan berikutnya akan sangat ditentukan oleh respons investor terhadap tekanan yang terjadi hari ini.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!