IHSG Anjlok 3,08 Persen ke 6.396,26 pada Sesi I

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 18:36 WIB 7
IHSG Anjlok 3,08 Persen ke 6.396,26 pada Sesi I

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG terkoreksi tajam pada penutupan sesi I perdagangan Selasa, 19 Mei 2026, dengan pelemahan 202,97 poin atau 3,08 persen ke level 6.396,26. Tekanan jual meluas di pasar, sementara investor asing tercatat melakukan aksi keluar dana dalam jumlah besar.

Berdasarkan data RTI, IHSG sempat menyentuh level tertinggi 6.635,12 dan terendah 6.376,34 pada perdagangan siang ini. Kondisi tersebut terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap rupiah, arus dana asing, dan penantian arah kebijakan suku bunga Bank Indonesia.

Tekanan Jual Meluas

Perdagangan sesi I menunjukkan dominasi penurunan saham di Bursa Efek Indonesia. Sebanyak 611 saham melemah, sedangkan 96 saham menguat dan 107 saham stagnan.

Aktivitas transaksi juga terpantau tinggi di tengah koreksi indeks. Volume perdagangan mencapai 27,96 miliar saham, dengan nilai transaksi Rp15,13 triliun dan frekuensi 1.731.057 kali.

Secara intraday, IHSG bergerak dalam rentang yang cukup lebar. Level tertinggi berada di 6.635,12, sedangkan titik terendah tercatat 6.376,34.

Tekanan pada pasar saham menunjukkan investor cenderung berhati-hati. Sentimen negatif dari dalam dan luar negeri membuat pelaku pasar memilih mengurangi risiko.

Arus Dana Asing

Data Stockbit mencatat dana asing keluar hingga Rp5,86 triliun pada sesi pertama perdagangan. Arus keluar ini mempertegas tekanan pada saham-saham berkapitalisasi besar.

Saham CUAN milik Prajogo Pangestu menjadi yang paling banyak dilepas asing, dengan nilai jual bersih Rp96,7 miliar. Setelah itu, BBCA tercatat dilepas Rp94,9 miliar.

Selain itu, BREN dibukukan keluar dana asing Rp70,4 miliar. Saham DSSA dari Grup Sinarmas juga mengalami aksi jual bersih senilai Rp70 miliar.

Besarnya outflow asing menandakan minat investor global masih tertekan. Dalam kondisi seperti ini, saham-saham likuid biasanya menjadi target pelepasan lebih dulu.

Proyeksi Pasar Domestik

Financial Expert Ajaib Sekuritas Ratih Mustikoningsih memperkirakan IHSG bergerak variatif pada rentang 6.550 hingga 6.700. Namun, tekanan jual pada awal pekan membuat proyeksi tersebut menghadapi tantangan.

Ia menilai salah satu sentimen utama datang dari koreksi IHSG yang telah berlangsung lima hari beruntun. Di sisi lain, investor asing masih mencatat outflow di pasar reguler sebesar Rp460 miliar pada 18 Mei 2026.

Rupiah spot juga sempat menyentuh Rp17.700 per dolar AS pada 18 Mei 2026. Level psikologis baru itu menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas nilai tukar.

Bank Indonesia telah melakukan tujuh langkah intervensi untuk menahan pelemahan rupiah. Langkah tersebut mencakup intervensi valas, penguatan di pasar offshore, pembelian SBN, hingga penjagaan likuiditas perbankan.

Fokus Kebijakan Bank Indonesia

Pasar kini menunggu hasil rapat Bank Indonesia yang diperkirakan menjadi penentu arah berikutnya. Pelaku pasar memproyeksikan BI-Rate berpotensi naik 25 basis poin demi menjaga stabilitas rupiah.

Langkah BI juga mencakup penyesuaian imbal hasil SRBI pada tenor 6 hingga 12 bulan. Selain itu, bank sentral memperkuat pengawasan aktivitas perbankan dan korporasi agar tekanan di pasar keuangan dapat diredam.

Kebijakan lain yang disorot adalah aturan penempatan DHE SDA mulai 1 Juni 2026. Aturan tersebut mewajibkan maksimal 50 persen dana disimpan selama 12 bulan di Bank Himbara dan dikonversi ke rupiah, kecuali sektor minyak dan gas.

Pelaku pasar menilai kebijakan tersebut penting untuk mendukung ketersediaan devisa. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada respons pasar dan arah suku bunga ke depan.

Sentimen Global Beragam

Dari Amerika Serikat, bursa Wall Street bergerak melemah terbatas pada perdagangan terakhir. Nasdaq turun 0,51 persen dan S&P 500 terkoreksi 0,07 persen pada 18 Mei 2026.

Investor global kini menantikan laporan keuangan Nvidia pada pekan ini. Rilis tersebut akan menjadi acuan penting untuk membaca keberlanjutan reli saham teknologi dan tema kecerdasan buatan.

Di kawasan Timur Tengah, konflik belum menunjukkan tanda mereda. Amerika Serikat dan Iran sama-sama mengubah proposal untuk mengakhiri perang, sementara rencana serangan juga ditunda.

Situasi itu ikut menahan reli harga minyak Brent, yang terkoreksi 2,18 persen ke level 109 dolar AS per barel. Kombinasi tekanan global dan domestik membuat pasar saham Indonesia bergerak lebih rapuh pada perdagangan hari ini.

Tag Terkait
#IHSG#saham#rupiah

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!