Sampah kerap dipandang sebagai masalah, namun bagi sejumlah pelaku usaha, limbah justru bisa berubah menjadi produk bernilai tinggi. Di tengah dorongan ekonomi kreatif, dua UMKM binaan menunjukkan bahwa inovasi, desain, dan ketekunan mampu membuka akses ke pasar ekspor.
CEO dan Founder Robries, Syukriyatun Niamah, bersama Co Founder Lumosh, Raymond Tjiadi, menegaskan bahwa pendampingan dari Indonesia Design Development Center (IDDC) Kementerian Perdagangan membantu mereka memperluas pasar. Keduanya tampil dalam ajang Trade Expo Indonesia 2025, Sabtu (18/10/2025), dengan produk berbasis sampah yang kini dilirik pembeli luar negeri.
Inovasi Produk Daur Ulang
Robries berdiri pada 2018 dengan fokus mengolah sampah tutup botol plastik menjadi furnitur. Produk yang dihasilkan dibuat dengan tampilan menarik agar tidak sekadar fungsional, tetapi juga memiliki nilai desain. Menurut Syukriyatun, langkah itu merupakan bagian dari upaya menjaga lingkungan melalui produk yang lebih berdaya guna.
Sejak awal, Robries menempatkan desain sebagai pembeda utama dalam produk daur ulang. Pendekatan ini membuat limbah plastik yang selama ini dianggap tidak bernilai berubah menjadi barang pakai bernilai jual. Dalam praktiknya, inovasi tersebut juga menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan gaya hidup berkelanjutan.
Lumosh mengambil jalur serupa dengan mengolah limbah keramik menjadi piring, gelas, dan perabot rumah tangga lain. Produk-produk itu dibuat dengan sentuhan artistik agar mudah diterima pasar. Raymond menyebut, tantangan utama justru terletak pada riset dan pencarian referensi karena bidang ini masih jarang digarap.
Kedua pelaku usaha tersebut menunjukkan bahwa daur ulang dapat menghasilkan produk yang kompetitif. Dengan desain yang tepat, limbah tidak lagi dipandang sebagai sisa, melainkan bahan baku industri kreatif. Hal itu sekaligus memperluas peluang UMKM untuk masuk ke pasar yang lebih luas.
Tantangan Pasar Dan Bahan
Syukriyatun menyebut pemasaran produk berbahan baku sampah tidak semudah menjual barang umum. Edukasi pasar masih dibutuhkan karena sebagian konsumen belum memahami nilai dari produk daur ulang. Kondisi itu membuat komunikasi merek menjadi bagian penting dalam strategi penjualan.
Tantangan lain datang dari sisi pasokan bahan baku yang tidak selalu konsisten. Untuk Robries, ketersediaan sampah tutup botol plastik harus dijaga agar kualitas produk tetap stabil. Karena itu, perusahaan terus mencari sumber pasokan yang sesuai dengan kebutuhan produksi.
Menurut Syukriyatun, menjaga kualitas produk menjadi prioritas meski bahan baku berasal dari sampah. Konsistensi suplai sangat menentukan keberlanjutan usaha dan kepercayaan pembeli. Dalam industri kreatif, stabilitas tersebut menjadi modal penting untuk menjaga reputasi merek.
Raymond juga menghadapi tantangan serupa saat mengembangkan produk berbasis limbah keramik. Karena belum banyak referensi, tim harus mencari pengetahuan tambahan untuk memperkuat pengembangan produk. Proses itu memperlihatkan bahwa inovasi daur ulang membutuhkan riset yang lebih mendalam dibanding produk konvensional.
Peran IDDC Untuk UMKM
Direktorat Pengembangan Ekspor Jasa dan Produk Kreatif Kemendag melalui IDDC terus mendampingi pelaku UMKM agar bisa menembus pasar global. Lembaga ini memberi fasilitas kepada pelaku usaha yang lolos kurasi untuk mengikuti TEI 2025. Langkah tersebut membuka peluang pertemuan langsung dengan calon pembeli dari luar negeri.
TEI 2025 digelar sebagai pameran berskala internasional dengan kehadiran sedikitnya 8.045 buyer dari 130 negara. Ajang ini menjadi ruang strategis bagi produk lokal untuk memperluas jejaring dagang. Bagi UMKM, kesempatan seperti ini penting untuk mengukur daya saing produk di pasar ekspor.
Syukriyatun mengakui pendampingan IDDC memberi kemudahan dalam proses menuju pasar global. Bimbingan yang diberikan mencakup cara mengemas produk agar lebih menarik bagi pembeli internasional. Dukungan itu juga membantu pelaku usaha memahami standar yang dibutuhkan di pasar ekspor.
Ia menyebut, setelah empat tahun mengajukan Good Design Award, Robries akhirnya meraih Best Design Indonesia dan Good Design Award Japan pada tahun ini. Penghargaan tersebut dinilai berdampak besar terhadap penetrasi pasar, terutama untuk ekspor. Capaian itu menjadi bukti bahwa pembinaan yang konsisten dapat memperkuat posisi UMKM di kancah global.
Jalan UMKM Menuju Ekspor
Raymond menyampaikan hal senada dan menilai IDDC sangat membantu Lumosh memperluas pasar. Melalui konsultasi yang diberikan, timnya mendapatkan arahan tentang pasar global yang berpotensi dimasuki. Pendampingan itu membuat arah pengembangan produk menjadi lebih terukur.
Selain konsultasi pasar, IDDC juga membantu memberi masukan terkait riset dan desain. Bagi Lumosh, dukungan tersebut sangat penting karena produk berbasis limbah keramik masih jarang ditemukan. Dengan arahan yang tepat, identitas produk bisa dibangun lebih jelas di mata konsumen.
Raymond menegaskan bahwa dukungan riset membuat produk daur ulang lebih representatif dan mudah dipahami calon pembeli. Ia menilai pendekatan tersebut penting agar konsumen segera mengenali nilai keberlanjutan dari produk yang ditawarkan. Dalam konteks ekspor, pemahaman pasar menjadi kunci untuk membuka peluang penjualan yang lebih besar.
Kisah Robries dan Lumosh menunjukkan bahwa UMKM daur ulang memiliki ruang tumbuh yang besar jika didukung inovasi dan pendampingan yang tepat. Dengan akses pameran, riset, dan penguatan desain, produk lokal berpeluang menembus pasar internasional. Upaya ini juga mempertegas bahwa pengelolaan sampah dapat menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru.
