Holywings Tertekan, Pakar Nilai Ganti Nama Belum Tentu Tepat

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 02 Juni 2026 09:11 WIB 3
Holywings Tertekan, Pakar Nilai Ganti Nama Belum Tentu Tepat

Bisnis Holywings tengah berada dalam tekanan setelah 12 outletnya di Jakarta ditutup karena persoalan izin usaha. Di saat yang sama, perusahaan ini juga menghadapi sorotan publik akibat promo minuman alkohol gratis bagi pemilik nama Muhammad dan Maria. Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan apakah Holywings perlu mengganti nama untuk memulihkan reputasi dan bisnisnya.

Praktisi dan konsultan marketing dari Inventure, Yuswohady, menilai reputasi Holywings sudah terlanjur terdampak. Ia menyebut persoalan promo yang dikaitkan dengan suku, agama, ras, dan antargolongan turut memperburuk citra merek. Penutupan outlet karena izin, menurut dia, menambah beban brand yang sedang bermasalah.

Brand Holywings Tertekan

Yuswohady menilai masalah yang menimpa Holywings tidak hanya menyentuh aspek operasional, tetapi juga merusak persepsi publik terhadap merek. Menurut dia, ketika sebuah usaha sampai terkena sanksi akibat perizinan, citra brand ikut terdampak. Situasi itu membuat pemulihan reputasi menjadi semakin menantang.

Ia menjelaskan bahwa persoalan terkait promo alkohol gratis telah memicu reaksi keras karena dikaitkan dengan isu SARA. Dalam dunia pemasaran, sentimen negatif seperti ini dapat menempel kuat pada identitas merek. Akibatnya, perusahaan harus bekerja lebih keras untuk mengembalikan kepercayaan konsumen.

Penutupan 12 outlet di Jakarta juga dianggap memperburuk posisi Holywings di mata publik. Dampak ini tidak hanya dirasakan dari sisi bisnis harian, tetapi juga pada nilai brand secara keseluruhan. Menurut Yuswohady, kondisi tersebut menunjukkan bahwa merek sedang menghadapi krisis yang serius.

Opsi Rebranding Muncul

Yuswohady mengatakan salah satu pilihan yang bisa ditempuh adalah rebranding. Langkah ini dinilai relevan jika merek masih memiliki modal reputasi yang dapat diselamatkan. Dalam skema ini, identitas lama tidak sepenuhnya dihapus, melainkan diperbarui agar tetap dikenal pasar.

Ia mencontohkan pendekatan dengan nama baru yang tetap menampilkan unsur Holywings, seperti penggunaan tambahan identitas tertentu. Cara ini dinilai bisa menjaga kesinambungan merek tanpa memutus seluruh asosiasi yang sudah dibangun. Namun, keputusan tersebut tetap bergantung pada seberapa kuat citra lama masih diterima publik.

Menurut dia, rebranding bukan keputusan yang bisa diambil secara tergesa-gesa. Perusahaan perlu melihat apakah nama Holywings masih punya nilai yang layak dipertahankan. Jika masih ada ruang untuk dipulihkan, perubahan total belum tentu menjadi pilihan terbaik.

Risiko Ganti Nama Total

Opsi lain adalah mengganti nama secara penuh dengan identitas baru. Yuswohady menilai langkah ini bisa ditempuh jika citra Holywings sudah terlalu buruk di mata masyarakat. Meski begitu, keputusan tersebut membawa konsekuensi besar bagi bisnis.

Ia menegaskan bahwa membangun merek dari nol bukan perkara mudah. Perusahaan harus mengeluarkan waktu, biaya, dan energi untuk membangun kembali pengenalan pasar. Selain itu, belum ada jaminan nama baru akan langsung diterima konsumen.

Karena itu, riset mendalam menjadi syarat utama sebelum keputusan diambil. Penilaian harus mencakup seberapa jauh nama lama masih bisa diselamatkan dan apakah perubahan total benar-benar diperlukan. Tanpa dasar yang kuat, ganti nama justru berisiko memperpanjang masalah.

Riset Menentukan Arah

Dalam pandangan Yuswohady, keputusan akhir semestinya ditentukan oleh riset pasar yang objektif. Perusahaan perlu mengetahui bagaimana publik memandang Holywings setelah rangkaian kasus yang terjadi. Hasil riset itu akan menjadi dasar untuk memilih antara rebranding atau identitas baru.

Ia juga mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah merek tidak semata ditentukan strategi pemasaran. Ada faktor lain seperti momentum, penerimaan pasar, dan unsur keberuntungan yang ikut memengaruhi hasil akhirnya. Karena itu, proses pemulihan brand harus dilakukan dengan hati-hati dan terukur.

Jika nama Holywings masih dianggap memiliki nilai, maka rebranding bisa menjadi jalan tengah. Namun, bila citranya sudah terlalu rusak, perubahan total mungkin tidak terhindarkan. Dalam kondisi apa pun, keputusan tersebut harus berangkat dari analisis yang matang, bukan sekadar reaksi atas tekanan sesaat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!