Pahami UPF, Tidak Semua Makanan Olahan Berbahaya

Lifestyle Anindya Kirana Putri 02 Juni 2026 10:31 WIB 3
Pahami UPF, Tidak Semua Makanan Olahan Berbahaya

Istilah ultra-processed food atau UPF belakangan ramai dibahas di media sosial, terutama karena banyak makanan kemasan langsung dicap tidak sehat. Padahal, tidak semua pangan olahan memiliki karakteristik, proses pengolahan, dan kandungan gizi yang sama.

Sejumlah produk yang sering dianggap UPF justru masih bisa mengandung protein, vitamin, mineral, dan zat gizi lain yang dibutuhkan tubuh. Karena itu, penilaian terhadap makanan olahan perlu melihat komposisi, bukan hanya status kemasannya.

UPF dan makanan olahan

UPF sering dipahami sebagai kelompok makanan yang melalui proses industri lebih kompleks dan biasanya mengandung banyak bahan tambahan. Namun, label tersebut tidak selalu otomatis berarti produk itu buruk bagi kesehatan.

Dalam praktiknya, klasifikasi makanan olahan bergantung pada formulasi, jenis bahan, serta tujuan pengolahan. Makanan yang tampak serupa di rak toko bisa saja memiliki kategori gizi yang berbeda.

Karena itu, masyarakat perlu membaca komposisi pada kemasan sebelum menyimpulkan sebuah produk termasuk UPF atau tidak. Kebiasaan ini membantu menilai apakah makanan tersebut masih sesuai dengan kebutuhan harian.

Sarden kalengan bukan pasti UPF

Sarden kalengan sering masuk daftar makanan yang dicurigai sebagai UPF karena dikemas dalam produk siap santap. Namun, produk ini tidak selalu masuk kategori tersebut jika komposisinya sederhana.

Jika isi sarden hanya ikan, garam, minyak, atau saus tomat sederhana, produknya cenderung lebih dekat ke processed foods. Sebaliknya, tambahan seperti perisa, pengental, pemanis, dan aditif lain dapat mendorongnya menjadi lebih kompleks.

Artinya, kualitas sarden kalengan sangat ditentukan oleh daftar bahan pada label. Konsumen yang teliti dapat memilih produk dengan komposisi yang lebih ringkas dan sesuai kebutuhan gizi.

Susu UHT perlu dilihat isinya

Susu UHT plain juga kerap diperdebatkan karena melalui proses pemanasan tinggi sebelum dikemas. Meski begitu, susu ini belum tentu otomatis digolongkan sebagai UPF oleh semua pihak.

Sejumlah peneliti memasukkannya ke kelompok processed foods, terutama bila bahan yang digunakan hanya susu tanpa tambahan berlebihan. Klasifikasinya bisa berubah ketika produk diberi perisa, pemanis, atau formulasi yang lebih kompleks.

Dengan kata lain, susu UHT tidak bisa dinilai hanya dari bentuk kemasannya. Pemeriksaan komposisi menjadi langkah penting untuk membedakan produk yang sederhana dengan produk yang lebih banyak mengandung bahan tambahan.

Cermat membaca label kemasan

Kesalahpahaman tentang UPF muncul karena banyak orang menganggap semua makanan kemasan sama buruknya. Padahal, proses pengolahan yang berbeda dapat menghasilkan kualitas gizi yang berbeda pula.

Membaca label komposisi, informasi nilai gizi, dan daftar bahan tambahan menjadi cara paling praktis untuk menilai produk. Dari sana, konsumen dapat mempertimbangkan kadar gula, garam, lemak, serta kebutuhan nutrisi harian.

Pilihan makanan sebaiknya tidak didasarkan pada stigma semata, melainkan pada informasi yang jelas dan kebutuhan tubuh. Dengan pemahaman yang tepat, masyarakat dapat lebih bijak saat memilih makanan olahan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!