Happy Salma Ungkap Pengalaman Perimenopause dan Brain Fog

Lifestyle Nadia Safira Putri 27 Mei 2026 20:04 WIB 2
Happy Salma Ungkap Pengalaman Perimenopause dan Brain Fog

Perimenopause kerap datang tanpa disadari, padahal fase transisi menuju menopause ini dapat memicu perubahan fisik dan emosional yang signifikan. Aktris Happy Salma, yang kini berusia 46 tahun, mengaku semakin memahami tubuhnya seiring bertambahnya usia dan pengalaman hidup.

Ia menuturkan bahwa banyak perempuan belum benar-benar memahami tahapan perimenopause, meski fase ini tidak terhindarkan. Perubahan hormon dapat dimulai lebih awal, bahkan sejak usia 30-an, sehingga pemahaman sejak dini menjadi penting untuk menjaga kualitas hidup.

Perimenopause dan perubahan tubuh

Happy Salma mengungkapkan bahwa perimenopause membuat dirinya lebih peka terhadap perubahan tubuh dan emosi. Menurutnya, kondisi yang dulu hanya terasa seperti PMS ringan kini bisa menjadi jauh lebih sensitif.

Ia menyebut fase ini sebagai proses yang mengajak perempuan lebih mengenali tubuh sendiri. Dengan memahami sinyal tubuh, seseorang dapat mengambil langkah yang lebih tepat dalam menjaga kesehatan.

Perimenopause bukan hanya soal fisik, tetapi juga berkaitan dengan kondisi emosional yang ikut berubah. Karena itu, perhatian terhadap kesehatan mental menjadi bagian penting dalam menghadapi masa transisi ini.

Brain fog saat beraktivitas

Salah satu perubahan yang dirasakan Happy adalah menurunnya daya ingat atau brain fog. Kondisi ini membuat seseorang lebih mudah lupa, sulit berkonsentrasi, dan merasa tidak setajam biasanya saat berpikir.

Ia mengaku hal tersebut cukup terasa dalam pekerjaannya sebagai aktris yang harus menghafal naskah. Situasi ini membuat aktivitas yang biasanya berjalan lancar menjadi lebih menantang.

Secara medis, brain fog pada perimenopause umumnya dipicu fluktuasi hormon, terutama estrogen. Hormon ini berperan penting dalam fungsi otak, sehingga perubahan kadarnya dapat memengaruhi fokus dan keputusan sehari-hari.

Perimenopause perlu dipahami

Meski membawa berbagai perubahan, Happy menegaskan bahwa perimenopause bukan fase yang perlu ditakuti. Ia justru menilai masa ini sebagai kesempatan untuk refleksi diri dan memperbaiki kualitas hidup.

Baginya, perempuan dapat menjadi lebih menghargai diri sendiri dan lebih dekat secara batin dengan Sang Pencipta. Ia juga melihat fase ini sebagai peluang untuk tumbuh lebih matang dan lebih bahagia.

Happy percaya banyak perempuan justru menemukan versi terbaik dirinya pada usia ini. Hal itu terjadi ketika mereka lebih banyak berdialog dengan diri sendiri dan mulai menerima perubahan yang hadir.

Cari informasi dan bantuan

Menurut Happy, pemahaman menjadi kunci utama dalam menghadapi perimenopause. Karena itu, ia aktif mencari informasi agar lebih siap menjalani perubahan yang terjadi pada tubuh dan emosinya.

Ia juga mencoba terapi regulasi stres seperti Mindlift by Exomind untuk membantu menjaga keseimbangan diri. Langkah tersebut menunjukkan bahwa perawatan kesehatan pada fase ini tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mental.

Konsultasi dengan tenaga medis dapat membantu perempuan memahami gejala yang muncul dan memilih penanganan yang sesuai. Dengan informasi yang tepat, perimenopause dapat dijalani lebih tenang, sehat, dan percaya diri.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!