Gideon Tengker Soroti Jalan Damai dengan Keluarganya

Lifestyle Clara Monica 22 Mei 2026 06:56 WIB 8
Gideon Tengker Soroti Jalan Damai dengan Keluarganya

Musisi Gideon Tengker kembali menyoroti laporan dugaan pemalsuan surat yang menyeret nama mantan istrinya, Rieta Amilia, serta dua anaknya, Nagita Slavina dan Caca Tengker. Persoalan itu disebutnya masih belum menemukan titik temu hingga kini.

Di tengah proses hukum yang berjalan, Gideon mengaku sempat diajak bertemu oleh mantan istri dan anak-anaknya. Namun, pertemuan tersebut disebut hanya sebatas silaturahmi dan tidak membahas perkara hukum yang sedang dihadapinya.

Harapan Untuk Keluarga

Gideon mengatakan dirinya tetap menunggu kabar dari Nagita dan Caca. Ia berharap hubungan sebagai ayah dan anak dapat kembali membaik setelah persoalan ini berjalan cukup lama. Menurutnya, komunikasi yang baik menjadi langkah penting agar suasana keluarga tidak terus memanas. Ia menegaskan keinginannya sederhana, yakni bisa kembali terhubung dengan anak-anaknya.

Ia bahkan menyampaikan secara terbuka agar kedua putrinya dapat menghubungi dirinya. Gideon menyebut panggilan itu bukan untuk membahas apa pun yang rumit. Baginya, komunikasi tersebut cukup menjadi tanda bahwa hubungan keluarga masih bisa dijaga. Ia menekankan bahwa dirinya hanya ingin keadaan kembali baik.

Dalam keterangannya di Polda Metro Jaya pada Selasa, 19 Mei 2026, Gideon menegaskan bahwa pertemuan terakhir tidak menyentuh persoalan hukum. Ia menyebut pertemuan itu terjadi di restoran dan berlangsung biasa saja. Tidak ada pembahasan khusus mengenai kasus yang sedang berjalan. Hal itu, menurutnya, menunjukkan belum adanya ruang mediasi yang nyata.

Gideon juga menilai belum ada upaya mediasi yang benar-benar dijalankan oleh pihak keluarga. Ia mengaku hanya pernah diajak bertemu, tetapi percakapan yang terjadi tidak mengarah pada penyelesaian masalah. Situasi itu membuatnya masih menunggu langkah konkret dari pihak-pihak terkait. Ia berharap pintu komunikasi dapat segera dibuka kembali.

Pernyataan Soal Mediasi

Gideon menyebut dirinya belum melihat adanya langkah resmi untuk mempertemukan pihak-pihak yang berseberangan. Ia menilai pembicaraan yang pernah terjadi belum cukup untuk disebut sebagai mediasi. Karena itu, ia masih menunggu proses yang lebih serius agar masalah tidak terus berlarut. Baginya, penyelesaian keluarga perlu dilakukan secara baik dan terbuka.

Ia mengatakan pertemuan terakhir hanya berlangsung singkat dan tidak menghasilkan pembahasan apa pun terkait kasus. Gideon menilai hal itu belum menjawab pokok persoalan yang ia hadapi. Meski demikian, ia tetap menyambut baik jika ada ruang dialog di kemudian hari. Sikap itu ia anggap penting untuk menjaga hubungan antarkeluarga.

Dalam pandangannya, pertemuan yang hanya bersifat silaturahmi tidak cukup untuk meredakan situasi. Ia berharap ada langkah yang lebih terarah agar semua pihak bisa duduk bersama. Dengan begitu, komunikasi yang selama ini terputus bisa kembali terjalin. Ia menilai itu jauh lebih bermanfaat daripada saling diam.

Gideon juga menegaskan bahwa dirinya tidak ingin konflik keluarga berkembang semakin jauh. Ia berharap setiap pihak dapat melihat persoalan ini secara lebih jernih. Menurutnya, penyelesaian yang baik hanya bisa dicapai jika ada itikad untuk berbicara. Karena itu, ia masih membuka kesempatan untuk mediasi kapan pun dibutuhkan.

Nama Raffi Disorot

Dalam keterangannya, Gideon turut menyinggung Raffi Ahmad sebagai sosok yang diharapkan bisa menjadi penengah. Ia menilai kehadiran pihak yang disegani dapat membantu meredakan ketegangan. Menurutnya, jembatan komunikasi yang baik akan sangat berarti dalam situasi seperti ini. Namun, ia merasa kondisi yang terjadi justru belum mengarah ke sana.

Gideon juga menyebut Barry dalam konteks yang sama, yakni pihak yang seharusnya bisa membantu menjembatani persoalan. Ia merasa upaya itu belum berjalan sesuai harapan. Bahkan, menurutnya, keadaan yang terjadi justru membuat dirinya semakin tertekan. Ia mengaku posisi dirinya seolah selalu berada di pihak yang disalahkan.

Ia mengatakan perasaan tersebut muncul karena dirinya kerap merasa menjadi sasaran utama dalam konflik yang terjadi. Gideon menilai narasi yang berkembang membuat dirinya tampak seperti pihak yang sepenuhnya bersalah. Padahal, menurutnya, persoalan keluarga seharusnya dilihat secara lebih menyeluruh. Ia ingin setiap pihak mendapat ruang yang adil untuk menjelaskan pandangan masing-masing.

Meski menyampaikan kekecewaan, Gideon tidak menutup pintu untuk perbaikan hubungan. Ia berharap ada pihak yang benar-benar dapat membantu mempertemukan kembali semua anggota keluarga. Dalam pandangannya, jembatan komunikasi sangat penting agar konflik tidak terus melebar. Ia ingin masalah ini bergerak ke arah penyelesaian, bukan memperpanjang jarak.

Pesan Dari Kuasa Hukum

Pengacara Gideon, Erles Rareral, menambahkan pesan soal hubungan orang tua dan anak. Ia mengingatkan bahwa setiap orang pada waktunya akan menjadi orang tua. Karena itu, menurutnya, luka hati dalam keluarga perlu dipikirkan dengan lebih matang. Pesan itu sekaligus ditujukan agar hubungan kekeluargaan tidak semakin renggang.

Erles menegaskan bahwa usia tua adalah hal yang pasti dialami setiap orang. Ia mengingatkan bahwa siapa pun yang menyakiti hati orang tua akan merasakan posisi yang sama di kemudian hari. Pandangan itu ia sampaikan sebagai peringatan moral dalam menyikapi konflik keluarga. Menurutnya, empati harus tetap dijaga dalam situasi apa pun.

Ia juga mengaitkan hal tersebut dengan prinsip tabur tuai yang kerap menjadi pengingat dalam kehidupan keluarga. Menurut Erles, perbuatan yang dilakukan kepada orang tua akan kembali kepada pelakunya. Karena itu, ia berharap semua pihak dapat mengambil pelajaran dari situasi yang sedang terjadi. Pesan itu disampaikannya dengan harapan hubungan keluarga bisa membaik.

Di sisi lain, pernyataan Erles menjadi penegasan bahwa masalah ini bukan hanya soal hukum. Ia menilai ada dimensi emosional yang juga perlu diperhatikan agar penyelesaian dapat lebih utuh. Hubungan darah, menurutnya, tidak semestinya diputus oleh konflik yang berkepanjangan. Karena itu, ia mendorong adanya sikap saling memahami di antara pihak-pihak yang terlibat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!