Gideon Tengker Harap Hubungan dengan Anak Membaik

Lifestyle Clara Monica 21 Mei 2026 18:28 WIB 8
Gideon Tengker Harap Hubungan dengan Anak Membaik

Musisi Gideon Tengker kembali menyoroti laporan dugaan pemalsuan surat yang menyeret nama mantan istrinya, Rieta Amilia, serta dua anaknya, Nagita Slavina dan Caca Tengker. Persoalan itu disebut belum menemukan titik temu, meski Gideon mengaku sempat bertemu dengan keluarga dalam suasana silaturahmi. Pertemuan tersebut, menurut dia, tidak membahas perkara hukum yang sedang berjalan.

Gideon menyampaikan pernyataan itu di Polda Metro Jaya pada Selasa, 19 Mei 2026. Di tengah proses hukum yang masih bergulir, ia berharap komunikasi dengan anak-anaknya bisa kembali terjalin baik. Ia juga mengaku menunggu adanya itikad untuk menghubunginya secara langsung.

Harapan Rekonsiliasi

Gideon mengatakan dirinya masih berharap hubungan keluarga dapat membaik di tengah persoalan yang ada. Ia menegaskan, keinginannya sederhana, yakni kembali berkomunikasi dengan Nagita dan Caca. Menurut dia, hubungan ayah dan anak semestinya tidak putus karena sengketa yang sedang dihadapi.

Ia juga mengaku menunggu telepon dari kedua putrinya. Dalam pernyataannya, Gideon meminta Nagita dan Caca untuk menghubungi dirinya agar suasana menjadi lebih baik. Ia menekankan bahwa harapan itu bukan untuk memperuncing masalah.

Gideon menyebut dirinya masih membuka ruang damai sepanjang ada komunikasi yang baik. Ia menilai pertemuan keluarga seharusnya bisa menjadi jalan untuk meredakan ketegangan. Namun, sampai saat ini, ia merasa belum ada langkah nyata yang mengarah pada rekonsiliasi.

Di tengah situasi tersebut, Gideon memilih tetap menyampaikan keinginannya secara terbuka. Ia berharap anak-anaknya memahami posisi dirinya sebagai seorang ayah. Baginya, hubungan keluarga tetap penting dijaga meski perkara hukum belum selesai.

Pertemuan Tanpa Bahas Kasus

Gideon mengungkapkan sempat diajak bertemu oleh mantan istri dan anak-anaknya. Pertemuan itu, kata dia, hanya berlangsung sebagai silaturahmi biasa. Ia menegaskan, tidak ada pembahasan soal kasus yang sedang diproses.

Ia menambahkan bahwa pertemuan terakhir terjadi di restoran. Dalam kesempatan itu, pembicaraan tidak mengarah pada persoalan hukum maupun upaya penyelesaian sengketa. Karena itu, Gideon menilai belum ada pertemuan yang benar-benar membahas inti masalah.

Menurut dia, hingga kini belum ada mediasi dari pihak keluarga. Gideon mengatakan situasi tersebut membuat dirinya tetap berada dalam ketidakpastian. Ia berharap ada inisiatif yang lebih serius untuk membuka ruang dialog.

Gideon juga menekankan bahwa dirinya tidak ingin persoalan keluarga makin melebar. Ia hanya ingin ada pembicaraan yang jujur dan terbuka. Dengan begitu, hubungan yang sempat renggang bisa diperbaiki sedikit demi sedikit.

Soal Peran Penengah

Dalam pernyataannya, Gideon menyinggung nama Raffi Ahmad yang menurutnya diharapkan dapat menjadi penengah. Ia menilai sosok yang berada di tengah keluarga semestinya membantu meredakan persoalan. Namun, menurut Gideon, harapan itu belum terwujud sebagaimana yang diinginkan.

Ia juga menyebut Barry dalam konteks yang sama. Gideon merasa kehadiran sosok-sosok tersebut justru tidak membantu menjembatani komunikasi. Bahkan, ia menilai situasi itu malah berbalik merugikan dirinya.

Gideon mengeluhkan posisi dirinya yang seolah selalu disalahkan. Ia mengatakan dirinya seakan-akan ditempatkan sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas semua persoalan. Kondisi itu, menurut dia, membuat penyelesaian kasus semakin sulit.

Meski begitu, Gideon tetap berharap ada pihak yang benar-benar bisa menjadi penghubung. Ia menilai keluarga besar seharusnya saling membantu, bukan memperpanjang konflik. Harapan itu, kata dia, masih terbuka selama semua pihak bersedia duduk bersama.

Pesan Dari Kuasa Hukum

Pengacara Gideon, Erles Rareral, turut memberikan pandangannya mengenai hubungan orang tua dan anak. Ia menilai setiap orang pada akhirnya akan sampai pada fase menjadi orang tua. Karena itu, menurut dia, sikap kepada orang tua perlu dijaga dengan baik.

Erles mengingatkan bahwa siapa pun yang menyakiti hati orang tua, pada suatu saat akan merasakan posisi serupa. Ia menyebut prinsip tabur tuai sebagai pengingat bagi semua pihak. Pesan itu, kata dia, relevan untuk melihat persoalan keluarga secara lebih luas.

Dalam pernyataannya, Erles juga menyampaikan bahwa orang tua dan anak seharusnya saling menghormati. Ia menekankan pentingnya empati agar konflik tidak semakin tajam. Menurut dia, hubungan darah tidak seharusnya diputus hanya karena perbedaan pandangan.

Pesan tersebut sekaligus ditujukan sebagai pengingat bagi Nagita Slavina. Erles berharap ada ruang untuk saling memahami di tengah proses yang masih berjalan. Dengan demikian, persoalan hukum dan hubungan keluarga bisa sama-sama menemukan jalan keluar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!