G20 EMPOWER Soroti Hambatan Perempuan di Ekonomi

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 22 Mei 2026 12:05 WIB 6
G20 EMPOWER Soroti Hambatan Perempuan di Ekonomi

Aliansi G20 EMPOWER menyoroti masih besarnya hambatan yang dihadapi perempuan dalam kegiatan ekonomi, khususnya pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM. Tantangan itu mencakup kesenjangan akses pembiayaan, rendahnya keterwakilan perempuan dalam pengambilan keputusan, serta terbatasnya akses ke ekonomi digital dan pasar.

Isu tersebut disampaikan bertepatan dengan peringatan International Women's Day 2026 pada 8 Maret. G20 EMPOWER menilai momentum ini penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor agar pemberdayaan ekonomi perempuan berjalan lebih terukur dan berkelanjutan.

G20 EMPOWER dan UMKM

Co-Chair G20 EMPOWER Indonesia, Rinawati Prihatiningsih, menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta dibutuhkan untuk mendorong pemberdayaan ekonomi perempuan. Ia menyebut aliansi ini dirancang untuk menghubungkan pemerintah dan dunia usaha agar kebijakan yang lahir dapat segera diimplementasikan.

Menurut Rinawati, fokus utama G20 EMPOWER sejak diluncurkan pada 2019 adalah kepemimpinan perempuan, kewirausahaan perempuan, dan penguatan ekosistem usaha yang lebih inklusif. Dalam pandangannya, pendekatan tersebut menjadi penting karena perempuan masih menghadapi hambatan struktural dalam mengembangkan usaha.

Ia juga menyampaikan bahwa pada Presidensi Indonesia di G20 tahun 2022, perempuan pengusaha dan pelaku UMKM mulai diangkat sebagai bagian dari penggerak pertumbuhan ekonomi. Langkah itu diwujudkan melalui inisiatif seperti Best Practice Playbook, Showcase Women-Led Businesses, dan KPI Dashboard G20 EMPOWER.

G20 EMPOWER dan Kepemimpinan

Di bawah Presidensi Afrika Selatan, G20 EMPOWER mengusung tema UHURU, yang menekankan kemandirian pendapatan dan finansial perempuan. Tema ini memuat tiga fokus utama, yaitu kepemimpinan perempuan, penguatan usaha milik perempuan dan pengadaan inklusif, serta perluasan inklusi digital dan STEAM.

Rinawati menilai tiga fokus tersebut relevan dengan kondisi saat ini, terutama ketika perempuan masih belum memiliki akses yang setara terhadap sumber daya ekonomi. Ia menekankan bahwa representasi perempuan dalam pengambilan keputusan harus terus diperluas agar kebijakan lebih responsif terhadap kebutuhan perempuan.

Aliansi ini juga mendorong pengaktifan Digital G20 EMPOWER Best Practice Playbook Portal, perluasan implementasi WE-Finance Code, dan penguatan Global Advocates Network. Selain itu, disiapkan lima kelompok kerja yang mencakup Women in Leadership, STEAM & Innovation, Entrepreneurship, Advocacy, serta Policy & Monitoring.

G20 EMPOWER dan Kebijakan

Rinawati menilai agenda pemberdayaan perempuan harus diterjemahkan menjadi implementasi yang sistematis, berbasis data, dan berdampak nyata. Ia mengatakan penguatan sistem dibutuhkan mulai dari data, monitoring, kebijakan, pembiayaan, hingga pengembangan talenta.

Di Indonesia, momentum IWD 2026 dinilai dapat dimanfaatkan untuk memperkuat agenda pemberdayaan perempuan bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Kerja sama itu dapat diarahkan pada pengarusutamaan gender, kebijakan pendidikan, kewirausahaan, dan kepemimpinan ekonomi perempuan.

Rinawati juga menyoroti sejumlah inisiatif lanjutan, seperti #SheMovesEnergy, integrasi dengan Sisternet untuk memperkuat literasi digital, serta pembangunan jalur pengembangan dari siswi hingga startup. Ia menambahkan, kolaborasi dengan IWAPI juga menjadi bagian dari upaya memperluas ekosistem perempuan pelaku usaha.

G20 EMPOWER dan Masa Depan

Di tingkat global, G20 EMPOWER mengusulkan Five-Year Sustainability Plan dan penyempurnaan Terms of Reference agar aliansi tetap berjalan hingga 2030. Langkah itu disebut sejalan dengan G20 Leader's Declaration 2025 yang menekankan akses setara bagi perempuan terhadap sumber daya ekonomi, pembiayaan, dan pasar.

Rinawati mengatakan Indonesia masih memiliki peluang besar untuk memperkuat kerja sama lintas sektor dalam menjawab kebutuhan perempuan, termasuk pelaku UMKM. Kemitraan itu dapat mencakup penguatan UMKM, literasi digital, transisi energi yang inklusif, hingga pembinaan talenta perempuan masa depan.

Sementara itu, Chair G20 EMPOWER Indonesia Yessie D. Yosetya menegaskan bahwa peringatan IWD 2026 harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen bersama. Menurutnya, pemberdayaan ekonomi perempuan tidak boleh berhenti pada wacana, melainkan harus diwujudkan melalui ekosistem yang membuka akses terhadap kepemimpinan, pembiayaan, inovasi, dan pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!