Film Menolak Punah Soroti Krisis Sandang dan Limbah Fesyen

Lifestyle Nadia Safira Putri 13 Mei 2026 00:41 WIB 9
Film Menolak Punah Soroti Krisis Sandang dan Limbah Fesyen

Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen tekstil dan garmen terbesar di dunia. Namun, sektor ini menghadapi berbagai ketidakpastian, sementara sampah dan limbah fesyen terus menumpuk tanpa penanganan memadai. Baru-baru ini, Sejauh Mata Memandang (SMM) bekerja sama dengan Ekspedisi Indonesia Baru menggelar penayangan film dokumenter Menolak Punah untuk membahas krisis sandang secara luas.

Film dokumenter ini disebut sebagai sekuel dari Plastic Island oleh sutradara Dandhy Laksono. Karya tersebut mengangkat krisis sandang, limbah tekstil, dan paparan mikroplastik dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Jika Plastic Island membahas pangan, maka Menolak Punah mengulas persoalan sandang atau pakaian.

AspekNilai
Kapas impor terhadap kebutuhan nasional99%

Krisis Sandang Kapas

Menurut Dandhy Laksono, riset untuk film ini menyoroti impor kapas sebagai tantangan bagi penenun lokal. Kapas menjadi simbol keadilan sosial yang tercantum pada sila kelima Garuda Pancasila. Kondisi tersebut menimbulkan paradoks antara simbol nasional dan kenyataan ketergantungan pada impor.

Impor kapas berdampak pada harga dan akses bagi penenun lokal. Limbah tekstil dan pakaian tak terpakai juga berkontribusi pada paparan mikroplastik. Film Menolak Punah mengajak publik membicarakan masalah ini secara luas.

Kolaborasi antara Sejauh Mata Memandang dan Ekspedisi Indonesia Baru bertujuan menyoroti keterkaitan masalah tersebut. Karya dokumenter ini membuka ruang diskusi mengenai solusi berkelanjutan dalam industri fesyen. Penayangan ini diharapkan dapat meningkatkan kesadaran publik terhadap pentingnya perubahan kebiasaan.

Limbah Tekstil & Mikroplastik

Limbah tekstil, baik cair maupun padat, menjadi beban lingkungan yang serius. Pakaian sintetis dapat melepaskan mikroplastik yang mengganggu ekosistem dan kesehatan manusia. Dampak tersebut menambah urgensi transformasi industri fesyen.

Salah satu penyebab utama meningkatnya limbah fesyen adalah perilaku overconsumption di kalangan konsumen. Permintaan terhadap produk pakaian yang kurang ramah lingkungan masih tinggi, sehingga produksi terus meningkat. Kebiasaan membeli pakaian untuk satu kali pakai perlu diubah.

Pengamat Fashion, Lynda Ibrahim, menilai overconsumption sebagai penyebab utama tumpukan sampah. Menurutnya, perilaku belanja yang tidak berumur panjang mempercepat produksi dan limbah. Ia menekankan perlunya perubahan pola konsumsi sejak sekarang.

Aksi untuk Perubahan

Chitra Subyakto membagikan tiga kebiasaan baik untuk mengurangi sampah fesyen. Kebiasaan tersebut mencakup perencanaan pembelian, memperpanjang umur pakaian, dan memilih produk ramah lingkungan. Upaya ini penting untuk mengubah pola konsumsi di masyarakat.

Pertama, perencanaan pembelian dilakukan dengan memahami kebutuhan nyata. Kedua, perawatan pakaian secara tepat dapat memperpanjang usia produk tersebut. Ketiga, memilih produk berkelanjutan mendorong inovasi industri fesyen.

Para pembaca diajak untuk mulai dari diri sendiri. Setiap langkah kecil dapat mengurangi beban limbah fesyen secara signifikan. Kolaborasi SMM dan Ekspedisi Indonesia Baru menekankan bahwa perubahan budaya fesyen bisa dimulai sekarang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!