Elyse Myers Ungkap Perjuangan Histerektomi dan Nyeri Kronis

Lifestyle Nadia Safira Putri 02 Juni 2026 02:34 WIB 2
Elyse Myers Ungkap Perjuangan Histerektomi dan Nyeri Kronis

Elyse Myers kembali menjadi sorotan setelah penggalan wawancaranya di podcast ramai dibicarakan di media sosial. Dalam percakapan itu, ia mengungkap perjuangan panjang menghadapi nyeri kronis dan pendarahan yang terjadi hampir sepanjang tahun. Kisah tersebut menyentuh banyak perempuan karena mencerminkan tantangan dalam mencari penanganan medis yang tepat. Dukungan juga mengalir setelah Myers menceritakan bahwa ia akhirnya menjalani histerektomi.

Perbincangan itu terjadi saat Myers hadir dalam podcast bersama atlet rugby Olimpiade, Ilona Maher, yang merespons ceritanya dengan empati. Cuplikan video yang kembali diunggah pada 3 Mei memicu diskusi luas mengenai kesehatan reproduksi perempuan. Banyak warganet membagikan pengalaman serupa, terutama tentang sulitnya mendapat validasi dari tenaga medis. Topik tersebut kembali menyoroti pentingnya akses layanan kesehatan yang lebih peka terhadap keluhan pasien perempuan.

Kesehatan Reproduksi Myers

Myers menjelaskan bahwa sebelum menjalani operasi, ia hidup dengan kondisi yang sangat mengganggu aktivitas sehari-hari. Ia mengatakan mengalami pendarahan sekitar 300 hari dalam setahun, disertai mual yang berkepanjangan. Kondisi itu membuat berat badannya turun drastis karena ia sulit makan secara normal. Ia juga mengaku pernah pingsan saat antre pemeriksaan TSA di bandara.

Keluhan yang dialaminya bukan hanya soal fisik, tetapi juga berdampak pada kualitas hidup secara keseluruhan. Rasa sakit kronis membuat Myers harus menyesuaikan banyak hal dalam rutinitasnya. Situasi ini membuatnya semakin mencari penjelasan dan solusi medis yang tepat. Namun, perjalanan itu tidak berlangsung mudah karena ia sempat merasa tidak didengarkan.

Dalam podcast tersebut, Myers mengaku sempat bercanda bahwa rahimnya seperti berusaha membunuhnya. Ucapan itu kemudian disambut oleh Ilona Maher dengan komentar yang memancing perhatian publik. Respons tersebut membuat banyak perempuan merasa pengalaman mereka akhirnya mendapat ruang untuk dibicarakan. Dari sana, percakapan tentang kesehatan reproduksi kembali mencuat ke ruang publik.

Pengalaman Diperiksa Dokter

Myers menuturkan bahwa ia kerap datang ke dokter dengan harapan mendapat jawaban atas kondisinya. Namun, ia justru sering merasa tidak dipercaya ketika menyampaikan keluhan yang ia rasakan. Menurutnya, pengalaman itu sangat melelahkan secara mental dan emosional. Karena itu, ia merasa lega ketika akhirnya bertemu dokter yang benar-benar mendengarkannya.

Ia menyebut momen tersebut sebagai bentuk validasi setelah bertahun-tahun menghadapi ketidakpastian. Bagi Myers, pengakuan dari tenaga medis menjadi bagian penting dalam proses pemulihan. Ia menilai banyak pasien perempuan mengalami hal serupa saat berusaha mencari penanganan yang sesuai. Situasi ini, menurutnya, menunjukkan masih adanya jarak antara keluhan pasien dan respons medis.

Myers juga menyoroti hambatan yang dialami perempuan muda saat mengajukan prosedur medis tertentu. Ia mengatakan ada dokter yang menolak tindakan karena pasien dianggap masih terlalu muda. Padahal, keputusan itu menyangkut tubuh dan kualitas hidup pasien sendiri. Pandangan tersebut memicu perdebatan mengenai otonomi perempuan atas kesehatan reproduksi mereka.

Keputusan Histerektomi

Sebelum operasi dilakukan, Myers dan suaminya telah memutuskan untuk tidak menambah anak lagi. Ia kini memiliki dua putra yang masih kecil, sehingga keputusan medis itu dibuat dengan pertimbangan keluarga. Kondisi tersebut membuat histerektomi menjadi opsi yang dinilai paling tepat bagi dirinya. Ia menyebut keputusan itu tidak diambil secara tergesa-gesa.

Meski begitu, Myers mengaku tidak menyangka akan mendapat saran histerektomi di usia yang masih muda. Baginya, usulan tersebut sempat terasa besar dan berat untuk diterima. Namun, setelah mempertimbangkan kondisi tubuhnya, ia merasa langkah itu perlu dilakukan. Keputusan tersebut akhirnya memberinya harapan untuk hidup dengan keluhan yang lebih terkendali.

Pengalaman Myers kemudian memicu banyak respons dari perempuan yang pernah menghadapi penolakan serupa. Mereka menilai diskusi semacam ini penting agar pasien tidak merasa sendirian. Cerita tersebut juga menegaskan bahwa keputusan medis seharusnya dibuat berdasarkan kondisi pasien, bukan semata usia. Dalam konteks itu, histerektomi menjadi bagian dari upaya Myers mendapatkan kembali kualitas hidupnya.

Pulih Setelah Operasi

Beberapa minggu setelah operasi, Myers merasakan perubahan yang signifikan pada tubuhnya. Ia mengatakan jerawatnya mulai hilang, kualitas tidurnya membaik, dan rambutnya tidak lagi rontok. Perubahan itu membuatnya merasa kondisi fisiknya perlahan kembali stabil. Baginya, hasil tersebut menjadi tanda bahwa tubuhnya merespons pemulihan dengan baik.

Perbaikan kesehatan itu juga memberi dampak pada keseharian Myers. Ia tidak lagi harus menghadapi rasa mual dan kelelahan yang sebelumnya menguras energi. Meski proses pemulihan tetap memerlukan waktu, ia merasakan kemajuan yang jelas. Hal ini membuatnya lebih optimistis menjalani aktivitas bersama keluarga.

Kisah Myers menunjukkan bahwa penanganan medis yang tepat dapat membawa perubahan besar bagi pasien dengan keluhan kronis. Pengalamannya juga menggarisbawahi pentingnya kepercayaan antara pasien dan dokter. Tanpa itu, banyak perempuan berisiko menunda penanganan hingga kondisi semakin berat. Cerita Myers pun menjadi pengingat bahwa kesehatan reproduksi perlu dibahas secara terbuka dan serius.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!