Eks PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Usaha Jajanan Tradisional

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 30 Mei 2026 02:25 WIB 2
Eks PMI Siti Fatimah Sukses Bangun Usaha Jajanan Tradisional

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, membuktikan bahwa pulang ke Tanah Air dapat menjadi awal baru yang lebih menjanjikan. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu membangun usaha jajanan tradisional dari rumah setelah kembali dari Hongkong pada Mei 2017. Dengan modal awal Rp700 ribu, ia merintis bisnis yang kini dikenal luas dengan nama Qtello Ayu.

Keputusan Fatimah untuk menetap di Indonesia lahir dari keinginan memperbaiki kondisi ekonomi tanpa harus kembali merantau. Berawal dari kebutuhan sebagai single parent, ia memilih memanfaatkan sisa tabungan untuk membuka usaha sendiri. Kini, produk buatannya diminati pelanggan dari dalam maupun luar daerah, dengan produksi yang dapat mencapai 400 kotak per hari.

Rintisan usaha dari rumah

Fatimah mengaku keputusan berhenti bekerja sebagai TKW tidak diambil secara tiba-tiba. Ia merasa penghasilan yang didapat saat itu belum cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Kondisi sebagai orang tua tunggal membuatnya semakin mantap mencari jalan baru. Ia ingin memiliki usaha yang bisa dijalankan dari rumah dan tetap dekat dengan keluarga.

Pada akhir 2017, ia mulai memproduksi jajanan tradisional berbahan dasar singkong. Produk itu kemudian diberi nama Qtello Ayu, yang merupakan perpaduan kata ketela dan ayu.

Modal kecil jadi peluang besar

Usaha tersebut bermula dari modal Rp700 ribu yang berasal dari sisa tabungannya. Bagi Fatimah, angka itu bukan penghalang, melainkan titik awal untuk membangun kemandirian ekonomi.

Ia menegaskan tidak ingin kembali merantau demi mencari penghasilan tambahan. Tekad itu membuatnya berani memutar modal kecil menjadi usaha yang benar-benar berjalan.

Di tahap awal, produk yang dijual hanya tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Seiring waktu, variasinya berkembang menjadi sembilan jenis dengan tampilan yang lebih menarik.

Inovasi produk dan pemasaran

Fatimah tidak hanya mengandalkan rasa, tetapi juga tampilan produk yang lebih modern. Jajanan tradisional itu dikemas dengan inovatif sehingga terlihat lebih menarik secara visual.

Varian yang kini dijual antara lain sarang burung, getuk bakar, talam lapis, talam pisang, Singju Krispi, dan Cendol Ayu. Sentuhan kreatif itu membuat produk berbasis singkong tersebut lebih mudah diterima konsumen lintas usia.

Untuk pemasaran, ia memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, media sosial, serta promosi dari mulut ke mulut. Strategi sederhana itu terbukti efektif dalam memperluas jangkauan pelanggan.

Omzet dan rencana ekspansi

Berbekal kerja keras, Qtello Ayu kini memiliki pelanggan tetap dari berbagai daerah. Produksinya bisa mencapai 400 kotak per hari dengan omzet rata-rata sekitar Rp1 juta.

Menurut Fatimah, pendapatan hariannya kerap naik turun tergantung pesanan yang masuk. Dalam kondisi tertentu, omzetnya dapat mencapai Rp2 juta hingga Rp3 juta per hari.

Untuk memenuhi permintaan, ia dibantu keluarga dan dua karyawan harian yang bekerja dari rumah. Selain memperbaiki ekonomi keluarga, hasil usaha itu juga digunakan untuk melunasi utang dan membeli mobil operasional.

Salah satu anaknya bahkan telah membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Fatimah berharap usahanya terus berkembang ke kota-kota lain karena permintaan dari luar daerah masih terbuka lebar.

Ia juga berpesan agar pelaku usaha tetap kuat ketika menghadapi proses yang tidak mudah. Menurutnya, semangat perlu dijaga dengan kembali mengingat tujuan awal saat memulai usaha.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!