Eks PMI Hongkong Raih Sukses Lewat Bisnis Jajanan Singkong

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 31 Mei 2026 00:42 WIB 2
Eks PMI Hongkong Raih Sukses Lewat Bisnis Jajanan Singkong

Mantan pekerja migran Indonesia, Siti Fatimah, berhasil membangun usaha jajanan tradisional dari rumah setelah pulang ke Tanah Air pada Mei 2017. Perempuan asal Trenggalek, Jawa Timur, itu memulai langkah barunya usai lima tahun bekerja di Hongkong dan merasa ingin memiliki penghasilan yang lebih berkembang. Keputusan itu kemudian mengantarkannya menjadi pebisnis dengan produk olahan singkong bernama Qtello Ayu.

Berbekal tabungan tersisa Rp700 ribu, Fatimah merintis usaha dari nol dan menjual aneka jajanan seperti ongol-ongol, getuk, serta kelepon. Kini, produk yang ia buat berkembang menjadi sembilan varian, dengan penjualan yang menjangkau Tulungagung, Trenggalek, hingga luar kota. Kisahnya menunjukkan bahwa mantan pekerja migran juga bisa sukses membangun bisnis di kampung halaman.

Bisnis Rumahan yang Tumbuh

Fatimah memulai usaha pada akhir 2017 dengan tekad kuat untuk tidak kembali merantau. Ia menilai, kebutuhan hidup terus bertambah, sementara pekerjaan lamanya belum memberi ruang yang cukup untuk berkembang. Dari rumah, ia lalu merancang usaha berbasis jajanan tradisional yang mudah diproduksi.

Nama Qtello Ayu dipilih sebagai identitas produk, yang berasal dari perpaduan kata ketela dan ayu. Pilihan itu mencerminkan konsep usaha yang sederhana, tetapi tetap memiliki daya tarik. Sejak awal, Fatimah menargetkan produk yang dekat dengan masyarakat dan mudah dijual.

Dengan modal awal Rp700 ribu, ia membeli bahan baku dan mulai berproduksi secara bertahap. Ia tidak langsung mengejar skala besar, melainkan fokus pada ketekunan dan keberlanjutan usaha. Pendekatan itu membuat bisnisnya perlahan tumbuh dan memiliki pelanggan tetap.

Inovasi Produk dan Pemasaran

Awalnya, produk yang dijual hanya terdiri atas tiga varian, yakni ongol-ongol, getuk, dan kelepon. Seiring waktu, pilihan menunya berkembang menjadi sembilan varian dengan tampilan lebih modern dan berwarna. Beberapa di antaranya adalah sarang burung, getuk bakar, talam lapis, dan talam pisang.

Fatimah juga menghadirkan kreasi singkong goreng modern seperti Singju Krispi dan Cendol Ayu. Inovasi ini membuat jajanan tradisional terlihat lebih segar di mata konsumen. Meski berbahan dasar sederhana, pengemasan yang menarik membantu produk lebih mudah diterima pasar.

Untuk pemasaran, ia memanfaatkan WhatsApp, grup alumni, dan media sosial. Ia juga mengandalkan promosi dari mulut ke mulut yang terbukti efektif di daerahnya. Strategi tersebut memperluas jangkauan pelanggan tanpa membutuhkan biaya promosi besar.

Pendapatan dan Kapasitas Produksi

Seiring bertambahnya permintaan, produksi Qtello Ayu kini mencapai sekitar 400 kotak per hari. Omzet hariannya rata-rata berada di kisaran Rp1 juta, meski pada waktu tertentu bisa lebih tinggi. Fatimah menyebut penjualan kadang naik hingga Rp2 juta sampai Rp3 juta dalam sehari.

Pasar produknya tidak hanya berasal dari Tulungagung dan Trenggalek, tetapi juga dari luar daerah. Jajanan buatannya kerap dibawa sebagai oleh-oleh ke Surabaya, Probolinggo, hingga Jakarta. Kondisi itu menunjukkan bahwa produk rumahan juga bisa bersaing di pasar yang lebih luas.

Untuk menjaga kualitas, Fatimah tidak bekerja sendirian dalam memproduksi pesanan. Ia dibantu oleh keluarga dan dua karyawan harian yang ikut menangani proses produksi. Seluruh kegiatan usaha tetap dijalankan dari rumah agar kesegaran produk tetap terjaga.

Dampak dan Inspirasi Usaha

Hasil usaha tersebut tidak hanya memperbaiki kondisi ekonomi keluarga, tetapi juga membantu Fatimah melunasi utang. Dari bisnis yang dibangun secara bertahap, ia bahkan mampu membeli mobil untuk operasional. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa usaha kecil bisa menghasilkan perubahan besar.

Salah satu anaknya yang telah berkeluarga juga ikut terinspirasi dan membuka cabang Qtello Ayu di Bandung. Fatimah berharap usahanya bisa hadir di lebih banyak kota karena permintaan terus meningkat. Baginya, peluang usaha akan selalu terbuka selama pelaku bisnis mau menjaga kualitas dan konsistensi.

Fatimah menegaskan bahwa menjalankan usaha bukan perkara mudah dan membutuhkan proses panjang. Ia mengingatkan calon pelaku usaha untuk tetap memegang tujuan saat semangat mulai menurun. Menurutnya, tekad dan ketahanan menjadi modal penting agar bisnis dapat bertahan dan berkembang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!