Rupiah Dekati Rp17.800, Menkeu Sebut Tak Masuk Akal

Ekonomi Bisnis Gilang Nabaris 31 Mei 2026 01:47 WIB 2
Rupiah Dekati Rp17.800, Menkeu Sebut Tak Masuk Akal

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kembali tertekan dan nyaris menyentuh level Rp17.800 per dolar AS pada penutupan perdagangan Selasa, 26 Mei 2026. Pada akhir sesi, dolar AS menguat 0,29 persen atau 52 poin ke posisi Rp17.795. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai pelemahan itu tidak sejalan dengan kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih bagus. Ia menyampaikan pandangan tersebut saat ditemui di kantor Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta Selatan, pada Rabu, 27 Mei 2026.

Purbaya menegaskan bahwa rupiah biasanya melemah ketika ada gangguan pada fundamental ekonomi. Menurutnya, situasi saat ini justru bertolak belakang karena indikator dasar ekonomi masih relatif solid. Ia juga menolak anggapan bahwa pemerintah perlu segera melakukan pengujian ulang terhadap ketahanan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Pemerintah, kata dia, telah lebih dulu memperhitungkan skenario harga minyak dunia hingga US$100 per barel.

Rupiah dan Fundamental Ekonomi

Purbaya menilai pelemahan rupiah yang terjadi belakangan tidak masuk akal jika dibandingkan dengan kondisi ekonomi nasional. Ia menyebut fundamental Indonesia masih bagus dan belum menunjukkan gangguan serius yang biasanya memicu tekanan nilai tukar. Karena itu, ia melihat pelemahan yang terjadi lebih sebagai anomali pasar ketimbang cerminan masalah struktural. Pandangan tersebut ia sampaikan secara terbuka di hadapan wartawan.

Menurut Purbaya, tekanan terhadap rupiah umumnya muncul ketika ada persoalan pada fundamental ekonomi. Namun, dalam kondisi saat ini, ia menilai justru tidak ada gejolak besar yang bisa menjelaskan pelemahan tersebut. Hal itu membuat pergerakan rupiah tampak tidak selaras dengan data dasar ekonomi yang ada. Ia pun menekankan bahwa kondisi tersebut perlu dibaca dengan hati-hati.

Di tengah tekanan terhadap mata uang, pemerintah tetap memantau perkembangan pasar keuangan secara menyeluruh. Purbaya menyebut pengawasan dilakukan agar stabilitas ekonomi tidak terganggu oleh sentimen jangka pendek. Ia juga menegaskan bahwa kebijakan pemerintah tidak diambil secara reaktif. Sebaliknya, langkah-langkah yang disiapkan mengikuti perhitungan fiskal yang telah disusun sebelumnya.

Penilaian Purbaya menunjukkan bahwa pemerintah masih percaya diri terhadap daya tahan ekonomi domestik. Keyakinan itu bertumpu pada fundamental yang dianggap kuat, termasuk kemampuan fiskal dan stabilitas sektor keuangan. Meski rupiah tertekan, pemerintah belum melihat adanya sinyal krisis. Dengan demikian, fokus utama saat ini adalah menjaga stabilitas tanpa menimbulkan kepanikan pasar.

APBN Belum Perlu Diuji Ulang

Menkeu Purbaya menolak wacana perlunya stress test baru terhadap APBN akibat pelemahan rupiah. Ia menyebut perhitungan terhadap skenario ekstrem sudah pernah dilakukan sebelumnya. Salah satunya adalah simulasi ketika harga minyak dunia menyentuh US$100 per barel. Dalam simulasi itu, asumsi nilai tukar rupiah juga telah dimasukkan ke dalam kalkulasi fiskal.

Karena itu, Purbaya menyatakan tidak ada kebutuhan untuk menghitung ulang APBN saat ini. Ia menilai parameter yang digunakan dalam penyusunan anggaran sudah cukup mencakup risiko-risiko utama. Pernyataan tersebut sekaligus meredam spekulasi bahwa pelemahan rupiah akan langsung menekan postur fiskal negara. Menurutnya, pemerintah sudah mengantisipasi kemungkinan terburuk sejak awal.

Purbaya bahkan menyampaikan pernyataan bernada ringan ketika menjawab pertanyaan soal stress test APBN. Ia mengatakan justru dirinya yang stres, bukan fiskal negara. Ucapan itu menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin bereaksi berlebihan terhadap pergerakan rupiah. Sikap tersebut mencerminkan upaya menjaga ketenangan di tengah volatilitas pasar.

Dengan dasar perhitungan yang telah disiapkan, pemerintah menilai APBN masih berada dalam kondisi aman. Proyeksi fiskal, menurut Purbaya, tidak bergantung pada fluktuasi jangka pendek di pasar valas. Selama asumsi utama tetap terjaga, ruang fiskal disebut masih cukup kuat. Pemerintah pun belum melihat alasan untuk melakukan revisi mendasar terhadap skenario anggaran.

Yield Obligasi Bergerak Turun

Di saat rupiah melemah, Purbaya justru mencatat adanya penurunan imbal hasil atau yield di pasar obligasi Indonesia. Kondisi ini dianggap sebagai sinyal bahwa pasar surat utang domestik masih terkendali. Menurut dia, stabilitas di pasar obligasi penting untuk menjaga kepercayaan investor. Hal itu menjadi salah satu penopang utama bagi arus modal ke dalam negeri.

Pemerintah disebut telah melakukan intervensi melalui treasury operation di pasar Surat Berharga Negara. Langkah itu dilakukan oleh jajaran Direktorat Jenderal Perbendaharaan untuk membantu menahan kenaikan yield. Dengan mekanisme tersebut, pemerintah berupaya menjaga agar pasar obligasi tidak bergerak terlalu liar. Tujuannya adalah mempertahankan stabilitas finansial secara keseluruhan.

Purbaya menjelaskan bahwa aksi pemerintah itu membantu menjaga agar yield tetap terkendali. Ia menilai pengendalian yield menjadi penting karena berhubungan langsung dengan minat investor. Jika pasar obligasi stabil, maka sentimen terhadap aset keuangan Indonesia cenderung lebih baik. Dalam situasi seperti itu, tekanan terhadap rupiah dapat diredam secara bertahap.

Selain menjaga pasar obligasi, pemerintah juga ingin memastikan kebijakan stabilisasi berjalan berkelanjutan. Intervensi yang dilakukan tidak dimaksudkan untuk menciptakan efek sesaat. Sebaliknya, kebijakan tersebut diarahkan untuk membangun kepercayaan pasar dalam jangka lebih panjang. Purbaya menegaskan bahwa pemerintah akan terus memantau pergerakan yield dan nilai tukar secara bersamaan.

Arus Modal Asing Masuk

Purbaya menilai pasar obligasi yang terkendali akan mendorong minat investor asing untuk masuk ke Indonesia. Menurut dia, arus modal asing mulai terlihat kembali ke pasar obligasi domestik. Hal ini menjadi indikasi bahwa kepercayaan pasar masih ada meski rupiah sempat tertekan. Pemerintah pun melihat momentum tersebut sebagai peluang untuk memperkuat stabilitas keuangan.

Ia menekankan bahwa investor asing cenderung mencari pasar yang memiliki kepastian dan ketenangan. Ketika yield obligasi stabil, persepsi risiko terhadap Indonesia ikut menurun. Situasi itu dapat memperbesar peluang masuknya dana asing ke instrumen keuangan domestik. Dengan demikian, tekanan pada rupiah berpotensi berkurang seiring membaiknya aliran dana masuk.

Ke depan, pemerintah berencana mengambil langkah tambahan untuk membantu menguatkan rupiah. Purbaya menyebut tindakan lanjutan akan dilakukan jika diperlukan dan akan memberikan dampak yang lebih signifikan. Namun, ia tidak merinci bentuk intervensi berikutnya yang disiapkan. Pemerintah disebut akan menyesuaikan langkah dengan perkembangan pasar.

Secara keseluruhan, pemerintah tetap optimistis terhadap ketahanan ekonomi dan pasar keuangan Indonesia. Pelemahan rupiah dinilai belum mencerminkan masalah fundamental yang serius. Dengan dukungan intervensi di pasar obligasi dan masuknya modal asing, stabilitas diyakini masih dapat dijaga. Pemerintah pun menegaskan akan terus bekerja untuk menjaga kepercayaan pasar.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!