Anime Dijajal sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 02:51 WIB 2
Anime Dijajal sebagai Terapi Kesehatan Mental di Jepang

Anime yang selama ini identik sebagai hiburan, kini diuji untuk peran yang lebih serius di Jepang, yakni membantu kesehatan mental. Gagasan ini datang dari psikiater asal Italia, Francesco Panto, yang meneliti potensi karakter anime sebagai media pendukung bagi mereka yang mengalami stres, burnout, hingga depresi.

Melalui studi percontohan di Yokohama City University, Francesco dan timnya menjalankan konseling berbasis karakter terhadap 20 responden berusia 18-29 tahun. Pendekatan ini memanfaatkan avatar bergaya anime, suara digital yang dimodifikasi, serta alur karakter yang dirancang agar peserta merasa lebih nyaman membuka diri.

Anime dan kesehatan mental

Francesco Panto mengaku ketertarikannya pada anime berawal dari pengalaman pribadi saat remaja di pedesaan Sisilia, Italia. Ia menyebut manga dan anime sebagai tempat berlindung ketika kesulitan menemukan jati diri.

Menurutnya, dunia anime memberi dukungan emosional yang penting saat ia tumbuh di lingkungan yang sarat stereotip gender. Pengalaman itu pula yang kemudian membentuk pandangannya tentang kemungkinan penggunaan karakter fiksi dalam terapi psikologis.

Ia menjelaskan bahwa video game Final Fantasy menjadi titik penting lain dalam proses itu, karena karakter protagonisnya terasa dekat dengan dirinya. Dari situ, Francesco mulai melihat bahwa representasi karakter yang kuat dapat membantu seseorang merasa lebih diterima.

Konseling berbasis karakter

Dalam penelitian ini, peserta tidak menjalani konseling konvensional, melainkan berbicara dengan psikolog yang tampil sebagai avatar anime. Suara digital yang dimodifikasi membuat sesi terasa berbeda, namun tetap diarahkan untuk membahas gejala depresi yang dialami peserta.

Francesco menyebut pendekatan ini sebagai character-based counselling, yakni konseling yang memanfaatkan daya tarik karakter fiksi sebagai jembatan emosional. Ia menilai filter fantasi dari karakter anime bisa membantu orang lebih nyaman, sekaligus lebih mudah mengenali persoalan mentalnya.

Tim peneliti menyiapkan enam karakter khusus yang masing-masing memiliki latar dan kepribadian berbeda. Salah satunya, Kuroto Nagi, digambarkan memiliki ciri bipolar, sementara karakter lain dibuat mewakili kecemasan, trauma, dan masalah konsumsi alkohol.

Karakter yang menarik perhatian

Setiap tokoh dirancang terinspirasi dari arketipe khas manga Jepang, sehingga terasa akrab bagi para peserta. Pilihan karakter dibuat beragam, mulai dari figur keibuan yang tenang namun membawa senjata, hingga sosok pria seperti pangeran yang sangat peka secara emosional.

Francesco menegaskan, karakter-karakter tersebut sengaja dibuat tetap menyenangkan dan menarik, meski membawa isu kesehatan mental yang berat. Psikolog yang memandu sesi diminta tidak membuat masalah yang diangkat terlalu gamblang di awal percakapan.

Pendekatan itu diharapkan memudahkan peserta membangun kedekatan dengan karakter yang mereka pilih. Dengan begitu, proses konseling bisa berjalan lebih alami tanpa menimbulkan rasa terintimidasi.

Stigma bantuan psikologis

Penelitian ini juga menjadi bagian dari upaya Jepang mencari solusi atas tantangan kesehatan mental, termasuk fenomena ikizurasa, yakni perasaan sulit menjalani hidup dan bertahan dalam masyarakat. Mio Ishii, asisten profesor yang ikut memimpin proyek, mengatakan banyak anak muda kesulitan pergi ke sekolah atau mempertahankan pekerjaan.

Ia menilai tujuan utama riset ini adalah memberi pilihan baru bagi mereka yang membutuhkan pemulihan. Menurutnya, pilihan itu penting karena tidak semua orang merasa nyaman langsung mengakses layanan kesehatan mental.

Mio juga menyoroti masih kuatnya stigma terhadap pencarian bantuan psikologis di Jepang. Data yang dikutip World Economic Forum menunjukkan, hingga 2022 hanya sekitar 6 persen masyarakat Jepang yang pernah menggunakan layanan konseling psikologis untuk masalah kesehatan mental.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!