Sarden Kalengan Diperdebatkan, Dokter Tetap Sarankan Real Food

Lifestyle Clara Monica 31 Mei 2026 04:14 WIB 2
Sarden Kalengan Diperdebatkan, Dokter Tetap Sarankan Real Food

Sarden kalengan belakangan ramai dibicarakan karena dianggap bukan ultra processed food atau UPF. Namun, praktisi kesehatan menegaskan bahwa makanan yang paling aman dan sehat tetaplah real food. Pandangan itu disampaikan dr Aru Ariadno, SpPD-KGEH, dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dalam bincang bersama detikcom pada Kamis, 21 Mei 2026. Ia menilai masyarakat perlu lebih cermat saat menilai makanan olahan yang dikonsumsi sehari-hari.

Menurut dr Aru, proses pembuatan makanan olahan kerap melibatkan campuran bahan tambahan yang tidak selalu bisa diawasi secara menyeluruh. Kondisi tersebut membuat risiko penyimpangan keamanan pangan tetap mungkin terjadi, meski sudah ada regulasi yang mengatur. Ia menilai, pilihan pangan yang minim proses masih menjadi opsi paling ideal. Di tengah gaya hidup serba cepat, persoalan itu makin relevan bagi banyak orang.

Sarden Kalengan dan Makanan Olahan

dr Aru menegaskan bahwa makanan olahan tidak bisa serta-merta dianggap setara dengan makanan segar. Ia menyebut, konsumen tidak selalu mengetahui seluruh tahapan produksi yang digunakan dalam pengolahan makanan. Karena itu, aspek keamanan tetap perlu menjadi perhatian utama. Sarden kalengan menjadi salah satu contoh produk yang memicu perdebatan publik.

Ia menjelaskan bahwa bahan tambahan pada makanan olahan dapat bervariasi, mulai dari pengawet hingga penambah rasa. Meski komposisinya diatur, tidak semua risiko dapat dihilangkan sepenuhnya. Situasi ini membuat masyarakat perlu lebih selektif dalam memilih makanan kemasan. Pemahaman terhadap label dan komposisi menjadi langkah penting sebelum membeli.

Dalam pandangannya, istilah UPF bukan satu-satunya acuan untuk menilai kualitas makanan. Yang lebih penting adalah seberapa jauh makanan tersebut diproses dan apa saja kandungan tambahannya. Semakin dekat sebuah bahan pangan dengan bentuk aslinya, semakin baik nilai gizinya. Prinsip itu, kata dia, menjadi dasar sederhana dalam memilih makanan harian.

Real Food Tetap Utama

dr Aru menilai real food masih menjadi pilihan terbaik bagi kesehatan tubuh. Makanan segar umumnya lebih mudah dikenali kandungannya dan tidak banyak melalui proses tambahan. Dengan begitu, konsumen memiliki kontrol yang lebih jelas atas apa yang masuk ke tubuh. Hal ini dinilai penting untuk menjaga pola makan jangka panjang.

Ia menambahkan bahwa makanan minim proses cenderung lebih aman bila dikonsumsi secara rutin. Selain itu, bahan pangan segar juga dapat membantu tubuh memperoleh nutrisi yang lebih utuh. Meski tidak selalu praktis, kebiasaan ini dinilai lebih menguntungkan dalam jangka panjang. Karena itu, real food tetap direkomendasikan sebagai pilihan utama.

Namun, ia juga memahami bahwa tidak semua orang mudah menerapkan pola makan tersebut setiap hari. Ketersediaan waktu dan akses bahan pangan menjadi faktor yang sering menghambat. Dalam kondisi tertentu, makanan olahan kerap menjadi pilihan yang sulit dihindari. Meski begitu, frekuensinya tetap perlu dijaga agar tidak berlebihan.

Risiko Kesehatan Meningkat

dr Aru menyoroti peningkatan kasus penyakit metabolik pada kelompok usia muda. Ia menyebut, kini usia 30-an pun sudah banyak yang mengalami hipertensi dan diabetes. Kondisi itu menunjukkan bahwa pola hidup masyarakat modern semakin rentan terhadap masalah kesehatan. Menurutnya, perubahan ini tidak bisa diabaikan.

Ia menilai tren tersebut berkaitan dengan pola makan yang makin bergantung pada makanan olahan. Konsumsi berlebihan terhadap produk praktis berpotensi memengaruhi kesehatan metabolik. Bila dilakukan terus-menerus, risiko penyakit kronis dapat meningkat lebih cepat. Karena itu, edukasi gizi menjadi semakin penting.

Selain pada orang dewasa muda, peningkatan kasus juga terlihat pada kelompok usia anak dan remaja. dr Aru menyebut angka kesakitan pada usia muda saat ini lebih tinggi dibanding masa sebelumnya. Menurutnya, hal ini menjadi sinyal bahwa perhatian terhadap makanan harian harus dimulai sejak dini. Pencegahan melalui pola makan sehat dinilai jauh lebih efektif.

Praktis Bukan Berarti Aman

Kesibukan membuat banyak orang sulit menyiapkan makanan sendiri setiap hari. Akibatnya, makanan olahan menjadi pilihan yang paling mudah dan cepat diakses. dr Aru memahami kondisi tersebut sebagai realitas kehidupan modern. Namun, kemudahan tidak otomatis berarti pilihan itu paling aman bagi tubuh.

Ia menyebut masyarakat perlu mencari keseimbangan antara kepraktisan dan kualitas gizi. Mengurangi konsumsi makanan olahan dan memperbanyak bahan segar bisa menjadi langkah yang realistis. Pilihan sederhana seperti buah, sayur, dan lauk segar dapat membantu memperbaiki pola makan. Kebiasaan kecil yang konsisten dinilai lebih berdampak dibanding perubahan drastis sesaat.

Pada akhirnya, dr Aru kembali menekankan pentingnya kesadaran konsumen dalam memilih pangan. Sarden kalengan dan produk serupa boleh saja dikonsumsi, tetapi tidak seharusnya menjadi andalan utama. Real food tetap menjadi fondasi pola makan yang lebih sehat dan aman. Dengan pemilihan yang lebih bijak, risiko kesehatan dapat ditekan sejak sekarang.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!