Putra mendiang musisi Deddy Dores, Calvin Dores, buka suara setelah niatnya menjual kornea mata senilai Rp350 juta memicu respons negatif dari warganet. Ia menegaskan tudingan yang menyebut dirinya malas dan mencari jalan pintas adalah keliru.
Calvin menjelaskan, selama ini ia tetap berusaha mencari nafkah melalui berbagai pekerjaan di bidang jasa, meski penghasilannya tidak tetap setiap bulan. Di tengah tekanan ekonomi, ia mengaku juga sedang berjuang membiayai pengobatan ibunya yang menderita penyakit jantung.
Respons Calvin Dores
Calvin menepis anggapan bahwa dirinya tidak mau bekerja dan hanya ingin hidup dari cara instan. Menurutnya, ia selama ini menjalani pekerjaan sebagai pekerja lepas yang dibayar berdasarkan proyek yang selesai. Karena itu, penghasilannya sangat bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan.
Ia menyebut dirinya bukan karyawan tetap, melainkan pekerja mandiri di sektor jasa. Dalam kondisi tertentu, pendapatannya bisa sangat besar, tetapi pada masa lain ia bisa tidak menerima pemasukan sama sekali. Situasi itu membuat kondisi keuangannya tidak stabil.
Calvin juga mengaku komentarnya di media sosial kerap dipelintir menjadi penilaian yang tidak adil. Ia merasa banyak orang menilai tanpa memahami kondisi hidup yang sedang dihadapinya. Karena itu, ia memilih memberi penjelasan agar publik tidak salah paham.
Meski diterpa kritik, Calvin menegaskan dirinya tidak berhenti berusaha mencari penghidupan yang layak. Ia tetap bekerja semampunya, sekaligus berupaya menjaga ketahanan ekonomi keluarga. Menurutnya, kerja keras tetap menjadi pegangan utama dalam situasi sulit.
Jejak Pekerjaan Serabutan
Selama ini, Calvin mengaku pernah menjalani berbagai pekerjaan untuk menyambung hidup. Ia disebut pernah terlibat dalam pembuatan lagu, menjadi calo motor, hingga menjadi joki gim daring. Ragam pekerjaan itu dijalaninya sesuai peluang yang datang.
Bagi Calvin, pekerjaan serabutan merupakan pilihan realistis agar tetap memiliki pemasukan. Ia menilai tidak semua orang memiliki kemewahan memilih pekerjaan yang ideal. Dalam situasi tertentu, kemampuan beradaptasi menjadi modal utama untuk bertahan.
Ia menjelaskan, penghasilannya sebagai pekerja lepas tidak memiliki standar pasti. Ada kalanya hasil kerja sebanding dengan penghasilan manajer, namun ada pula periode ketika sama sekali tidak ada uang masuk. Ketidakpastian itu menjadi bagian dari kehidupannya sehari-hari.
Kondisi tersebut membuatnya harus cermat mengatur kebutuhan rumah tangga. Ia mengaku harus menyesuaikan pengeluaran dengan pemasukan yang tersedia. Dalam keadaan seperti itu, kemampuan bertahan menjadi hal yang paling penting.
Kendala Pendidikan
Calvin juga menyinggung hambatan pendidikan yang menurutnya menjadi salah satu alasan sulit mendapat pekerjaan formal. Ia hanya memiliki ijazah sekolah dasar, sehingga banyak lowongan kerja yang tidak bisa ia akses. Situasi itu, kata dia, menjadi batas nyata dalam mencari nafkah.
Ia menyebut pernah mencoba melamar ke sejumlah instansi, namun selalu terbentur syarat pendidikan. Beberapa peluang kerja yang sempat terbuka juga tidak dapat ia ambil karena kualifikasi administrasi tidak terpenuhi. Hal tersebut membuat pencarian kerja terasa semakin berat.
Dalam penjelasannya, Calvin mempertanyakan penilaian warganet yang dianggap terlalu mudah menghakimi. Ia menantang mereka yang mengkritik untuk menunjukkan pekerjaan yang sesuai dengan kondisinya. Baginya, kritik tanpa solusi tidak membantu persoalan yang sedang dihadapi.
Meski begitu, ia tetap menyampaikan harapan agar ada kesempatan kerja yang lebih terbuka bagi dirinya. Calvin menilai setiap orang berhak mendapat peluang untuk bekerja dan memperbaiki hidup. Ia berharap hambatan pendidikan tidak selalu menjadi penghalang utama.
Harapan dan Rencana
Di tengah tekanan ekonomi, Calvin mengaku masih menyimpan keinginan untuk memiliki usaha sendiri. Salah satu rencana yang ada di pikirannya adalah membangun bisnis laundry. Usaha itu diharapkan dapat memberi pemasukan yang lebih stabil bagi keluarganya.
Ia mengatakan ingin memiliki sesuatu yang bisa berkembang dan membuka lapangan kerja bagi orang lain. Menurutnya, cita-cita tersebut bukan sekadar soal keuntungan pribadi. Ia ingin usaha yang dibangun juga membawa manfaat bagi lingkungan terdekatnya.
Calvin menegaskan, fokus utamanya saat ini adalah bertahan dan menata masa depan keluarga. Ia tidak ingin larut dalam komentar negatif yang datang dari publik. Bagi dia, yang terpenting adalah terus bergerak dan mencari jalan keluar.
Selain memikirkan masa depan ekonomi, Calvin juga tengah menghadapi beban lain, yakni kondisi kesehatan ibundanya. Ia berusaha membagi perhatian antara kebutuhan keluarga, pekerjaan, dan rencana hidup ke depan. Situasi itu membuat perjuangannya terasa semakin berat, namun ia tetap mencoba melangkah.
