Chiki Fawzi Pulang, Ayah Sambut Haru Setelah Misi Gaza

Lifestyle Nadia Safira Putri 31 Mei 2026 04:12 WIB 3
Chiki Fawzi Pulang, Ayah Sambut Haru Setelah Misi Gaza

Chiki Fawzi akhirnya kembali ke Tanah Air setelah terlibat dalam misi kemanusiaan internasional menuju Gaza. Kepulangannya pada Selasa, 26 Mei 2026, disambut penuh haru oleh sang ayah, musisi senior Ikang Fawzi, di Jakarta Selatan. Pertemuan itu menjadi momen emosional setelah rangkaian ketegangan yang ia hadapi selama menjalankan tugas kemanusiaan. Chiki juga mengungkap detik-detik saat rekan-rekannya dicegat dan ditahan oleh militer Israel di perairan internasional.

Di balik kepulangan itu, tersimpan pengalaman berbahaya yang dialami Chiki selama berpindah dari Barcelona hingga Istanbul. Ia berada di pusat komando ketika sembilan relawan WNI lainnya berlayar menuju Gaza, sementara dirinya memantau situasi dari darat. Ketegangan memuncak saat kapal bantuan dihadang secara paksa, lalu para relawan ditahan. Menurut Chiki, pengalaman tersebut membuatnya semakin yakin bahwa suara untuk Palestina tidak boleh berhenti.

Haru Kepulangan Chiki Fawzi

Chiki Fawzi mengaku sangat terharu saat ayahnya menjemput langsung kepulangannya di Jakarta Selatan. Ikang Fawzi memeluknya erat sambil menyambut dengan ucapan, Welcome home, Ade. Momen itu disebut Chiki sebagai campuran lega, bahagia, dan emosional setelah melewati tekanan panjang. Ia menyampaikan cerita tersebut saat ditemui di Studio Trans TV, Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan.

Baginya, pelukan sang ayah menjadi penanda bahwa perjalanan berat itu akhirnya selesai dengan selamat. Chiki menyebut suasana pertemuan tersebut membuatnya sulit menahan perasaan setelah berbulan-bulan berada dalam situasi penuh ketidakpastian. Ia menilai dukungan keluarga menjadi energi penting selama menjalani misi kemanusiaan. Karena itu, kepulangan ke rumah terasa jauh lebih bermakna dibanding sekadar kembali dari perjalanan biasa.

Ikang Fawzi disebut hadir langsung untuk memastikan putrinya tiba dengan aman di Indonesia. Kehadiran sang ayah juga menjadi simbol dukungan keluarga terhadap langkah Chiki dalam membela kemanusiaan. Di tengah sorotan publik, momen itu memperlihatkan sisi personal dari perjalanan yang selama ini dipenuhi risiko. Bagi Chiki, sambutan tersebut menjadi bagian paling menguatkan setelah menghadapi berbagai tekanan di lapangan.

Perjalanan Misi Menuju Gaza

Chiki Fawzi menempuh perjalanan kemanusiaan selama berbulan-bulan dengan berpindah dari satu titik ke titik lain. Ia memulai langkah dari Barcelona, kemudian bergerak menuju Turki untuk bergabung dalam koordinasi misi. Selama proses itu, ia tetap mengikuti perkembangan pergerakan kapal bantuan menuju Gaza. Situasi tersebut membuatnya harus siaga penuh sejak awal hingga misi mencapai titik kritis.

Saat sembilan relawan WNI lainnya berlayar menuju Gaza, Chiki bertugas di pusat komando di Istanbul. Ia bersama koordinator Uni Maimun menjadi bagian dari total 11 orang dalam tim yang terlibat dalam pengawasan. Dari lokasi tersebut, ia memantau langsung jalannya operasi dan situasi di laut. Peran itu menempatkannya pada posisi penting untuk menerima informasi secara cepat dan akurat.

Ketika kapal bantuan mendekati wilayah misi, ketegangan mulai meningkat secara signifikan. Chiki menyebut kapal-kapal itu dihadang secara paksa oleh militer Israel di perairan internasional. Ia menyaksikan detik-detik intersepsi yang kemudian berujung pada penahanan para relawan. Menurutnya, peristiwa itu menjadi salah satu titik paling menegangkan selama keterlibatannya dalam misi kemanusiaan.

Kesaksian Penahanan Rekan

Chiki Fawzi mengaku menyaksikan sendiri proses intersepsi yang dialami rekan-rekannya melalui pantauan di pusat komando. Setelah penahanan terjadi, ia kemudian menerima kabar langsung dari para relawan yang akhirnya dibebaskan. Kesaksian yang ia dengar menunjukkan perlakuan keras selama masa penahanan berlangsung. Hal itu membuatnya semakin prihatin dengan kondisi yang dialami para aktivis kemanusiaan tersebut.

Menurut Chiki, para relawan mengalami intimidasi fisik yang sangat berat. Mereka disebut dipukuli, disetrum, dan diborgol menggunakan kabel ties yang sangat kencang hingga melukai tangan. Seorang jurnalis yang ikut menjadi korban bahkan sempat ia temani ke rumah sakit setelah dibebaskan. Kondisi jurnalis itu disebut lebih parah karena mengalami kencing darah akibat benturan di bagian ginjal.

Chiki menilai pengalaman itu menunjukkan betapa besar risiko yang dihadapi para relawan di lapangan. Ia menegaskan bahwa kekerasan yang dialami rekan-rekannya tidak seharusnya terjadi terhadap misi kemanusiaan. Bagi Chiki, kesaksian tersebut justru menguatkan alasan mengapa bantuan untuk rakyat Palestina harus terus disuarakan. Ia menilai peristiwa itu tidak boleh hilang dari perhatian publik.

Tekad Suara untuk Palestina

Meski menghadapi ancaman dan cerita kekerasan, Chiki Fawzi menegaskan tidak ingin mundur dari perjuangan kemanusiaan. Ia mengatakan rasa takut terhadap manusia harus dikalahkan demi menyuarakan kebenaran untuk rakyat Palestina. Menurutnya, keberanian bukan berarti tanpa takut, melainkan tetap melangkah meski situasi sangat berbahaya. Sikap itu menjadi bagian dari keyakinannya selama mengikuti misi tersebut.

Chiki bahkan mengaku lebih takut pada kondisi alam di laut dibanding ancaman militer. Ia menjelaskan kapal di Laut Mediterania bisa miring sangat ekstrem, sehingga para relawan harus mengikat diri dengan karabiner agar tidak jatuh ke laut. Namun saat berhadapan dengan tekanan militer, ia memilih untuk tidak membiarkan rasa takut menguasai pikirannya. Baginya, ketenangan menjadi modal penting agar misi tetap berjalan.

Di akhir keterangannya, Chiki menegaskan pentingnya membebaskan pikiran dari rasa takut terhadap Israel. Ia meyakini perjuangan kemanusiaan memerlukan keberanian, konsistensi, dan solidaritas yang kuat. Pengalaman yang ia alami justru membuat suaranya untuk Palestina semakin tegas. Dengan kepulangannya ke Indonesia, Chiki membawa cerita yang tidak hanya emosional, tetapi juga sarat pesan kemanusiaan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!