Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Barat Raih Penghargaan

Ekonomi Bisnis Kevin S. Pratama 27 Mei 2026 11:34 WIB 2
Dua Perempuan Nelayan Maluku dan Papua Barat Raih Penghargaan

Dua perempuan nelayan dari Maluku Tenggara dan Papua Barat menjadi sorotan setelah dinilai berhasil mengubah peran perempuan pesisir menjadi penggerak ekonomi daerah. Sri Fany Mony dan Nova Theodora J.M. Essuruw menerima penghargaan Perempuan Inspiratif 2025 karena inovasi, kepemimpinan, dan dampak sosial yang mereka hadirkan di komunitas masing-masing.

Penghargaan tersebut diberikan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak bersama Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam tema Perempuan Berdaya dan Berkarya, Menuju Indonesia Emas 2045. Keduanya dinilai mampu memperkuat ekonomi keluarga, meningkatkan nilai tambah hasil laut, dan mendorong praktik perikanan berkelanjutan di wilayah pesisir timur Indonesia.

Inspirasi perempuan pesisir

Sri Fany Mony memulai langkahnya dari seorang ibu rumah tangga tanpa usaha ekonomi yang jelas. Kini, ia memimpin Kelompok Pengolah dan Pemasar atau Poklahsar Dullah Tama di Ohoi Watkidat, Maluku Tenggara.

Di bawah kepemimpinannya, kelompok tersebut mengolah ikan menjadi beragam produk bernilai jual dan mengembangkan ecoprint. Transformasi itu menunjukkan bahwa perempuan pesisir dapat menjadi aktor penting dalam ekonomi lokal.

Pada 2025, Dullah Tama mencatat pendapatan Rp 44,1 juta, naik sekitar 16 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Kelompok ini juga aktif membagikan praktik baik di tingkat nasional hingga internasional.

Inovasi olahan ikan

Nama Nova Theodora J.M. Essuruw juga mendapat perhatian karena gagasannya dalam mengelola sumber daya perikanan di Teluk Arguni, Kaimana. Sebagai pendeta Protestan sekaligus Ketua Wilayah, Nova memimpin Kelompok Seraphim Bofuwer untuk mengembangkan usaha berbasis ikan.

Ia mendorong pemanfaatan ikan kakap cina yang sebelumnya kurang optimal karena hanya diambil gelembung renangnya. Melalui kelompoknya, daging ikan tersebut diolah menjadi abon, sambal, kecap ikan, dan produk pangan lain yang bergizi.

Inisiatif itu bukan hanya menekan pemborosan hasil laut, tetapi juga membuka sumber pendapatan baru bagi perempuan pesisir. Produk Seraphim Bofuwer kini menjangkau Fakfak, Sorong, Timika, dan Jayapura.

Dampak ekonomi komunitas

Ketua Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap Lotharia Latif menilai penghargaan ini menegaskan peran strategis perempuan dalam pembangunan nasional. Ia menyebut proses seleksi dilakukan secara kolaboratif oleh KemenPPPA dan KKP.

Penilaian didasarkan pada kepemimpinan perempuan, dampak sosial-ekonomi di tingkat komunitas, serta kontribusi terhadap pengelolaan perikanan berkelanjutan. Dengan begitu, penghargaan ini tidak hanya menyoroti prestasi individu, tetapi juga pengaruh nyata bagi masyarakat sekitar.

Kedua penerima penghargaan merupakan Champion CFI Indonesia dalam Project GEF-6 CFI Indonesia. Program ini mendukung tata kelola perikanan berkelanjutan di WPP 715, 717, dan 718 di Indonesia Timur.

Peran program berkelanjutan

Project Manager CFI Indonesia, Adipati Rahmat Gumelar, menegaskan bahwa para Champion disiapkan sebagai agen perubahan yang mampu melanjutkan dampak program. Mereka dibekali keterampilan teknis, pengolahan hasil perikanan bernilai tambah, dan praktik ramah lingkungan.

Sejak berjalan pada Desember 2019 hingga 2026, program ini telah menjangkau lebih dari 5.500 nelayan. Sekitar 32 persen di antaranya adalah perempuan nelayan yang ikut dalam penguatan ekonomi pesisir.

Program pemberdayaan juga mencakup pelatihan usaha, sertifikasi produk, penguatan merek, dan kemitraan dengan pasar modern. Produk kelompok binaan kini dipasarkan di lebih dari 10 jaringan ritel modern di Maluku dan Papua Barat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!