Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa melaksanakan salat Idul Adha 1447 H bersama jajaran di Masjid Salahuddin, Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak, Jakarta, pada Rabu pagi. Dalam kesempatan itu, ia juga menyerahkan hewan kurban berupa sapi simental cross dengan bobot 868 kilogram.
Purbaya menyampaikan bahwa pada Idul Adha tahun ini ia berkurban dua ekor sapi. Satu ekor lainnya disembelih di rumah pribadinya di Ciganjur, Jakarta Selatan, dengan bobot yang disebut lebih dari satu ton.
Kurban Purbaya di DJP
Purbaya tiba di kompleks DJP untuk mengikuti salat Idul Adha bersama pejabat dan jajaran kementerian. Seusai ibadah, ia menyerahkan sapi kurban secara langsung kepada panitia penyelenggara. Sapi yang dibawa memiliki jenis simental cross dan berbobot 868 kilogram. Penyerahan itu menjadi perhatian karena dilakukan di lingkungan kerja kementerian yang menaungi kebijakan fiskal negara.
Ia menjelaskan bahwa kurban di lokasi tersebut merupakan bagian dari ibadah Idul Adha yang rutin dilakukan. Menurut Purbaya, momen ini menjadi ruang untuk berbagi dengan masyarakat yang membutuhkan. Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan kurban tidak berkaitan dengan anggaran negara. Seluruh pembiayaan dilakukan dari kantong pribadinya.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya usai penyerahan hewan kurban di Jakarta Pusat. Saat ditanya mengenai besaran biaya kurban tahun ini, ia memilih menjawab santai. Ia menegaskan bahwa dana yang digunakan merupakan dana pribadi. Jawaban itu membuat suasana wawancara berlangsung ringan dan cair.
Keikutsertaan Purbaya dalam salat Idul Adha di DJP menjadi bagian dari rangkaian agenda keagamaan yang dihadiri pejabat publik. Kehadirannya menunjukkan keterlibatan langsung dalam kegiatan sosial-keagamaan di lingkungan kementerian. Selain itu, penyerahan hewan kurban juga memperlihatkan tradisi berbagi yang masih dijaga. Agenda tersebut berlangsung pada pagi hari dengan suasana tertib dan khidmat.
Dana pribadi untuk kurban
Purbaya menyebut seluruh biaya kurban tahun ini berasal dari dana pribadi. Ia mengatakan dana tersebut sempat terkumpul dari rencana keberangkatan haji yang batal dilakukan. Karena rencana itu tidak terlaksana, uang yang sudah disiapkan akhirnya dialihkan untuk kurban. Menurutnya, keputusan itu membuat dana yang tersedia tetap dimanfaatkan untuk hal yang baik.
Dalam keterangannya, Purbaya menuturkan bahwa ia sempat berencana berangkat haji pada 21 Mei lalu. Namun, ia kemudian memutuskan batal menunaikan ibadah haji pada tahun ini. Kondisi itu membuat dana pribadi yang telah disiapkan masih tersisa. Ia lalu memilih menggunakan dana tersebut untuk membeli hewan kurban.
Purbaya juga sempat menyampaikan bahwa sapi kurban yang diserahkan di rumah pribadinya lebih besar. Ia menyebut bobotnya mencapai lebih dari satu ton. Sementara itu, sapi yang diserahkan di DJP berbobot 868 kilogram. Perbandingan itu ia sampaikan sambil tersenyum kepada awak media.
Pernyataan mengenai asal dana kurban menegaskan bahwa pembiayaan ibadah dilakukan secara mandiri. Hal ini sejalan dengan praktik umum pejabat publik yang menggunakan dana pribadi untuk kegiatan keagamaan. Dengan begitu, tidak ada penggunaan anggaran negara dalam pelaksanaan kurban tersebut. Purbaya pun menutup penjelasannya dengan nada santai dan terbuka.
Tradisi Idul Adha pejabat
Salat Idul Adha bersama pejabat negara kerap menjadi bagian dari tradisi keagamaan di Jakarta. Kehadiran pejabat pada momentum ini biasanya diikuti dengan penyerahan hewan kurban. Aktivitas tersebut menjadi simbol kepedulian sosial di tengah perayaan Idul Adha. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat hubungan antara pejabat dan lingkungan kerja.
Di lingkungan kementerian, penyerahan hewan kurban dilakukan melalui panitia yang telah disiapkan. Hewan yang diterima kemudian akan diproses sesuai ketentuan syariat. Daging kurban selanjutnya dibagikan kepada pihak yang berhak menerima. Proses ini menjadi bagian penting dari nilai kebersamaan dalam perayaan Idul Adha.
Purbaya sendiri dikenal cukup terbuka saat menjawab pertanyaan wartawan. Dalam kesempatan tersebut, ia menjelaskan asal dana kurban tanpa berbelit-belit. Sikap itu membuat penjelasannya mudah dipahami publik. Ia juga menegaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bentuk ibadah pribadi.
Momentum Idul Adha tahun ini sekaligus menjadi sorotan karena ada dua hewan kurban yang disiapkan Purbaya. Satu di antaranya diserahkan di kantor DJP, sedangkan satu lagi di rumah pribadinya. Kedua kurban itu disebut berasal dari dana yang sama, yakni dana pribadi. Dengan demikian, pelaksanaan ibadah tetap berjalan sesuai kemampuan masing-masing.
Sorotan publik terhadap kurban
Informasi mengenai kurban Purbaya menarik perhatian publik karena disampaikan langsung oleh pejabat yang tengah menjabat Menteri Keuangan. Posisi tersebut membuat setiap pernyataannya kerap mendapat sorotan lebih luas. Namun dalam kasus ini, penjelasannya justru sederhana dan langsung pada inti. Ia menekankan bahwa kurban adalah urusan pribadi dan tidak menggunakan fasilitas negara.
Purbaya juga menyinggung bahwa dana pribadi yang digunakan untuk kurban berasal dari bonus yang ia miliki. Menurutnya, karena rencana haji tidak terlaksana, dana itu akhirnya tersisa. Ia kemudian memilih mengalokasikannya untuk ibadah kurban pada Idul Adha tahun ini. Pilihan itu ia sebut sebagai cara menghabiskan dana dengan manfaat yang lebih besar.
Penyerahan sapi simental cross berbobot 868 kilogram menjadi salah satu detail yang menambah perhatian terhadap agenda tersebut. Hewan kurban dengan bobot besar umumnya dipilih untuk memastikan pembagian daging yang lebih luas. Di sisi lain, penyampaian informasi mengenai bobot hewan menunjukkan transparansi dalam penyaluran kurban. Hal ini penting agar publik memahami proses yang dijalankan.
Dengan pelaksanaan salat Idul Adha dan penyerahan hewan kurban, Purbaya menandai perayaan hari besar keagamaan dengan tindakan nyata. Ia tidak hanya hadir sebagai pejabat negara, tetapi juga sebagai individu yang menunaikan ibadah. Kegiatan itu berlangsung sederhana, namun tetap memiliki makna sosial yang kuat. Di tengah perhatian publik, pesan yang disampaikan tetap konsisten, yakni kurban dilakukan dari dana pribadi.
