Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Turun dari Obesitas

Lifestyle Anindya Kirana Putri 27 Mei 2026 15:31 WIB 2
Dr Gia Pratama Ungkap Pengalaman Turun dari Obesitas

Influencer kesehatan dr Gia Pratama mengungkap pernah memiliki bobot tubuh hingga 100 kilogram saat belum menyadari dirinya berada dalam kondisi obesitas. Ia menilai situasi itu membuatnya berisiko tinggi terkena penyakit tidak menular, termasuk gangguan jantung, sebelum akhirnya memutuskan mengubah pola hidup. Keputusan tersebut muncul setelah pengalaman emosional saat menangani pasien serangan jantung di instalasi gawat darurat. Kisah itu ia sampaikan dalam sebuah talkshow di Kemenkes RI, Kamis, 7 Mei 2026.

Menurut dr Gia, peristiwa di IGD menjadi titik balik yang membuatnya mempertanyakan kondisi kesehatannya sendiri. Ia kemudian berkomitmen menjalani diet selama enam bulan, bukan dengan target instan, melainkan dengan disiplin dan kesadaran penuh. Dari pengalamannya, ia menekankan bahwa obesitas sering kali muncul tanpa disadari karena kebiasaan makan yang tampak sepele. Perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten, katanya, menjadi kunci untuk mencapai hasil yang lebih sehat dan bertahan lama.

Obesitas dan kesadaran diri

dr Gia mengaku sempat tidak sadar bahwa berat badannya sudah masuk kategori obesitas. Kondisi itu membuatnya abai terhadap risiko kesehatan yang dapat muncul di kemudian hari. Ia menilai banyak orang meremehkan tanda awal karena merasa tubuh masih sanggup beraktivitas seperti biasa. Padahal, risiko penyakit tidak menular bisa meningkat ketika pola hidup tidak terkontrol.

Pengalaman tersebut membuatnya memahami bahwa obesitas bukan sekadar soal penampilan. Lebih dari itu, kondisi ini berkaitan langsung dengan kesehatan jangka panjang dan kualitas hidup. Ia melihat banyak orang baru menyadari bahayanya setelah muncul keluhan serius. Karena itu, kesadaran diri menjadi langkah awal yang sangat penting.

Ia juga menilai perubahan pola pikir perlu didahulukan sebelum memulai diet. Tanpa kesadaran, seseorang cenderung mudah kembali pada kebiasaan lama yang merugikan. dr Gia menyebut perjalanan menurunkan berat badan membutuhkan evaluasi jujur terhadap kebiasaan harian. Dari sana, barulah perubahan bisa berjalan lebih terarah.

Pengalaman di IGD

Titik balik itu datang ketika dr Gia menangani pasien serangan jantung di IGD. Pasien tersebut memiliki usia dan tanggal lahir yang sama dengannya, sehingga pengalaman itu terasa sangat personal. Ia berhasil menyelamatkan pasien dengan alat pacu jantung, namun momen tersebut meninggalkan pertanyaan besar di benaknya. Dalam hati, ia mulai memikirkan apakah dirinya juga berisiko mengalami hal yang sama.

Pengalaman itu membuatnya merenungkan kondisi fisiknya sendiri dengan lebih serius. Ia kemudian mempertanyakan siapa yang akan menolong jika suatu saat dirinya mengalami serangan jantung. Pertanyaan tersebut menjadi pemicu utama untuk mengubah kebiasaan hidupnya. Dari situ, ia memutuskan untuk mengambil langkah nyata tanpa menunda lagi.

Ia menilai pengalaman klinis sering kali memberi pelajaran yang lebih kuat daripada sekadar teori. Saat melihat langsung dampak penyakit jantung, ia merasakan urgensi untuk menjaga tubuhnya sendiri. Hal itu menjadi dorongan emosional yang sulit diabaikan. Sejak saat itu, komitmen untuk hidup lebih sehat menjadi prioritas utama.

Pola makan dan kalori

dr Gia menjelaskan bahwa pemicu obesitas tidak selalu berasal dari makanan besar atau berlebihan dalam satu waktu. Sering kali, masalah muncul karena seseorang tidak sadar terhadap apa yang masuk ke dalam tubuhnya. Ia mencontohkan kebiasaan sederhana yang berulang, seperti mengambil gorengan tanpa menghitung jumlahnya. Kebiasaan kecil seperti itu, jika terus terjadi, dapat menumpuk menjadi asupan kalori yang berlebih.

Menurutnya, banyak orang merasa hanya makan sedikit, padahal total kalorinya jauh melampaui kebutuhan harian. Ketidaksadaran ini membuat pola makan sulit dikendalikan. Ia menekankan pentingnya memahami porsi, frekuensi, dan pilihan makanan. Dengan begitu, seseorang dapat lebih mudah menjaga berat badan ideal.

Ia juga menilai pengendalian kalori jauh lebih efektif dibanding hanya mengikuti tren diet tertentu. Fokus utamanya adalah menyesuaikan asupan agar tidak berlebihan dan tetap realistis untuk dijalani. Cara ini dinilainya lebih berkelanjutan karena bisa diterapkan dalam aktivitas sehari-hari. Konsistensi menjadi faktor yang tidak boleh diabaikan.

Diet konsisten dan realistis

Dalam menjalani penurunan berat badan, dr Gia tidak mengandalkan jenis diet yang spesifik. Ia memilih pendekatan sederhana, yakni memangkas asupan kalori yang selama ini terlalu tinggi. Langkah itu dijalankan secara konsisten agar tubuh beradaptasi secara bertahap. Baginya, hasil yang baik memerlukan proses yang sabar dan terukur.

Ia menegaskan bahwa penurunan berat badan bukanlah proses yang bisa dicapai secara instan. Target yang terlalu cepat justru berisiko membuat seseorang mudah menyerah. Karena itu, ia memilih komitmen jangka menengah yang lebih realistis untuk dijalankan. Dengan cara tersebut, perubahan gaya hidup bisa bertahan lebih lama.

dr Gia berharap pengalamannya dapat menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih memperhatikan kesehatan sejak dini. Ia menilai obesitas dapat dicegah jika seseorang disiplin mengatur pola makan dan aktivitas harian. Kesadaran, konsistensi, dan evaluasi diri menjadi tiga hal penting dalam menjaga tubuh tetap sehat. Dari pengalamannya, langkah sederhana yang dilakukan terus-menerus jauh lebih berarti daripada perubahan besar yang hanya sesaat.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!