Perseteruan antara Dokter Detektif atau Doktif dan dokter Richard Lee memasuki babak baru setelah Doktif secara terbuka meminta penyidik menelusuri keterlibatan istri Richard, Reni Effendi. Permintaan itu disampaikan dalam konferensi pers di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, pada Senin, 25 Mei 2026, dengan sorotan utama pada promosi produk yang diduga bermasalah. Doktif menilai, peran Reni tidak sekadar tampil sebagai pendukung, tetapi juga aktif memasarkan produk yang kini dipersoalkan. Ia juga menyinggung dugaan pelanggaran terkait DNA Salmon dan terapi Mini Stem Cell.
Menurut Doktif, penyidikan seharusnya tidak berhenti pada tersangka utama karena ada pihak lain yang diduga turut serta dalam rangkaian peristiwa tersebut. Ia menilai, bukti yang muncul menunjukkan adanya keterlibatan dalam pemasaran produk melalui media sosial dan penjelasan kepada publik. Dalam pandangannya, hal itu dapat mengarah pada penerapan Pasal 55 KUHP tentang penyertaan. Karena itu, ia mendesak aparat hukum memperluas penelusuran kasus secara menyeluruh.
Doktif Soroti Peran Reni
Doktif menegaskan bahwa Reni Effendi diduga ikut menjual dan mempromosikan produk yang saat ini menjadi objek persoalan hukum. Ia mengutip cuplikan video yang memperlihatkan Reni memberikan ulasan serta mengajak masyarakat membeli produk tertentu. Menurutnya, tindakan itu tidak bisa dipandang sebagai aktivitas pasif karena dilakukan secara terbuka di ruang publik. Ia menilai, promosi semacam itu memperkuat dugaan adanya keterlibatan langsung.
Dalam konferensi pers, Doktif juga menyoroti kondisi produk DNA Salmon yang disebutnya tidak memiliki segel saat diperlihatkan. Ia menyebut keadaan tersebut berpotensi membuat produk terkontaminasi sebelum sampai ke konsumen. Bagi Doktif, seorang dokter semestinya memahami pentingnya sterilitas dan keamanan produk medis atau kecantikan. Karena itu, ia mempertanyakan bagaimana mungkin aspek dasar tersebut tidak diperhatikan.
Doktif menilai, jika benar produk telah dibuka dan tetap dipasarkan, maka ada unsur kelalaian sekaligus kesengajaan dalam proses distribusinya. Ia menyebut tindakan itu bukan sekadar persoalan etika, melainkan juga dapat berdampak pada ranah hukum. Pernyataan tersebut ia sampaikan dengan nada tegas agar penyidik tidak mengabaikan pihak-pihak yang disebut turut terlibat. Ia menekankan bahwa bukti yang ada sudah cukup untuk ditelusuri lebih jauh.
DNA Salmon Jadi Sorotan
Selain peran Reni Effendi, Doktif menyoroti promosi DNA Salmon yang menurutnya dipresentasikan tanpa memperhatikan standar keamanan produk. Ia mengaku melihat langsung materi yang menunjukkan produk tidak tertutup rapat dan tidak bersegel. Dalam pandangannya, kondisi itu menunjukkan produk sudah tidak steril sejak awal. Hal tersebut, menurutnya, seharusnya menjadi perhatian utama sebelum produk ditawarkan kepada masyarakat.
Doktif juga mengkritik kapasitas profesional Reni sebagai dokter yang dinilai semestinya paham risiko produk nonsteril. Ia mempertanyakan bagaimana seorang tenaga medis bisa melewatkan aspek yang begitu mendasar dalam praktik medis. Ia menilai promosi produk dengan kondisi tersebut dapat menyesatkan konsumen. Karena itu, ia menganggap ada tanggung jawab moral dan profesional yang perlu dijelaskan.
Isu DNA Salmon kemudian menjadi salah satu titik penting dalam sorotan publik terhadap kasus ini. Doktif menilai, produk yang sudah terbuka tidak layak dipresentasikan seolah-olah aman digunakan. Ia mengaitkan hal itu dengan kemungkinan pertanggungjawaban pidana apabila unsur kesengajaan dapat dibuktikan. Menurutnya, penyidik perlu menelusuri seluruh rantai peredaran produk secara rinci.
Mini Stem Cell Dipersoalkan
Doktif juga menyoroti inkonsistensi pernyataan Reni Effendi terkait terapi Mini Stem Cell yang dijual di Klinik Athena. Ia membandingkan promosi yang dilakukan Reni dengan keterangan Richard Lee dalam sidang Majelis Disiplin Profesi. Menurutnya, terdapat perbedaan mendasar antara penjelasan yang disampaikan di ruang publik dan yang muncul dalam proses persidangan. Perbedaan itu, kata dia, perlu diuji karena menyangkut kejujuran informasi medis.
Ia mempertanyakan apakah Mini Stem Cell benar sekadar istilah untuk jumlah kecil stem cell, atau justru merupakan bentuk pemasaran yang menyesatkan publik. Di sisi lain, ia juga menyinggung pernyataan Richard Lee yang menyebut produk itu sebagai secretome. Doktif menilai dua penjelasan tersebut justru menimbulkan pertanyaan baru mengenai dasar ilmiah penggunaannya. Ia meminta agar ada bukti berbasis kedokteran yang jelas sebelum terapi itu dipasarkan.
Lebih jauh, Doktif mempertanyakan alasan produk tersebut diinjeksikan secara intravena. Menurutnya, prosedur itu tidak bisa dijelaskan hanya dengan narasi promosi tanpa landasan ilmiah yang kuat. Ia menilai, publik berhak mengetahui apakah metode tersebut memang memiliki evidence based medicine yang memadai. Jika tidak, maka produk itu berpotensi menimbulkan masalah baru bagi konsumen.
Penyidikan Masih Terbuka
Doktif memastikan bahwa pihaknya tidak akan berhenti mendorong pengusutan kasus ini hingga seluruh pihak yang terlibat diperiksa. Ia menyebut bukti-bukti yang ada sudah sangat jelas dan tidak boleh diabaikan oleh penyidik. Karena itu, ia menilai proses hukum harus menjangkau semua orang yang diduga memiliki peran dalam bisnis tersebut. Sikap itu, menurutnya, penting demi memastikan keadilan berjalan.
Ia juga menegaskan bahwa laporan yang sedang ditangani bukan hanya menyasar satu orang, melainkan masih berada dalam tahap pengembangan penyidikan. Artinya, masih terbuka kemungkinan muncul tersangka baru apabila alat bukti mengarah ke keterlibatan pihak lain. Doktif menilai, status tersebut menunjukkan bahwa proses hukum belum selesai. Dengan demikian, ruang untuk pemeriksaan lanjutan masih sangat besar.
Dalam penutup pernyataannya, Doktif menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat seharusnya dimintai pertanggungjawaban. Ia menolak anggapan bahwa perkara ini cukup berhenti pada satu nama saja. Menurutnya, jika ada unsur penyertaan, maka seluruh rangkaian tindakan harus diurai secara hukum. Ia pun menyatakan akan terus mengawal kasus ini sampai tuntas.
