Dokter Ingatkan Risiko Makan Daging Berlebihan Saat Idul Adha

Lifestyle Clara Monica 02 Juni 2026 16:12 WIB 2
Dokter Ingatkan Risiko Makan Daging Berlebihan Saat Idul Adha

Momen Idul Adha identik dengan sajian olahan daging yang melimpah di banyak rumah. Sate, gulai, rendang, hingga tongseng kerap hadir hampir sepanjang hari. Di tengah tradisi tersebut, dokter mengingatkan bahwa konsumsi yang berlebihan dapat memicu gangguan kesehatan. Peringatan ini terutama penting bagi masyarakat dengan riwayat diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik.

Dokter spesialis penyakit dalam dan konsultan gastroenterologi-hepatologi dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr Aru Ariyanto, SpPD-KGEH, menekankan agar masyarakat tidak mengubah pola makan secara ekstrem saat hari raya. Ia menyebut, konsumsi daging sebaiknya tetap dalam batas wajar agar tubuh tidak terbebani. Menurutnya, cara pengolahan juga berpengaruh besar terhadap risiko kesehatan. Karena itu, masyarakat diminta lebih cermat saat menyantap hidangan khas Idul Adha.

Daging Idul Adha dan Risiko

Konsumsi daging dalam jumlah besar dapat meningkatkan asupan lemak jenuh dan kolesterol. Kondisi ini berpotensi memicu kenaikan tekanan darah pada sebagian orang. Risiko tersebut juga dapat lebih tinggi pada pasien yang sudah memiliki penyakit bawaan. Karena itu, porsi makan perlu dijaga agar tetap seimbang.

dr Aru menjelaskan bahwa makan berlebihan saat Idul Adha bukan kebiasaan yang dianjurkan. Menurutnya, tubuh tetap membutuhkan kendali dalam menerima asupan protein hewani. Jika dikonsumsi tanpa batas, dampaknya dapat terasa pada metabolisme tubuh. Pada akhirnya, kebiasaan ini bisa memicu keluhan kesehatan yang tidak diinginkan.

Kelompok yang paling perlu waspada adalah penderita diabetes, hipertensi, dan gangguan metabolik lain. Mereka umumnya lebih sensitif terhadap makanan tinggi lemak dan tinggi garam. Satu kali makan berlebihan mungkin terasa sepele, tetapi dampaknya bisa berlanjut. Karena itu, kehati-hatian menjadi langkah yang paling aman.

Cara Mengolah Lebih Sehat

Selain porsi, cara memasak juga menjadi perhatian utama. Olahan yang terlalu asin, berminyak, atau berlemak sebaiknya dibatasi. Hidangan bersantan berlebih dapat meningkatkan asupan lemak yang tidak dibutuhkan tubuh. Jika dilakukan terus-menerus, risiko kolesterol dan tekanan darah dapat ikut naik.

dr Aru menyarankan masyarakat memilih pengolahan yang lebih sederhana. Merebus, memanggang, atau membakar dengan takaran bumbu yang wajar bisa menjadi pilihan. Cara ini membantu menjaga cita rasa tanpa menambah beban berlebih pada tubuh. Dengan begitu, sajian Idul Adha tetap bisa dinikmati secara lebih sehat.

Penggunaan garam dan minyak juga perlu dikendalikan saat memasak. Bumbu yang terlalu kuat sering membuat makanan tampak lebih menggoda untuk disantap berulang. Namun, konsumsi berlebihan justru dapat memunculkan masalah kesehatan dalam jangka pendek maupun panjang. Kesadaran saat mengolah makanan menjadi bagian penting dari pencegahan.

Batasi Makan Sepanjang Hari

Kebiasaan menyantap olahan daging dari pagi hingga malam juga dinilai tidak ideal. Menurut dr Aru, pola makan seperti ini membuat tubuh menerima beban yang terus-menerus. Sistem metabolisme memerlukan jeda untuk memproses asupan yang masuk. Jika jeda itu tidak ada, risiko gangguan kesehatan menjadi lebih besar.

Masyarakat disarankan mengatur jadwal makan secara lebih terukur. Tidak semua hidangan harus dicicipi dalam satu hari yang sama. Mengatur porsi dan memberi waktu jeda dapat membantu tubuh tetap nyaman. Langkah sederhana ini dapat mengurangi kemungkinan keluhan setelah perayaan.

Di tengah suasana kebersamaan, menikmati hidangan tetap bisa dilakukan tanpa berlebihan. Kuncinya adalah memilih porsi yang sesuai kebutuhan tubuh. Dengan kebiasaan yang lebih tertib, momen Idul Adha tetap terasa istimewa. Pada saat yang sama, kesehatan juga tetap terjaga.

Waspadai Gejala Setelah Makan

Masyarakat juga perlu memperhatikan reaksi tubuh setelah mengonsumsi daging. Rasa begah, nyeri sendi, atau tekanan darah yang naik bisa menjadi sinyal untuk berhenti. Keluhan tersebut tidak boleh dianggap ringan, terutama bila muncul berulang. Pemeriksaan medis perlu dilakukan jika gejala terasa mengganggu.

Orang dengan riwayat asam urat juga disarankan lebih berhati-hati. Beberapa olahan daging, terutama yang dikombinasikan dengan santan dan lemak tinggi, dapat memperburuk kondisi. Selain itu, konsumsi berlebihan bisa membuat tubuh lebih sulit menjaga keseimbangan metabolik. Pengawasan terhadap menu makan menjadi langkah yang sangat penting.

Peringatan dokter ini menjadi pengingat bahwa tradisi dapat dijalankan tanpa mengabaikan kesehatan. Idul Adha tetap dapat dirayakan dengan hidangan yang lezat dan aman. Yang dibutuhkan hanyalah pengendalian porsi, pilihan olahan yang tepat, dan kebiasaan makan yang wajar. Dengan cara itu, tubuh tetap nyaman selama perayaan berlangsung.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!