Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 17:54 WIB 7
Daya Beli Melemah, Trafik Pusat Belanja Jakarta Turun

Pusat perbelanjaan di Jakarta mengalami penurunan kunjungan seiring melemahnya daya beli masyarakat. Kondisi itu dipicu kenaikan harga sejumlah kebutuhan sehari-hari, yang salah satunya dipengaruhi pelemahan rupiah terhadap dolar AS. Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut tekanan harga membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja. Situasi ini paling terasa pada hari kerja, ketika trafik pengunjung ke mal turun sekitar 15 sampai 20 persen.

Ellen menyampaikan, harga dolar AS yang bertahan di kisaran Rp17.000 bahkan mendekati Rp18.000 ikut mendorong kenaikan harga komoditas. Ia menilai kenaikan tersebut merembet ke berbagai kebutuhan, mulai dari buah-buahan, sayuran, hingga gas rumah tangga. Dengan pendapatan yang relatif tetap, masyarakat akhirnya menahan konsumsi agar pengeluaran tidak semakin membengkak. Di sisi lain, kunjungan pada akhir pekan masih tergolong tinggi dan bahkan cenderung lebih ramai dari biasanya.

Harga Naik Tekan Konsumsi

Ellen mencontohkan harga buah naga yang sebelumnya dibeli Rp25.000 per kilogram kini naik menjadi Rp40.000. Ia juga menyebut harga gas rumah tangga yang dulu sekitar Rp210.000 kini naik menjadi Rp250.000. Menurutnya, lonjakan harga seperti ini menunjukkan tekanan biaya hidup yang nyata di tengah masyarakat. Kenaikan pada satu komoditas, kata dia, biasanya diikuti oleh kenaikan pada kebutuhan lain.

Ia menjelaskan, buah-buahan yang lebih mahal membuat sayur-sayuran dan bahan pangan lain ikut terdorong naik. Dampak berantai tersebut kemudian terasa langsung pada pola belanja rumah tangga. Banyak konsumen menjadi lebih selektif dalam menentukan kebutuhan yang akan diprioritaskan. Kondisi ini pada akhirnya menekan transaksi ritel di pusat perbelanjaan.

Menurut Ellen, pelemahan daya beli tidak hanya dialami kelompok tertentu, melainkan juga pekerja dengan pendapatan yang cenderung tetap. Saat gaji tidak berubah, sementara harga barang terus naik, masyarakat akan menyesuaikan pengeluaran dengan mengurangi belanja nonesensial. Ia menilai situasi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengelola pusat belanja. Di tengah kondisi itu, strategi menarik pengunjung harus dilakukan lebih agresif.

Trafik Hari Kerja Menurun

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pengunjung pusat belanja di hari kerja turun sekitar 15 sampai 20 persen. Penurunan ini terutama terlihat pada mal-mal di kawasan ibu kota yang biasanya bergantung pada arus pengunjung harian. Ellen menyebut kondisi tersebut sebagai refleksi dari konsumsi masyarakat yang sedang melambat. Meski begitu, penurunan belum terjadi merata pada semua hari dan semua lokasi.

Berbeda dengan weekdays, kunjungan pada akhir pekan masih menunjukkan performa yang kuat. Bahkan, pada sejumlah pusat belanja, jumlah pengunjung saat Sabtu dan Minggu dinilai lebih tinggi dari pola normal. Ellen menyebut fenomena itu terlihat seperti keanehan, tetapi sebenarnya masih dapat dijelaskan oleh perubahan perilaku belanja masyarakat. Banyak orang memilih datang ke mal hanya ketika memiliki waktu luang di akhir pekan.

Pola tersebut menunjukkan bahwa pusat belanja masih memiliki daya tarik sebagai ruang rekreasi dan hiburan keluarga. Namun, frekuensi kunjungan pada hari kerja yang menurun tetap memberi dampak pada omzet tenant. Pengelola mal kini perlu mencari cara untuk menjaga keseimbangan antara trafik weekday dan weekend. Tanpa langkah penyesuaian, tekanan pada kinerja ritel berpotensi berlanjut.

Rupiah dan Harga Barang

Ellen menyoroti pelemahan rupiah sebagai salah satu faktor utama yang memicu kenaikan harga di masyarakat. Menurutnya, ketika dolar AS menguat dan berada di kisaran Rp17.000, tekanan terhadap harga impor ikut meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pada barang konsumsi, tetapi juga pada kebutuhan rumah tangga yang bergantung pada distribusi dan biaya produksi. Situasi ini membuat biaya hidup terasa semakin berat bagi konsumen.

Ia menilai masyarakat kini sangat peka terhadap perubahan harga sekecil apa pun. Kenaikan yang terjadi secara bertahap tetap bisa mengubah keputusan belanja harian. Karena itu, konsumsi cenderung diarahkan ke kebutuhan pokok dan barang yang paling mendesak. Di luar kebutuhan tersebut, pengeluaran sering kali ditunda atau dikurangi.

Dalam pandangan Ellen, tekanan harga yang terus berlangsung dapat memengaruhi perputaran ekonomi di level ritel. Jika daya beli tidak segera membaik, pusat perbelanjaan akan menghadapi tantangan mempertahankan trafik pengunjung. Ia berharap stabilitas nilai tukar dapat membantu menahan laju kenaikan harga. Dengan begitu, konsumen memiliki ruang yang lebih longgar untuk kembali berbelanja.

Tantangan Bagi Pengelola

Pengelola pusat belanja di Jakarta kini dituntut lebih adaptif menghadapi perubahan perilaku konsumen. Mereka perlu memperkuat promosi, menghadirkan program yang relevan, dan menjaga pengalaman berkunjung agar tetap menarik. Di saat yang sama, tenant juga harus menyesuaikan strategi penjualan dengan kondisi daya beli yang belum pulih sepenuhnya. Langkah ini penting agar trafik yang turun tidak berdampak lebih dalam pada kinerja usaha.

Kondisi ekonomi yang menekan konsumen membuat mal tidak lagi hanya bersaing soal lokasi, tetapi juga soal nilai tambah. Program hiburan, diskon terarah, dan acara tematik dapat menjadi faktor yang mendorong pengunjung datang. Ellen melihat akhir pekan masih memberi peluang untuk menggerakkan penjualan. Namun, peluang itu perlu dioptimalkan agar tidak hanya bergantung pada kunjungan spontan.

Di tengah tekanan rupiah dan kenaikan harga kebutuhan, pemulihan daya beli menjadi kunci bagi perbaikan trafik pusat belanja. Selama masyarakat masih menahan konsumsi, pertumbuhan kunjungan pada hari kerja akan tetap tertahan. Karena itu, stabilitas harga menjadi isu penting tidak hanya bagi rumah tangga, tetapi juga bagi industri ritel. Pada akhirnya, arah konsumsi masyarakat akan sangat menentukan denyut ekonomi di pusat perbelanjaan Jakarta.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!