Daya Beli Lemah, Trafik Mal Jakarta Turun 20 Persen

Ekonomi Bisnis Dimas Rayyanza 21 Mei 2026 14:57 WIB 7
Daya Beli Lemah, Trafik Mal Jakarta Turun 20 Persen

Penurunan daya beli masyarakat mulai terasa di pusat perbelanjaan Jakarta, ditandai oleh menyusutnya jumlah pengunjung pada hari kerja. Kondisi ini dipicu pelemahan rupiah yang membuat harga sejumlah kebutuhan pokok dan komoditas rumah tangga ikut naik.

Ketua Dewan Penasihat Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) DPD DKI Jakarta, Ellen Hidayat, menyebut tekanan biaya hidup membuat masyarakat menahan belanja. Meski trafik pada weekdays turun sekitar 15-20 persen, kunjungan saat akhir pekan masih terjaga dan bahkan cenderung lebih tinggi.

Tekanan Harga Meningkat

Ellen Hidayat mengatakan pelemahan rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga barang di masyarakat. Menurut dia, dolar Amerika Serikat yang berada di kisaran Rp 17.000 menambah tekanan pada biaya hidup.

Ia menilai situasi itu membuat harga berbagai kebutuhan mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Kondisi tersebut kemudian menular ke sektor konsumsi sehari-hari, mulai dari bahan pangan hingga kebutuhan rumah tangga.

Ellen mencontohkan harga buah naga yang sebelumnya Rp 25.000 per kilogram kini naik menjadi Rp 40.000. Biaya gas rumah tangga juga disebut meningkat dari Rp 210.000 menjadi Rp 250.000.

Ia menyebut kenaikan itu hanya sebagian kecil dari lonjakan harga yang dirasakan masyarakat. Dari bahan buah-buahan, tekanan harga juga menjalar ke sayur-sayuran dan komoditas lain yang terkait.

Daya Beli Tertekan

Menurut Ellen, kenaikan harga yang terus berlangsung membuat daya beli masyarakat semakin melemah. Situasi ini dirasakan pula oleh pekerja dengan pendapatan tetap yang tidak ikut naik seiring inflasi.

Dengan gaji yang stagnan, masyarakat cenderung menunda pembelian yang tidak mendesak. Perubahan perilaku konsumsi itu berdampak langsung pada aktivitas perdagangan di pusat belanja.

Ia menjelaskan bahwa pengetatan belanja terlihat dari berkurangnya kunjungan pada hari kerja. Konsumen lebih selektif dalam mengeluarkan uang, terutama untuk kebutuhan sekunder dan tersier.

Dalam kondisi seperti ini, pusat perbelanjaan menghadapi tantangan untuk menjaga trafik pengunjung. Pelaku usaha ritel perlu menyesuaikan strategi agar tetap relevan dengan perubahan perilaku konsumen.

Kunjungan Hari Kerja Menyusut

APPBI DPD DKI Jakarta mencatat trafik pengunjung di pusat-pusat perbelanjaan Jakarta pada weekdays turun sekitar 15-20 persen. Penurunan itu terjadi di tengah tekanan ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam berbelanja.

Ellen menyebut kondisi tersebut cukup terasa di banyak pusat belanja. Meski begitu, penurunan tidak terjadi secara seragam pada semua hari dan semua lokasi.

Ia menilai situasi ini menunjukkan perubahan pola kunjungan yang dipengaruhi ritme kerja dan kondisi keuangan rumah tangga. Banyak pengunjung memilih datang ketika memiliki waktu luang dan alasan belanja yang lebih jelas.

Perubahan tersebut membuat pengelola mal perlu membaca tren harian dengan lebih cermat. Strategi promosi dan pengelolaan tenant menjadi penting untuk mempertahankan arus pengunjung.

Akhir Pekan Tetap Ramai

Berbeda dengan hari kerja, kunjungan ke pusat perbelanjaan saat akhir pekan masih tinggi. Bahkan, Ellen menyebut trafik pada weekend cenderung lebih besar dari biasanya.

Fenomena itu menunjukkan bahwa masyarakat masih datang ke mal ketika memiliki waktu luang bersama keluarga. Namun, kunjungan tersebut belum tentu diikuti peningkatan belanja dalam jumlah besar.

Ellen menyebut kondisi ini terlihat sedikit aneh, tetapi pada dasarnya masih bisa dijelaskan. Pengunjung datang untuk rekreasi, makan, atau sekadar melihat-lihat tanpa harus banyak bertransaksi.

Di tengah tekanan daya beli, pusat perbelanjaan tetap bergantung pada daya tarik pengalaman berkunjung. Karena itu, aktivitas promosi, acara tematik, dan tenant yang kuat menjadi penopang utama trafik akhir pekan.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!