Curhatan Dyalodya Viral Gara-gara Retur COD

Lifestyle Nadia Safira Putri 25 Mei 2026 02:49 WIB 6
Curhatan Dyalodya Viral Gara-gara Retur COD

Curhatan pelaku usaha hijab lokal, Dyalodya, viral di media sosial setelah video yang memperlihatkan tumpukan paket retur COD beredar luas. Dalam unggahan di Instagram @dyalodya, pemilik usaha mengaku mengalami kerugian besar akibat paket pelanggan yang dikembalikan dalam jumlah banyak selama sepekan. Kondisi itu memicu sorotan publik karena diduga terkait penyalahgunaan sistem Cash on Delivery atau COD. Video tersebut juga menampilkan paket yang diduga telah dibuka dan isinya diganti dengan barang lain.

Dalam video itu, pemilik usaha menyampaikan kekecewaannya terhadap pihak-pihak yang diduga tidak bertanggung jawab. Ia menuturkan bahwa sebagian paket datang kembali dalam keadaan rusak, terbuka, bahkan ada yang isinya ditukar dengan barang bekas. Unggahan tersebut dengan cepat menyebar dan menuai ribuan tanggapan warganet. Kasus ini kembali membuka perdebatan soal risiko COD bagi pelaku UMKM fesyen.

COD Dyalodya dan Retur

Video curhatan Dyalodya menampilkan gunungan paket berlabel COD yang gagal terkirim dan harus dikembalikan oleh kurir. Pemilik usaha mengaku paket-paket itu berasal dari pesanan yang seharusnya diterima pelanggan, namun justru kembali ke toko. Dalam keterangannya, ia menilai ada oknum pembeli yang memanfaatkan sistem pembayaran di tempat untuk berbuat curang. Ia menyebut kerugian yang timbul tidak hanya berupa barang, tetapi juga biaya operasional yang ikut membengkak.

Ia juga menjelaskan bahwa banyak paket retur datang dalam kondisi yang tidak wajar. Sebagian kardus tampak terbuka, sementara isi di dalamnya sudah tidak sesuai dengan produk yang dikirim. Salah satu barang yang diperlihatkan adalah celana kolor bekas yang diduga menggantikan produk baju yang dikirim. Menurutnya, kondisi itu membuat pelaku usaha semakin sulit mempercayai proses transaksi COD.

Dalam video tersebut, pemilik Dyalodya menegaskan bahwa masalah ini tidak terjadi satu kali. Ia menyebut kejadian serupa sudah berlangsung berulang dan semakin terasa dalam satu bulan terakhir. Karena itu, ia memilih menyampaikan peringatan kepada konsumen agar lebih berhati-hati saat menerima paket. Ia juga berharap masyarakat memahami bahwa tidak semua kiriman COD berasal dari toko yang benar-benar mereka pesan.

Modus Penipuan yang Merugikan

Selain paket retur, Zahra, pemilik brand Dyalodya, mengungkap adanya dugaan modus penipuan yang lebih terstruktur. Ia mengatakan ada paket yang menggunakan alamat Dyalodya, tetapi pengirimnya berasal dari toko atau nama usaha yang tidak jelas. Menurutnya, kondisi itu berpotensi menimbulkan kebingungan bagi penerima paket yang merasa tidak pernah melakukan pemesanan. Ia menilai praktik tersebut merugikan toko sekaligus mengganggu kenyamanan konsumen.

Zahra menuturkan bahwa persoalan ini membuat reputasi usahanya ikut terdampak. Sebab, orang yang menerima paket bisa saja mengira Dyalodya terlibat dalam pengiriman barang yang tidak mereka pesan. Di sisi lain, pelaku usaha juga harus menanggung beban ketika paket benar-benar ditolak saat kurir datang ke alamat tujuan. Ia menyebut pola itu sebagai bentuk penyalahgunaan data dan identitas usaha yang tidak bisa dianggap sepele.

Ia bahkan menduga ada keterlibatan pihak tertentu dalam rantai distribusi paket. Berdasarkan pengalamannya, ia menilai permainan seperti ini kerap berkaitan dengan pihak yang dekat dengan proses pengantaran. Karena itu, ia meminta masyarakat untuk tidak menerima paket jika memang tidak melakukan pemesanan di Dyalodya. Ia menegaskan, kewaspadaan konsumen sangat penting agar tidak menjadi korban penyalahgunaan alamat.

Respons Pemilik Brand Hijab

Zahra menyebut usahanya sudah berdiri sejak 2017 dan kini menghadapi tantangan yang cukup berat. Menurut dia, video yang diunggah bukan sekadar luapan emosi, melainkan bentuk edukasi kepada masyarakat. Ia ingin menunjukkan bahwa sistem COD bisa menjadi celah bagi oknum yang tidak bertanggung jawab. Karena itu, ia merasa perlu memberi peringatan sejak awal kepada pelanggan dan calon pembeli.

Ia juga mengaku menerima banyak komplain dari orang-orang yang merasa tidak pernah memesan produk Dyalodya, tetapi tetap mendapat kiriman paket. Kondisi tersebut membuatnya harus memeriksa ulang jalur distribusi dan potensi kebocoran data. Zahra menilai ada kemungkinan data pelanggan atau alamat penerima disalahgunakan oleh pihak tertentu. Meski begitu, ia belum merinci secara pasti sumber kebocoran tersebut.

Dalam penjelasannya, Zahra menekankan bahwa kejadian seperti ini tidak hanya merugikan secara finansial. Pelaku usaha juga harus mengurus retur, mengecek stok, dan menanggung waktu yang hilang akibat paket yang gagal sampai. Ia berharap konsumen lebih jujur dan tidak menjadikan layanan COD sebagai celah untuk menipu. Menurutnya, ekosistem jual beli online hanya bisa berjalan sehat jika kedua pihak sama-sama bertanggung jawab.

Reaksi Warganet di Media Sosial

Unggahan curhatan Dyalodya telah ditonton lebih dari 54,4 ribu kali dan memicu banyak komentar dari warganet. Sebagian besar pengguna media sosial mengaku prihatin karena praktik seperti itu dinilai sangat merugikan pelaku usaha kecil. Banyak yang menilai kasus ini menjadi pengingat bahwa sistem COD membutuhkan pengawasan lebih ketat. Tidak sedikit pula yang meminta toko meningkatkan keamanan data pelanggan.

Sejumlah komentar menyinggung kemungkinan kebocoran data pribadi dan alamat penerima dari pihak tertentu. Ada warganet yang bercerita pernah mengalami kejadian serupa ketika paket yang datang bukan barang pesanannya. Warganet lain mengecam tindakan penipuan semacam itu dan menyebut pelakunya tidak bertanggung jawab. Ada juga yang menyarankan agar COD dinonaktifkan sementara demi mencegah kerugian lebih besar.

Kasus yang dialami Dyalodya memperlihatkan bahwa UMKM fesyen masih rentan terhadap penyalahgunaan sistem transaksi daring. Di satu sisi, COD memudahkan konsumen yang belum terbiasa dengan pembayaran digital. Namun di sisi lain, metode ini dapat menjadi celah jika disalahgunakan oleh oknum yang ingin merugikan penjual. Peristiwa ini menjadi pengingat penting agar pelaku usaha, kurir, dan konsumen sama-sama menjaga integritas transaksi online.

Komentar

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berkomentar!